MAKASSAR, SULAWESI SELATAN (KabarPROFESIANA.co.id)– Kalau kita cermati dengan seksama, di Sulawesi Selatan, masyarakat Bugis–Makassar memiliki khazanah nilai yang kaya, salah satunya Kuru Sumange.
Ungkapan ini lazim dimaknai sebagai doa kebaikan dan penguatan semangat/jiwa yang meneguhkan, sekaligus ekspresi terima kasih dan harapan baik. Praktik dan maknanya sejalan dengan etos sopan santun, penghormatan kepada orang tua, dan harmoni sosial berupa nilai yang selaras dengan tujuan pendidikan karakter.
Ketika hal itu dikaitkan dengan pesatnya era digitalisasi internet, justru memberikan pengaruh tergerusnya kearifan lokal dan lebih memuja budaya luar yang lagi populer sehingga menjadi ancaman bagi pendidikan moral dan karakter generasi muda kini.
Melalui kegiatan Program Kemitraan Masyarakat (PKM), yang didukung Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M) Universitas Negeri Makassar, Dosen Fakultas Seni dan Desain UNM menawarkan cara kreatif untuk memberikan pemahaman kearifan lokal yang perlu diajarkan sejak dini kepada anak-anak generasi muda.
Kegiatan pengabdian masyarakat dengan ini mengusung judul “PKM Literasi Kearifan Lokal Kuru Sumange dalam Kegiatan Mewarnai Gambar di SD Inpres Mallengkeri Kota Makassar” , dilaksanakan pada Jumat 25 Juli 2025.
Pelaksanaan kegiatan mewarnai gambar dilakukan di depan peserta didik yang menjadi peserta pengabdian sebanyak 30 orang siswa/i kelas 3B UPT SPF SD Inpres Mallengkeri Bertingkat. Sebelum masuk ke acara inti yaitu kegiatan mewarnai, acara diawali dengan sambutan-sambutan, acara dipandu oleh Wali Kelas 3B, Ibu Nurmiati.
Sambutan pertama disampaikan oleh Kepala Sekolah, Hj. Rosmiati, S.Pd.sekaligus menjadi tuan rumah pelaksanaan kegiatan pengabdian untuk menerima tim pengabdi UNM yang terdiri dari 2 dosen yaitu Prof. Dr. H. Abd. Aziz Ahmad, M.Pd. (Ketua Pengabdi) dan Baso Indra Wijaya Aziz, S.Sn.,M.Sn. (anggota) serta didampingi oleh 2 mahasiswa yaitu Muhammad Riandy AS dan Jasmin Savitri Sakkir. Sambutan selanjutnya oleh ketua tim pengabdi.
Prof. Dr. H. Abd. Aziz Ahmad, M.Pd. menyampaikan gambaran umum kegiatan yang akan dilakukan. Dalam sambutan ini disampaikan pengantar berupa apersepsi nilai Kuru Sumange yang menjadi penguatan semangat bagi peserta didik yang perlu ditanamkan sejak dini.
Setelah itu, anggota pengabdi memberikan demonstrasi teknik dalam mewarnai gambar. Baso Indra Wijaya Aziz, S.Sn., memberikan materi teknis untuk mewarnai gambar antara lain bagaimana memahami urut-urutan pewarnaan baik menggunakan pensi warna ataupun pastel. Saat menggariskan warna dilakukan dengan tarikan yang tegas.
Memilih warna untuk menciptakan gradasi dengan cara membuat perpaduan warna gelap dan warna terang sehingga dapat menghasilkan dimensi. Ini dapat diterapkan saat membuat gradasi langit. Dalam proses mewarnai gambar perlu dilakukan dengan teliti dan memperhatikan garis agar tidak melenceng pada bidang yang lain.
Para peserta didik kemudian dibagikan kertas gambar oleh 2 mahasiswa/i pendamping yang sudah siap untuk diwarnai. Semua anak telah membawa masing-masing perlengkapan mewarnai berupa pensil warna atau pastel dan meja gambarnya. Semua peserta didik telah mempersiapkan sebelumnya karena informasi ini telah disampaikan beberapa hari sebelum kegiatan pengabdian ini dilakukan.
Pemilihan waktu memang sengaja disamakan dengan jadwal Mata Pelajaran Seni Budaya agar memudahkan para siswa. Waktu yang diberikan dalam kegiatan mewarnai gambar ini yaitu selama 45 menit dan telah mempertimbangkan waktu yang dianggap ideal bagi para peserta didik untuk menyelesaikan mewarnai gambar pada bidang kertas yang berukuran A4.
Sembari mewarnai gambar para peserta didik dibagikan minuman dan snack untuk membuat suasana lebih santai dan nyaman. Hal ini membuat perasaan para peserta didik merasa senang dan bersungguh-sungguh menyelesaikan mewarnai gambarnya. Bagi yang sudah selesai bisa melambaikan tangan ke mahasiswa pendamping, guru, dosen pengabdi, ataupun menghampiri ke depan untuk menyerahkan hasil karyanya. Karya yang disetorkan kemudian di cek kembali untuk nama peserta didik jangan sampai ada yang lupa menuliskan namanya.
Semua karya yang terkumpul kemudian dijejerkan secara serentak kemudian dilakukan penilaian bersama tim pengabdi dan kemudian dipilih 3 terbaik. Para pemenang kemudian dipersilahkan maju ke depan untuk diberikan sertifikat dan hadiah. Mereka juga ditanyai tentang alasan memilih warna-warna yang dipakai mewarnai gambar.
Kesempatan ini sekaligus digunakan untuk menanyakan tindakan kecil baik di sekolah maupun di rumah yang dapat menjadi refleksi nilai-nilai kuru sumange dalam kehidupan sehari-hari. Penghargaan berupa sertifikat dari yang ditandatangani Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Negeri Makassar, Prof. Dr. Jamilah, M.Sn. diberikan kepada Kepala Sekolah UPT SPF SD Inpres Mallengkeri Bertingkat dan semua peserta didik yang ikut dalam kegiatan pengabdian ini diberikan sertifikat dan bingkisan kecil kepada para semua peserta didik untuk dibawa pulang.
Kegiatan pengabdian yang mengintegrasikan nilai Kuru Sumange ke dalam aktivitas mewarnai untuk siswa kelas 3B SD Inpres Mallengkeri Bertingkat berhasil mencapai tujuan utama penguatan literasi budaya sekaligus pengembangan karakter dasar melalui pengalaman seni yang kontekstual.
Dampak positif juga dirasakan guru berupa model pembelajaran seni berbasis budaya yang replikatif, rendah biaya, mudah diintegrasikan ke agenda kelas, dan berpotensi diperluas menjadi pameran karya mini untuk membangun kebanggaan budaya komunitas sekolah. (Why/Ans)













