“9 Naga” versus “9 Haji”

- Penulis

Selasa, 3 Juni 2025 - 09:26 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Dalam kancah perekonomian Indonesia, khususnya di bidang perindustrian dan perdagangan, peran konglomerat (pengusaha kelas kakap) terbilang sangat penting dan strategis. Kekuasaan konglomerat dapat memengaruhi fluktuasi perekonomian, bahkan perpolitikan.

Tidaklah mengherankan jika para konglomerat selain berkiprah di dunia bisnis, tidak sedikit pula yang merambah dan terjun ke dunia politik. Karena para konglomerat yakin, tanpa dukungan dan perlindungan politik, usaha dan perusahaannya sulit berjaya.

Jikalau merefleksi ke pemerintahan sebelumnya, terutama di masa Orde Baru di bawah kekuasaan Presiden Soeharto, para konglomerat mendapat tempat terhormat, malah melingkar di episentrum kekuasaan. Presiden Soeharto menjadikan konglomerat sebagai kroni-kroninya untuk menggerakkan roda perekonomian.

Hubungan mesra antara pemerintah dan konglomerat, tidak sedikit membuahkan petaka. Seperti kasus, terjadi berbagai skandal kredit macet bernilai triliunan, skandal korupsi, dan penyalahgunaan keuangan negara. Hal itu disebabkan pemerintah memberi lampu hijau sebagai balas budi atas jasa konglomerat.

Para konglomerat yang melingkar di pusaran kekuasaan sejak masa pemerintahan Presiden Soeharto hingga Presiden Jokowi dikenal dengan julukan “9 Naga”. “9 Naga” merujuk pada sembilan pengusaha sukses pemilik dari konglomerasi bisnis terbesar di Indonesia.

Mereka adalah Robert Hartono (BCA), Rusdi Kirana (Lion Group), Anthoni Salim (Indofood), Sofyan Wanandi (Gemala Group), Edwin Suryajaya (Astra), Dato Sri Tahir (Mayapada), Tommy Winata (Artha Graha), James Riady (Lippo Group), dan Jacob Soetojo (The Gesit Companies).

Dalam perhelatan politik lima tahunan, yaitu pemilihan legislatif dan pemilihan presiden, peranan konglomerat sangat strategis. Banyak politisi berusaha menggandeng konglomerat sebagai penopang dana kampanye. Sebab, dana kampanye membutuhkan biaya tinggi. Konglomerat sebagai penyandang dana akan berpihak pada kandidat yang memiliki kans menang.

Sebelum penghitungan suara dan penetapan pemenang, dapat dipastikan kandidat yang disokong konglomerat, apatah lagi dari konglomerat “9 Naga,” akan berpeluang menang. Uang menjadi penentu meraih suara terbanyak. Kucuran dana dari konglomerat tentu tidak diberikan secara cuma-cuma. Dalam politik, selalu terselip kepentingan.

Di era kepemimpinan Presiden Prabowo muncul sinyal, jika sepak terjang “9 Naga” semakin dibatasi. Dalam berbagai kesempatan, Presiden Prabowo dengan tegas ingin menyingkirkan oligarki hitam. Istilah oligarki hitam sepertinya mengarah kepada konglomerat kelas kakap.

Baca Juga :  Sosiologi Kurban

Andai dugaan ini benar adanya, tentu saja partisipasi para konglomerat dari oligarki hitam bakal didepak. Berbagai kasus korupsi yang terungkap menjadi perhatian Presiden Prabowo. Kebijakan pengawalan TNI terhadap institusi kejaksaan, salah satu di antara alasannya adalah adanya intimidasi, ancaman, dan teror kepada jaksa dan keluarganya.

Keakraban Presiden Prabowo dengan pengusaha batubara Syamsuddin Andi Arsyad atau yang akrab dipanggil Haji Isam merupakan pertanda kalau hati Presiden Prabowo lebih terpikat pada konglomerat putra daerah. Disinyalir kemenangan Prabowo pada pemilihan presiden tahun 2024 tidak terlepas dari campur tangan Haji Isam.

Berkaitan dengan pengalihan perhatian Presiden Prabowo ke para konglomerat pribumi, para pengamat politik dan ekonomi menafsirkan sebagai era kebangkitan para taipan daerah atau lokal dalam dunia bisnis dan politik.

Persebaran wilayah dinasti bisnis para taipan daerah atau lokal, bukan berada di sumbu kekuasaan di ibukota Jakarta, melainkan terpencar di berbagai wilayah. Para pengusaha kaya dan sukses di tingkat lokal itu, sedang santer dibicarakan dan sudah dijuluki dengan nama “9 Haji.” Nama julukan itu disematkan karena ke sembilan pengusaha daerah itu telah menyandang predikat haji.

Mereka adalah Haji Isam (PT Jhonim Baratama), Haji Kalla (Kalla Group), Haji Aksa (Bosowa Group), Haji Rasyid (Citra Borneo Indah Group), Haji Leman (PT Hasnur International Shipping), Haji Ijai (PT Batu Gunung Mulia), Haji Anif (Alam Group), Haji Robert (PT Nusa Halmahera Minerals), dan Haji Ciut.

Profil singkat bisnis mereka. Haji Isam dijuluki raja batubara dari Kalimantan Selatan. Pria asal Bone ini, selain bisnis batubara, juga kelapa sawit, biodiesel, jasa pelabuhan, rental jet pribadi.

Haji Jusuf Kalla, mantan Wakil Presiden, menguasai bisnis otomotif Toyota dan Kia, bisnis logistik, dan jasa sewa kendaraan besar. Kalla Group berkantor pusat di Kota Makassar.

Baca Juga :  Habis (dari) Merdeka Belajar Kampus Merdeka, Terbitlah (ke) Kampus Berdampak

Haji Aksa Mahmud, dengan bendera bisnis Bosowa Group, digelari Raja Semen. Selain itu, bergelut juga di bisnis otomotif Mitsubishi dan Marcedes-Benz, jasa konstruksi, dan jalan tol. Bosowa Group berdomisili di Kota Makassar.

Haji Rasyid sukses dalam bisnis industri dan perkebunan sawit di Kalimantan Tengah. Haji Leman, mendiang Abdussamad Sulaiman HB, taipan dari Kalimantan Selatan terjun di bisnis pelayaran, batubara, dan perkebunan. Sebagai penerusnya, putranya Hasnuryadi Sulaiman menggiring PT Hasnur International Shipping ke lantai bursa.

Haji Ijai atau Muhammad Zaini Maidi, sang konglomerat batubara dari Tapin Kalimantan Selatan, selain produksi juga trading batubara untuk pasar ekspor. Haji Anif, nama lengkapnya Anif Shah, pengusaha sukses perkebunan sawit di Langkat Sumatera Utara, merambah juga ke bisnis properti mewah.

Haji Robert atau Robert Nitiyudo Wachjo, pengusaha tambang emas Gosoway di Halmahera Utara dan mengakuisisi saham perusahaan di Australia. Haji Ciut atau Muhammad Hatta bergerak dalam bisnis pertambangan batubara dan properti.

Kesembilan pengusaha dari berbagai daerah itu, kini sudah dinobatkan sebagai “9 Haji” dan harus mampu membuktikan kepiawaian dalam menggeluti dunia bisnis dan politik secara bersanding agar dapat meruntuhkan dinasti “9 Naga” yang telah lama menguasai ekonomi dan politik di Indonesia.

Kekhawatiran yang kerap menghantui adalah karakter para taipan lokal atau pribumi ketika berada di puncak kejayaan menunjukkan sikap dan perilaku kemewahan hidup sehingga lupa diri akan perjuangan gigih menggapai ketenaran.

Kekhawatiran lain adalah manajemen perusahaan cenderung dikelola dengan manajemen keluarga. Banyak perusahaan pribumi bangkrut karena berebut warisan. Namun, dari gambaran profil perusahaan para taipan “9 Haji” sudah menerapkan manajemen moderen yang profesional.

Semoga “9 Haji” dapat menggeser hegemoni dan dominasi kekuasaan “9 Naga” dalam dunia ekonomi dan panggung politik sehingga marginalisasi konglomerat pribumi akan sirna. Kita berharap taipan “9 Haji” menjadi tuan rumah di negara sendiri.

Sumber: demicrazy.id, gelora.co, dan orinews.id

Makassar, 3 Juni 2025

Penulis: Anshari, Redaktur Eksekutif

Berita Terkait

Bahasa Indonesia Mendunia: Bahasa Resmi ke-10 UNESCO, Diajarkan di 57 Negara, dan Faktor Penentu Bahasa Internasional
Wawancara Doorstep dan Gaya Komunikasi Pejabat Publik
Efek Domino, Main Domino
Polisi Jujur ala Gus Dur, Jenderal Hoegeng Sosok Polisi Teladan
MSIB dan MB, Serupa Tapi Tak Sama
Mencari Kebenaran di Ruang Media Sosial
Sosiologi Kurban
Revitalisasi Muruah Pancasila

Berita Terkait

Kamis, 30 Oktober 2025 - 11:40 WIB

Bahasa Indonesia Mendunia: Bahasa Resmi ke-10 UNESCO, Diajarkan di 57 Negara, dan Faktor Penentu Bahasa Internasional

Sabtu, 20 September 2025 - 08:03 WIB

Wawancara Doorstep dan Gaya Komunikasi Pejabat Publik

Kamis, 11 September 2025 - 14:52 WIB

Efek Domino, Main Domino

Selasa, 1 Juli 2025 - 12:25 WIB

Polisi Jujur ala Gus Dur, Jenderal Hoegeng Sosok Polisi Teladan

Selasa, 17 Juni 2025 - 12:58 WIB

MSIB dan MB, Serupa Tapi Tak Sama

Berita Terbaru