Bahasa Indonesia Mendunia: Bahasa Resmi ke-10 UNESCO, Diajarkan di 57 Negara, dan Faktor Penentu Bahasa Internasional

- Penulis

Kamis, 30 Oktober 2025 - 11:40 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Prestise Bahasa Indonesia (BI) kian cemerlang dan melesat, kini menembus dunia internasional. Kiprah BI sangat mengagumkan di kancah flobal setelah United Nayions Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO) ditetapkan sebagai bahasa resmi (official languages) ke-10 di Sidang Umum ke-42 di Markas Besar UNESCO di Paris, Prancis pada Senin, 20 November 2025.

Dengan penetapan tersebut, BI telah digunakan secara resmi dalam konferensi umum. Adapun ke-10 bahasa resmi Sidang Umum UNESCO, yaitu enam bahasa PBB: Bahasa Inggris, Prancis, Arab, Tiongkok, Rusia, dan Spanyol serta empat bahasa lainnya: Bahasa Hindi, Italia, Portugis, dan Indonesia. Sebagai bahasa resmi (official languages) digunakan dalam komunikasi penerjemahan dokumen resmi seperti amandemen konstitusi, resolusi, dan laporan hasil sidang.

Jika tidak aral melintang, maka Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Prof. Abdul Mu’ti, Ph.D. bakal menyampaikan pidato dengan BI pada bulan November 2025 di Forum UNESCO. Untuk pertama kalinya, Abdul Mu’ti berpidato dalam BI di forum internasional. Hal ini akan semakin mengukuhkan BI sebagai bahasa untuk diplomasi budaya dan politik di percaturan dunia global.

Potret Pembelajaran BIPA di Mancanegara

Negara Indonesia telah diperhitungkan oleh berbagai negara. Karena itu, pengaruh Indonesia dalam bidang ekonomi, budaya, dan politik terutama diplomasi internasional menjdikan BI sebagai salah satu bahasa asing (bahasa kedua) yang diajarkan di berbagai belahan dunia.

Pembelajaran Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA), yaitu sebuah program untuk mengajarkan BI kepada orang asing atau penutur non-BI. Salah satu tujuan dan manfaat BIPA adalah berperan sebagai alat diplomasi untuk mempererat hubungan bilateral dengan negara lain dan memperkenalkan budaya Indonesia secara global.

Di beberapa negara, bahkan sudah menjadikan BI sebagai departemen atau jurusan di perguruan tinggi. Sampai sekarang, tercatat 57 negara memilih BI sebagai bahasa asing dan diajarkan di lembaga pendidikan formal. Berikut ini dikemukakan sekilas pembelajaran BIPA di sejumlah negara.

1. Inggris

Ada dua sekolah di London memasukkan BI sebagai mata pelajaran, yaitu Whitefield School di London Barat Laut yang mengajarkan BI di tingkat sekolah menengah dan St. Matthews CE Primary School untuk tingkat sekolah dasar.

2. Thailand

Di sejumlah universitas, seperti Chulalonghom University dan Neresuan University membuka mata kuliah pilihan BI bagi mahasiswa S-1. Bahkan, mahasiswa dan siswa berkesempatan mempelajari bahasa dan budaya Indonesia di tanah air melalui program pembelajaran BIPA.

3. Jepang

Negara Jepang menjadikan BI sebagai salah satu mata kuliah. Tokyo University of Foreign Studies menjadi salah satu universitas di negara Sakura yang menyediakan Jurusan BI. Waseda University juga menawarkan mahasiswa untuk dapat belajar BI selama satu semester.

4. Australia

University of Southern Queensland menjadikan BI sebagai program studi yang dapat diikuti mahasiswanya. Beberapa sekolah di tingkat dasar menyediakan mata pelajaran BI dan di banyak negara bagian merupakan mata pelajaran wajib. Di sekolah menengah, BI menjadi mata pelajaran pilihan.

5. Amerika Serikat

Banyak orang tertarik belajar BI di negara Paman Sam. Kampus yang memiliki program studi BI mulai dari Cornel University, University of Michigan, University of Hawaii Manoa hingga Ohio University.

Baca Juga :  UM Palopo Buka Program Magister Pedagogi-Education: Pendidikan Berkualitas Global, Berbasis Nilai Lokal

6. Korea Selatan

Perguruan tinggi asal Korea Selatan yang menyediakan program studi BI adalah Hankuk University of Foreign Studies dan Busan University of Foreign Studies. Selain itu, Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Seoul turut mendukung berbagai program pembelajaran BIPA.

7. Mesir

BI mulai diajarkan di Universitas Al-Azhar Kairo Mesir pada tahun 2016 melalui program BIPA, tahun 2019 ditetapkan menjadi bahasa pilihan kedua, dan sejak September 2025 resmi menjadi program studi penuh (Prodi Bahasa dan Sastra Indonesia) di Fakultas Bahasa dan Terjemah dengan jumlah mahasiswa sekitar 300 orang untuk angkatan pertama yang resmi memulai kuliahnya pada Oktober 2025. Sebelumnya pada tahun akademik 2024/2025 sebagai mata kuliah pilihan terdapat 51 orang mahasiswa.

Enam Faktor Bahasa Indonesia Menjadi Bahasa Internasional 

Minat global terhadap BI masih terus berkembang karena didorong oleh berbagai faktor, seperti hubungan ekonomi, diplomatik (politik), dan budaya. Namun, ada beberapa faktor penentu yang membuat BI harus menjadi bahasa internasional sebagaimana dilansir dalam sebuah artikel yang dimuat di laman kompasiana berikut ini.

Faktor pertama adalah tatabahasa atau pola kalimat dalam BI sangatlah sederhana dibandingkan dengan bahasa asing lainnya.

Subyek + Predikat + Obyek (SPO) dari pola kalimat BI sama dengan pola Bahasa Inggris dan beberapa bahasa asing di dunia, kecuali pada Bahasa Korea dan Bahasa Jepang dengan pola kalimat ‘Subyek + Obyek + Predikat (SOP) atau Bahasa Tagalok (Filipina) yang berpola ‘Predikat + Subyek + Obyek (PSO).

Hal yang membedakan hanya letak kata sifat (adjektiva) yang memberikan penjelasan pada kata benda (noun) dalam kalimat. Prinsipnya pada fungsi kata itu sendiri, Menerangkan (M) atau yang Diterangkan (D).

Misalnya, pada frasa ‘Murid Pandai’ (D-M) dan kebalikannya pada bahasa asing, seperti Bahasa Inggris ‘Smart Student’ (M-D) dan pada Bahasa Jepang, misalnya frasa ‘Gadis Cantik’ (D-M), yaitu ‘Kirei na Onna’ (M-D) yang polanya sama dengan Bahasa Inggris.

Faktor kedua adalah pelafalan dalam BI sangat mudah untuk diucapkan tanpa adanya artikulasi sengau yang ekstrim seperti halnya Bahasa Mandarin, Bahasa Prancis, dan beberapa bahasa asing lainnya dari berbagai negara di dunia. Pengucapan konsonan ‘R’ atau ‘L’ dan vokal (vouwel) seperti ‘A, I, U, E, O’ , sangatlah mudah dilafalkan oleh semua warga negara asing yang ingin belajar BI tanpa memandang gender (jenis kelamin) dan rentang usia.

Faktor ketiga dan ini sangat orang asing dalam belajar BI dengan cepat adalah TIDAK adanya Tenses (pola kalimat) dalam Grammar yang terbagi menjadi kata kerja atau kata sifat yang berpola bentuk masa lampau (past tense), masa sekarang (present tense), dan masa depan (future tense).

Bila dibandingkan dengan beberapa bahasa asing lainnya, seperti Bahasa Inggris, Jepang, Korea, Jerman, atau lainnya, kata kerja (verb) bahasa kerja mereka akan berubah sesuai dengan pola keteraturan (regular verb) dan ketidakteraturan (irregular verb).

Apalagi dalam Bahasa Jepang, baik bentuk kata kerja maupun kata sifatnya akan mengikuti pola yang lebih rumit pada perubahannya. Ada tiga (3) tingkatan kalimat yang harus diucapkan tergantung pada usia lawan bicara untuk menunjukkan tingkat kesopanan atau ketidaksopanan pembicara sebagai bentuk penghormatan.

Baca Juga :  Atribut dan Seragam Ormas Bergaya Militer, Dilarang Tetapi Dibiarkan (?)

Faktor keempat adalah sistem penulisan atau huruf yang digunakan dalam BI menggunakan huruf alfabet Romawi, seperti Aa, Bb, Cc, dan seterusnya sampai Zz termasuk dalam sistem penulisan angka, seperti 1, 2, 3, dan seterusnya yang bersifat universal serta banyak digunakan oleh negara mana pun.

Dibandingkan dengan sistem penulisan di beberapa negara ASEAN dan Asia Pasifik, seperti Negara Thailand, Kamboja, Myanmar, Laos, Bangladesh, Sri Lanka, dan India. Negara tersebut menggunakan huruf Palawa (HaNaCaRaKa) setelah melalui berbagai modifikasi dan mempunyai ciri khas tersendiri yang berbeda pada sistem penulisannya meskipun akar hurufnya sama.

Sedangkan sistem penulisan di Negara China, Korea, Taiwan, dan Jepang, mereka mempunyai akar yang sama dengan menggunakan huruf Kanji, namun berbeda pada huruf lainnya yang juga digunakan seperti Hangul, Hiragana, dan Katakana yang lebih rumit untuk menguasainya dalam waktu singkat bagi para pembelajar pemula.

Faktor kelima adalah kosakata (vocabulary) pada BI sangat mudah diingat oleh mereka yang mempelajarinya. Hal itu karena begitu banyak unsur berupa kosakata BI yang diserap dari berbagai bahasa lain, seperti Bahasa Melayu, Inggris, China, Belanda, Portugis, Sansekerta, Arab, dan lainnya.

Pembelajar pemula BI merasa sangat senang karena bila mereka mampu berbicara BI karena dapat dipastikan, mereka juga akan bisa berkomunikasi dengan mudah dengan orang dari negara Singapura, Malaysia, atau Brunai Darussalam karena akar bahasa yang sama, yaitu Bahasa Melayu.

Faktor keenam adalah BI sudah diakui sebagai satu dari sepuluh Bahasa Internasional termasuk Bahasa Inggris sebagai bahasa resmi di Konferensi Umum UNESCO pada tanggal 20 November 2023. Dampaknya, di kancah internasional, setiap negara yang hadir juga akan diwajibkan melakukan penerjemahan dokumen resmi UNESCO ke dalam BI.

Momentum di bulan Oktober 2025 yang telah ditetapkan pemerintah sebagai Bulan Bahasa dan Sastra Indonesia sejak tahun 1980. Penetapan ini berkaitan erat dengan peristiwa Sumpah Pemuda yang diperingati setiap 28 Oktober, dalam hal ini pada butir ketiga Ikrar Sumpah Pemuda yang berbunyi; “Kami Putra dan Putri Indonesia, Menjunjung Bahasa Persatuan, Bahasa Indonesia.”

Ikrar butir ketiga tersebut menjadi cikal bakal penetapan BI sebagai bahasa persatuan dan bahasa resmi. Peringatan dan perayaan Bulan Bahasa dan Sastra Indonesia setiap bulan Oktober bertujuan tidak hanya untuk mengenang Sumpah Pemuda, tetapi juga untuk membina, mengembangkan, serta memlihara semangat masyarakat dalam menangani masalah bahasa dan sastra Indonesia.

Sebagai penutup dari tulisan ini, saya mengajak kepada Anda untuk terus mengampanyekan slogan atau semboyan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa atau disingkat pula dengan nama Badan Bahasa di bawah Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, yaitu “Utamakan bahasa Indonesia, lestarikan bahasa daerah, dan kuasai bahasa asing.” Alhamdulillah, BI telah sejajar dengan bahasa internasional dan sudah menjadi bahasa asing (bahasa kedua) di 57 negara.

Makassar, 30 Oktober 2025

Penulis adalah Redaktur Eksekutif dan Ketua Umum Himpunan Pembina Bahasa Indonesia (HPBI) Wilayah Sulawesi Selatan

Berita Terkait

Wawancara Doorstep dan Gaya Komunikasi Pejabat Publik
Efek Domino, Main Domino
Polisi Jujur ala Gus Dur, Jenderal Hoegeng Sosok Polisi Teladan
MSIB dan MB, Serupa Tapi Tak Sama
Mencari Kebenaran di Ruang Media Sosial
Sosiologi Kurban
“9 Naga” versus “9 Haji”
Revitalisasi Muruah Pancasila

Berita Terkait

Kamis, 30 Oktober 2025 - 11:40 WIB

Bahasa Indonesia Mendunia: Bahasa Resmi ke-10 UNESCO, Diajarkan di 57 Negara, dan Faktor Penentu Bahasa Internasional

Sabtu, 20 September 2025 - 08:03 WIB

Wawancara Doorstep dan Gaya Komunikasi Pejabat Publik

Kamis, 11 September 2025 - 14:52 WIB

Efek Domino, Main Domino

Selasa, 1 Juli 2025 - 12:25 WIB

Polisi Jujur ala Gus Dur, Jenderal Hoegeng Sosok Polisi Teladan

Selasa, 17 Juni 2025 - 12:58 WIB

MSIB dan MB, Serupa Tapi Tak Sama

Berita Terbaru