KabarPROFESIANA.co.id- Makassar. Suasana belajar yang seru tampak di SD Inpres Hartaco Indah, Kota Makassar, pada Jumat, 16 Mei 2025. Para siswa tampak antusias mengikuti kegiatan pembelajaran berbasis model STEAM (Science, Technology, Engineering, Arts, and Mathematics) dengan tema utama mendaur ulang sampah plastik. Kegiatan ini mengajak siswa untuk menyulap galon sekali pakai menjadi pot tanaman yang cantik dan fungsional, sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan.
Kegiatan ini merupakan bagian dari program edukatif yang digagas oleh Tim Peneliti Universitas Negeri Makassar (UNM) yang diketuai oleh Prof. Dr. Ir. M. Ichsan Ali, M.T, bersama anggota tim yaitu Asri Ismail, M.Pd dan Nurfadila MY, S.Pd., M.Pd., Gr. Mereka juga melibatkan beberapa mahasiswa UNM yang turut mendampingi dan membimbing siswa, yakni Muh. Nur Fajar Arsyad, S.Pd, Gr, M. Ihsani Dwi Afdal, dan Rahmat Fauzan Israil.
Dengan pendekatan pembelajaran model STEAM, siswa tidak hanya belajar teori tetapi langsung mempraktikkan keterampilan yang berkaitan dengan pemecahan masalah lingkungan hidup. Para siswa belajar mengenali jenis sampah, proses daur ulang, serta bagaimana mengubah barang tidak terpakai menjadi produk yang bernilai guna dan estetika. Aktivitas ini sekaligus menanamkan kesadaran tentang pentingnya menjaga lingkungan sejak usia dini.
“Saya sangat tertarik dengan pembelajaran Model STEAM ini karena membuat siswa aktif khususnya pada tema lingkungan hidup ini siswa juga mampu memahami cara untuk mengatasi problem lingkungan” ungkap Ibu Sri Rahayu PM, S.Pd., Gr, salah satu guru di SDI Hartaco Indah. Ia menambahkan bahwa para siswa tampak sangat bersemangat dan menikmati proses belajar yang tidak biasa ini. Ia juga mengucapkan terima kasih kepada para dosen dan mahasiswa UNM atas inisiatif luar biasa ini.
Kegiatan ini menjadi bukti nyata bahwa ecoliteracy atau kemampuan memahami dan peduli terhadap lingkungan dapat ditanamkan sejak dini melalui metode belajar yang menyenangkan dan aplikatif. Harapannya, kegiatan semacam ini bisa terus berlanjut dan menjadi inspirasi bagi sekolah lain dalam mengintegrasikan pembelajaran lingkungan hidup ke dalam kurikulum sekolah. (Ahyar-Why)













