MAJENE, SULAWESI BARAT (Kabar PROFESIANA.co.id) – Ruang guru SD Negeri 20 Rangas, Kabupaten Majene, dipenuhi semangat baru ketika Tim Dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Sulawesi Barat (Unsulbar) hadir untuk melaksanakan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) bertema Digital Literacy for Lifelong Learning: Pelatihan Literasi Digital untuk Membentuk Siswa Sekolah Dasar yang Kritis, Kreatif, dan Adaptif.
Kegiatan yang didukung pendanaan DIPA Unsulbar Tahun Anggaran 2025 ini melibatkan 26 guru sekolah dasar sebagai peserta aktif. Pelatihan berlangsung dalam dua tahap, yakni sesi tatap muka pada Senin, 11 Agustus 2025, dan sesi daring pada Rabu, 13 Agustus 2025.
Tim pelaksana terdiri dari Dr. Evy Segarawati Ampry, S.Pd., M.Pd. sebagai ketua, bersama anggota *Dr. Nur Aisyah Humairah, S.Si., M.Pd. dan Asmirinda Resa, M.Pd. Mereka membawakan materi mulai dari konsep literasi digital, strategi pembelajaran berbasis teknologi, pemanfaatan platform digital untuk asesmen, hingga praktik pembuatan media pembelajaran interaktif.
Dalam pembukaan kegiatan, Dr. Evy Segarawati Ampry, menekankan bahwa literasi digital adalah keterampilan yang wajib dimiliki guru di era modern. “Teknologi hanyalah alat. Kuncinya adalah kemampuan kita memahami dan mengelola informasi secara bijak. Guru yang melek digital akan mampu menuntun siswa menjadi generasi kritis, kreatif, dan adaptif, tanpa meninggalkan nilai-nilai lokal,” tegasnya.
Dr. Nur Aisyah Humairah menambahkan bahwa penguasaan literasi digital harus diimbangi dengan kreativitas. *“Kami ingin guru menjadi pencipta konten pembelajaran yang inovatif, bukan hanya pengguna teknologi,”ujarnya.
Sementara itu, Kepala SD Negeri 20 Rangas menyampaikan apresiasi atas kontribusi FKIP Unsulbar dalam mendukung peningkatan mutu pendidikan di daerah. *“Pelatihan ini memberi guru wawasan baru yang langsung bisa diterapkan di kelas. Kami berharap program seperti ini bisa terus berlanjut,”tuturnya.
Kegiatan ditutup dengan penyerahan sertifikat kepada peserta dan sesi foto bersama. Para guru meninggalkan ruangan dengan membawa komitmen untuk mempraktikkan ilmu yang didapat, demi menghadirkan pembelajaran yang lebih inspiratif, interaktif, dan relevan dengan perkembangan zaman. (Rls/Ans/Why)













