Makassar, Kabar PROFESIONA,co,id:
Di tengah hujan deras, terdapat sebuah ketenangan yang lahir dari tindakan-tindakan kecil penuh makna. Setidaknya sejumlah keluarga dhuafa—sebutan untuk orang orang yang berhak menerima bantuan, di Kecamatan Rappocini disambangi Pengurus Dewan Pengurus Pusat (DPP) Elang Timur Indonesia. Keluarga dhuafa itu menerima bantuan berupa sembako dan uang tunai.
Bantuan yang diserahkan Ketua DPP Elang Timur Indonesia diwakili Ketua Kecamatan Rappocini, Faris itu membuat penerima tersenyum bahagia. Itu terlihat, ketika kota ini diguyur hujan– bukan sekadar rintik yang malu-malu, melainkan lebat, hingga seakan ingin menyapu segala yang berdiri di atas tanah. Langit gelap, jalanpun becek. Di sini duduk seorang nenek meski terlihat menggigil, namun tetap melempar senyum. Peristiwa yang seakan tak terdokumentasi kamera dan berita berita di media sosial ini menjadi menarik bagi jajaran Elang Timur Indonesia.
“Maaf, kami dari Ormas Elang Timur Indonesia, mau menyerahkan bantuan ini untuk nenek. Tapi sebelumnya, kami juga menyampaikan salam hormat dari Ketua Umum DPP Elang Timur Indonesia kepada nenek. Dan, ini ada beras, minyak goreng, terigu, mie, dan lain lain. Ini juga ada uang,” tutur Faris, sambil menyerahkan bantuan tersebut.
Mendengar ungkapan Faris, nenek yang sudah ditinggal pergi suami selamanya, beberapa tahun silam itu pun menyampaikan terima kasih. Malah, saat menerima bantuan tersebut, wajah nenek ini memerah, hingga terlihat kerutan di seluruh wajahnya. Air matanya nyaris membasahi kedua belahan pipinya.
“Saya tidak bisa membalas apa apa nak, kecuali menyampaikan terima kasih dan rasa syukur. Sebenarnya saya duduk di sini seraya mengharapkan ada uluran tangan. Tetapi, untunglah, tiba tiba ada bantuan dari Elang Timur Indonesia ini. Sampaikan salam hormat saya kepada jajaran Elang Timur Indonesia. Bantuan ini saya terima dengan senang hati,” tuturnya, sambil mengusap wajahnya.
Tak jauh dari lokasi pertama, Ketua Elang Timur Indonesia dan rekan rekannya juga mendatangi rumah lainnya, untuk menyerahkan bantuan serupa.
Usai menyerahkan bantuan, Fairus mengakui, jajaran Elang Timur Indonesia adalah, orang-orang yang tidak pernah menyerah dalam kondisi apapun. Buktinya, meski diguyur hujan yang lebat, hari ini dirinya bersama rekan rekannya menyerahkan bantuan.
“Sebenarnya, kami di Elang Timur Indonesia ini tidak sekadar membawa bantuan fisik, atau bukan pula soal materi, melainkan kehadiran kami sekaligus melihat kondisi ekonomi kaum dhuafa. Dan, yang lebih penting lagi, kami sedang membangun jaring kepercayaan kepada masyarakat yang betul betul membutuhkan bantuan,” tutur Faris mengenakan rompi hitam bertulis Elang Timur Indonesia di bagian belakang sambil melangkah perlahan tapi pasti di atas genangan air.
Dikonfirmasi terpisah, Ketua DPP Elang Timur Indonesia, Imran, SE mengemukakan, Ormas yang mulai berkiprah pada bulan sumpah Pemuda—Oktober 2025 itu, tidak hanya menyerahkan bantuan, namun membersamai penerima, mendengar keluhan, sekaligus menyimak keluh kesah mereka.
“Kami melihat, dalam keseharian nenek ini biasanya duduk sendiri, dan sesekali termenung. Makanya hari ini kami datang untuk menyerahkan bantuan ini, sekaligus bercakap dengan beliau,” tuturnya, seraya menambahkan, semoga kebaikan ini terbang jauh, seperti elang di ufuk timur, membawa cahaya bagi yang kini masih dalam ‘gelap’.
Sarjana ekonomi UVRI Makassar itu percaya bahwa, kekuatan sebuah organisasi massa tidak diukur dari kemewahan, atau apa yang dimiliki, melainkan dilihat dari seberapa besar perhatian, dan menjaga antarsesama.
Karena itulah, kedatangan jajartan Elang Timur Indenesia dalam memberikan bantuan, apapun itu, tidak dengan sorak sorai, melainkan mereka datang diam-diam, mengemban kardus berisi sembako. Mereka menyusuri gang sempit di kawasan Rappocini, tempat hunian semi-gubuk yang termakan usia, dengan dinding yang mulai lapuk. Di sini tinggal penghuni yang sehari-harinya berjuang melawan kemiskinan, kesepian, dan diskriminasi sosial yang sering kali tak terlihat.
“Perlu diingat bahwa, kelahiran Ormas Elang Timur Indonesia di antaranya untuk menjaga satu sama lain. Elang Timur lahir dari semangat kemanusiaan—semangat kebersamaan, semangat kegotong royongan, sekaligus semangat akan cinta terhadap sesama manusia,” urainya.
Di bagian lain, pria kelahiran 1985 itu menambahkan, di tengah bayang-bayang ketimpangan sosial yang masih membayang bayangi kota berpenduduk lebih 1,5 juta jiwa ini, makanya Ormas Elang Timur Indonesia yang bermarkas di Makassar menjadi simbol bahwa, perubahan bisa dimulai dari hal sederhana. Perubahan bisa dicapai melalui ketulusan, kerelaan berbagi, dan keyakinan bahwa setiap manusia layak hidup dengan martabat.
Sebelum mengakhiri pernyataannya, Imran mengemukakan, meskin membutuhkan bantuan, namun kaum dhuafa juga perlu dijaga kehormatannya. “Kita perlu ketahui bahwa, bantuan yang diberikan Elang Timur Indonesia selain menjadi tanggung jawab moral, tetapi juga merupakan prinsip dasar dari kemanusiaan itu sendiri,” tutupnya. (ozan)













