KabarPROFESIANA.Co.id. Makassar– Selama ini, banyak umat Islam mengagumi karya kaligrafi Tahiyyat tanpa mengenal siapa sosok penulisnya. Kekaguman umat Islam terhadap kaligrafi Tahiyyat tidak pernah lekang oleh zaman.
Karena kekaguman itu, banyak keluarga muslim menjadikan kaligrafi Tahiyyat sebagai pajangan dekorasi di ruang tamu, menempelkan stiker di berbagai tempat, dan bahkan sebagai inspirasi untuk mengingatkan kewajiban menunaikan salat.
Dalam unggahan akun sakalijombang di Instagram, terpampang foto kaligrafi Tahiyyat dan penulisnya. Penjelasan singkat di caption mengungkap siapa penulis aslinya. Sebab, pada kaligrafi Tahiyyat tidak ada tercantum nama penulis sebagaimana pada umumnya karya kaligrafi.
Berikut penjelasan di caption akun sakalijombang :
“Mengungkap Karya Kaligrafi Tahiyyat dan Pentingnya Tauqi”
Karya kaligrafi berbentuk sosok sedang duduk Tahiyyat dalam sholat, yang berisikan lafaz syahadat ini- adalah salah satu karya paling populer di dunia Islam.
Hampir semua orang pernah melihatnya, entah sebagai stiker, dekorasi, atau inspirasi belajar khat. Tapi, tahukah kamu siapa sebenarnya penulis aslinya.
Sayangnya, karena karya ini terus disalin dan disebarkan tanpa “tauqi” (tanda tangan khas dalam kaligrafi), jejak penciptanya nyaris hilang. Padahal, dalam tradisi khat, mencantumkan tauqi, bukan sekadar identitas, tapi bentuk adab dan pertanggungjawaban keilmuan.
Hingga akhirnya ditemukan fakta penting dalam kitab “Mushowwar al-Khat al-‘Arabi” karya Naji Zainuddin. Dalam kitab itu, tercantum versi asli karya kaligrafi ini- lengkap dengan tauqi dan nama sang penulis, yaitu “Walid al-A’dzami” seorang khattat kenamaan dari Baghdad.
Penemuan ini menjadi pengingat bahwa “tauqi” bukan ornamen semata. Ia menjelaskan siapa penulisnya. Banyak karya tersebar tanpa identitas seperti “tauqi” atau pun watermark, seolah tidak ada pertanggungjawaban dari penyalinnya. Padahal, khat juga ilmu yang penuh etika dan falsafah (Sumber: IG. sakalijombang).
Dapat dibayangkan berapa royalti yang diperoleh penulis karya kaligrafi Tahiyyat karena hingga kini karya itu tersebar dan disalin ulang di seluruh dunia. Namun, yang pasti amal jahiriyah mengalir terus kepada penulis khatnya. Wallahu ‘Alam Bissawab. (Ans/Why)













