Habis (dari) Merdeka Belajar Kampus Merdeka, Terbitlah (ke) Kampus Berdampak

- Penulis

Jumat, 9 Mei 2025 - 18:53 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kabar PROFESIANA.co.id, Makassar – Program Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, Nadiem Makarim yang menjabat 2019-2024, yaitu Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) didasarkan cita-cita Ki Hajar Dewantara untuk menuntun bakat, minat, dan potensi anak dalam pembelajaran.

Kebijakan MBKM adalah program yang memberikan seluruh mahasiswa kesempatan mengasah kemampuan sesuai dengan bakat dan minat dengan terjun langsung ke dunia kerja sebagai langkah persiapan karier.

Program MBKM memungkinkan mahasiswa mendapatkan pengalaman belajar di luar kelas, seperti Pertukaran Mahasiswa Merdeka, Magang Bersertifikat, Indonesian International Student Mobility Awards (IISMA), Program Kampus Mengajar, Program Wirausaha, Proyek Kemanusiaan, Riset atau Penelitian, dan Membangun Desa (KKN Tematik).

Berganti menteri, berganti kebijakan. Begitu adagium masyarakat terhadap fenomena perubahan kebijakan menteri. Kebijakan MBKM telah tamat dan diganti kebijakan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi dengan nama Kampus Berdampak (KB)

Baca Juga :  Efek Domino, Main Domino

Definisi KB adalah tata kelola kampus yang berorientasi pada kontribusi nyata terhadap pembangunan nasional melalui implementasi Tridharma Perguruan Tinggi.

Lima dasar kebijakan KB, yaitu pertama, memperkuat filosofi tridharma perguruan tinggi yang telah menjadi nilai dasar perguruan tinggi di Indonesia: pengajaran berdampak pada kualitas dan relevansi lulusan, penelitian yang berdampak pada masyarakat industri, pengabdian yang berdampak pada kemajuan bangsa.

Kedua, menyambut pergeseran paradigma perguruan tinggi generasi keempat dituntut merespon isu sosial.

Ketiga, merespon Unesco tentang pendidikan dan sains sebagai kontrak sosial, yaitu pendidikan merupakan tanggung jawab bersama (keterlibatan berbagai stakeholders) dan pendidikan menyelesaikan masalah bersama (krisis iklim, perdamaian, teknologi industri, dan lainnya.

Baca Juga :  Polisi Jujur ala Gus Dur, Jenderal Hoegeng Sosok Polisi Teladan

Keempat, recreating dan recontextualis konsep innopreneurship perguruan tinggi dan lembaga riset. Riset dan perguruan tinggi tidak hanya berfokus pada manfaat nilai bisnis semata, tetapi juga manfaat langsung bagi masyarakat luas, mulai dari perekonomian dan kebudayaan.

Kelima, menghargai diversifikasi antara theoretical scholarship, craft scholarship, integrative scholarship, dan clinical scholarship dan memperkuat kolaborasi keempatnya.

Menteri Brian Yulianto ingin menghadirkan konsep Universitas 4.0 (Generasi 4.0) atau PT Gen.4.0 dengan konsep respon terhadap dunia digital dan teknologi. Berfokus pada dampak sosial, inovasi inklusif dan keberlanjutan. Model Quadraple-helix: tambahkan masyarakat ke dalam kolaborasi.

Penulis : Anshari Redaktur Eksekutif

Berita Terkait

Bahasa Indonesia Mendunia: Bahasa Resmi ke-10 UNESCO, Diajarkan di 57 Negara, dan Faktor Penentu Bahasa Internasional
Wawancara Doorstep dan Gaya Komunikasi Pejabat Publik
Efek Domino, Main Domino
Polisi Jujur ala Gus Dur, Jenderal Hoegeng Sosok Polisi Teladan
MSIB dan MB, Serupa Tapi Tak Sama
Mencari Kebenaran di Ruang Media Sosial
Sosiologi Kurban
“9 Naga” versus “9 Haji”

Berita Terkait

Kamis, 30 Oktober 2025 - 11:40 WIB

Bahasa Indonesia Mendunia: Bahasa Resmi ke-10 UNESCO, Diajarkan di 57 Negara, dan Faktor Penentu Bahasa Internasional

Sabtu, 20 September 2025 - 08:03 WIB

Wawancara Doorstep dan Gaya Komunikasi Pejabat Publik

Kamis, 11 September 2025 - 14:52 WIB

Efek Domino, Main Domino

Selasa, 1 Juli 2025 - 12:25 WIB

Polisi Jujur ala Gus Dur, Jenderal Hoegeng Sosok Polisi Teladan

Selasa, 17 Juni 2025 - 12:58 WIB

MSIB dan MB, Serupa Tapi Tak Sama

Berita Terbaru