Kejujuran mengandung empat makna, yaitu kelurusan hati, ketulusan, kesesuaian (kata dan perilaku), tidak berbohong, tidak curang/culas, dan kepercayaan. Kejujuran ibarat mutu manikam.
Secara harfiah, mutu manikam berarti permata atau batu mulia yang bernilai tinggi, seperti permata dan batu akik. Frasa ini merujuk pada sesuatu yang indah, berharga, dan bernilai tinggi.
Semua profesi atau pekerjaan membutuhkan kejujuran. Istilah lain yang lazim digunakan integritas. Antonim kejujuran adalah kebohongan. Kebanyakan kejujuran bersentuhan langsung dengan harta/uang.
Setiap lembaga, organisasi, atau unit menekankan sikap dan perilaku kejujuran sehingga sistem dan mekanisme berjalan sesuai dengan jalur/koridor (on the track) dan tidak menyimpang dari norma hukum.
Fakta di depan mata, sikap dan perilaku menyimpang kerap dilakukan oleh manusia dan orang per orang (oknum) yang memiliki otoritas dan kewenangan. Bukan hanya bawahan, melainkan juga atasan.
Dalam organisasi pemerintahan, terdapat institusi atau lembaga penegak hukum yang diberi otoritas dan kekuasaan untuk menegakkan kebenaran. Salah satu di antaranya, Kepolisian Republik Indonesia, yang pada Selasa, 1 Juli 2025, diperingati sebagai Hari Bhayangkara.
Momentum peringatan Hari Kelahiran yang ke-79 tahun 2025 Korps Bhayangkara sejatinya dijadikan sebagai muhasabah di tengah berbgai kasus yang menjerat lembaga penegak keamanan dan ketertiban masyarakat ini.
Sikap dan perilaku, katakanlah “oknum” polisi dalam menjalankan tugas banyak ternodai oleh godaan uang. Tidak sedikit polisi terjebak dan terjerat dalam pusaran kasus, seperti pembunuhan, penipuan, perjudian, dan berbagai tindak kriminal.
Mantan Presiden Republik Indonesia ke-4 (20 Oktober 1999 – 23 Juli 2001, KH. Abdurrahman Wahid yang akrab disapa Gus Dur pernah menyentil sosok polisi dalam bentuk humor atau guyonan.
Gus Dur berkelakar menyatakan, hanya ada tiga polisi jujur di Indonesia: patung polisi, polisi tidur, dan Jenderal Hoegeng. Kritik Gus Dur terkait kondisi korupsi yang merajalela di kalangan pejabat, termasuk di tubuh kepolisian.
Jenderal Hoegeng yang bernama lengkap Hoegeng Iman Santoso adalah mantan Kapolri yang dikenal dengan integritas dan kejujurannya. Ia dikenal sebagai sosok yang bersih dari praktik korupsi, gratifikasi, dan suap.
Rakyat dan masyarakat Indonesia sangat merindukan perbaikan citra kepolisian. Kepolisian RI harus introspeksi dan bebenah diri untuk membersihkan para oknum aparat yang telah merusak citra kepolisian.
Kita patut mengacungi jempol ke Portal Media, detikcom yang menginisiasi pemberian penghargaan polisi teladan dengan Anugerah Hoegeng Award 2025 yang memberi penghargaan kepada para polisi teladan.
Kelima kategori polisi teladan di Korps Bhayangkara, yaitu polisi berintegritas, polisi inovatif, polisi berdedikasi, polisi pelindung perempuan dan anak, dan polisi tapal batas dan pedalaman.
Jenderal Hoegeng adalah sosok polisi teladan. Selain jujur, juga hidup sederhana. Sebagai pemimpin tertinggi di Kepolisian RI pada masa itu, berpeluang memanfaatkan fasilitas negara, tetapi secara tegas banyak yang ditolak.
Dari sumber Tribunnews.com, Aditya Soesanto Hoegeng atau Didit dari anak Jenderal Hoegeng bercerita, sosok ayahnya taat beribadah dan saleh. Setiap malam sebelum beristirahat, selalu salat dan membaca surat Yasin.
Ketika Didit bertanya kepada ayahnya, mengapa Hoegeng ketika memberi tanda tangan, tidak pernah menuliskan nama lengkapnya dengan tiga suku kata, yaitu Hoegeng Iman Santoso. Jawaban ayahnya membuat Didit merinding.
“Saya akan buktikan dulu bahwa iman saya itu betul-betul sentosa sampai saya mati, baru saya pantas pakai nama lengkap,” kata Didit menirukan jawaban sang ayah.
Selamat Hari Ulang Tahun (HUT) ke-79 tahun 2025 Bhayangkara. Semoga masyarakat tidak lagi ke Damkar (Pemadam Kebakaran), jika mengalami kasus atau masalah. Salam presisi.
Makassar, 1 Juli 2025
Penulis: Anshari, Redaktur Eksekutif













