Kabar PROFESIANA.co.id, Luwu Timur– Dalam upaya menumbuhkan minat baca sejak usia dini, Dosen Universitas Muhammadiyah Palopo, Harmita Sari, M.Pd., Ph.D., bersama mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Posko 1 Desa Lauwo, Kecamatan Burau, Kabupaten Luwu Timur, melaksanakan program pengabdian masyarakat bertajuk “Budaya Literasi Melalui Membaca Buku Cerita Setiap Hari”. Kegiatan ini dilaksanakan selama dua hari pada 11–12 Mei 2025 dan diikuti sekitar 60 siswa SD kelas 1 dan 2.
Di tengah arus deras digitalisasi dan ketergantungan anak-anak pada gawai, program ini hadir sebagai bentuk kampanye literasi untuk menjadikan membaca sebagai kegiatan menyenangkan dan bernilai edukatif. “Budaya literasi bukan hanya membaca dan menulis, tetapi juga membangun pemahaman, imajinasi, dan kepekaan sosial,” jelas Harmita Sari dalam pembukaan kegiatan.
Belajar di Ruang Terbuka: Suasana Baru untuk Anak
Program literasi ini dilaksanakan di aula kantor Desa Lauwo yang berkonsep outdoor. Anak-anak terlihat antusias mengikuti sesi membaca cerita yang dipandu oleh mahasiswa. Beberapa anak bahkan aktif menanggapi cerita dan menyampaikan kesan mereka terhadap tokoh-tokoh dalam buku.
“Biasanya mereka lebih banyak pegang HP di rumah. Tapi hari ini, mereka semangat sekali mendengar cerita dan malah minta dibacakan lagi. Ini sangat menggembirakan,” ujar salah satu orang tua siswa.
Kegiatan ini juga melibatkan guru-guru dari sekolah setempat yang turut hadir dan memantau perkembangan anak-anak selama kegiatan berlangsung.
“Kami sangat mengapresiasi kegiatan ini. Anak-anak jadi terpapar lebih banyak kosakata dan terbiasa mendengarkan dengan fokus. Ini sangat membantu pembelajaran mereka di kelas,” ungkap salah satu guru kelas 2 SD di Desa Lauwo.
Sinergi Orang Tua dan Mahasiswa: Literasi sebagai Gerakan Sosial
Tidak hanya menyasar anak-anak, kegiatan ini juga memberikan pemahaman kepada orang tua tentang pentingnya peran mereka dalam menumbuhkan kebiasaan membaca di rumah. Sosialisasi ringan disampaikan di sela kegiatan untuk mendorong orang tua menyediakan waktu membaca bersama anak dan membatasi penggunaan gadget secara bijak.
Pendampingan juga diberikan oleh mahasiswa KKN secara langsung, membantu anak memahami cerita, memperkenalkan kosakata baru, dan mengajak mereka berdiskusi ringan.
Evaluasi dan Apresiasi
Di akhir kegiatan, dilakukan evaluasi sederhana untuk melihat perubahan antusiasme anak terhadap membaca. Anak-anak yang aktif dan menunjukkan ketertarikan khusus diberikan apresiasi berupa buku cerita, alat tulis, dan makanan ringan bergizi.
“Melalui cerita, anak-anak tidak hanya belajar kata-kata, tapi juga belajar memahami nilai dan perasaan. Ini penting untuk membentuk empati dan karakter mereka,” tambah Harmita.
Kesimpulan: Literasi sebagai Fondasi Masa Depan
Program ini menjadi pengingat bahwa di tengah tantangan era digital, minat baca tetap bisa ditumbuhkan melalui pendekatan yang kreatif dan menyenangkan. Membaca buku cerita setiap hari merupakan langkah kecil dengan dampak besar bagi perkembangan anak, baik secara intelektual maupun emosional.
Dengan sinergi antara kampus, masyarakat, guru, dan orang tua, diharapkan budaya literasi dapat tumbuh subur di Desa Lauwo dan menjadi contoh inspiratif bagi wilayah lainnya. Generasi yang cerdas dan berkarakter lahir dari kebiasaan-kebiasaan baik yang ditanamkan sejak dini—dan membaca adalah salah satunya.(Ans)













