Dalam Al-Quran, terdapat beberapa surah sebagai dasar perintah menunaikan ibadah kurban, di antaranya surah Al-Kautsar, Ayat 2 berbunyi: ” Fa shalli lirabbika wa inhar,” artinya: “Maka dirikanlah salat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah.”
Asbabun nuzul diturunkannya wahyu dalam surah Al-Kautsar adalah ketika Nabi Muhammad Saw. dirundung kesedihan karena dua orang (Siti Khadijah dan Abu Thalib) yang dicintainya meninggal dunia. Surah Al-Kautsar sebagai penenang hatinya dan pengingat akan keberlimpahan nikmat Allah Swt.
Perintah berkurban adalah ibadah sunah yang sangat dianjurkan bagi umat Islam. Kurban adalah medan ujian ketakwaan dan keimanan seorang muslim, sebagaimana kisah Nabi Ibrahim as. yang diperintahkan menyembelih putra kesayangannya Nabi Ismail as.
Ketakwaan dan keimanan Nabi Ibrahim as. atas perintah Allah Swt. dilakukan tanpa penolakan. Dengan keikhlasan tinggi, tanpa tedeng aling-aling, Nabi Ibrahim as. segera mengeksekusi. Nabi Ismail as. sebagai sosok anak saleh, bahkan mendukung sikap bapaknya segera memenuhi perintah Allah Swt. Berkat keikhlasan dan pengorbanan Nabi Ibrahim as., Nabi Ismail as. tergantikan dengan seekor kibas.
Peristiwa di atas dinukilkan dalam surah As-Saffat, Ayat 102, terjemahan artinya: …, ia (Ibrahim) berkata, “Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Pikirkanlah apa pendapatmu?” Dia (Ismail) menjawab, “Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu in syaa Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang sabar.”
Dalam beberapa hadits, terdapat perintah berkurban, di antaranya, Rasulullah Saw. bersabda, artinya: “Saya diperintahkan menyembelih kurban dan kurban itu sunnah bagi kamu.” (HR At-Tarmizi). Hadits lain berbunyi, artinya: “Hai manusia, sesungguhnya atas tiap-tiap ahli rumah pada tiap-tiap tahun disunahkan berkurban.” (HR Abu Dawud).
Kurban selain sebagai ibadah ritual (dimensi religius), juga sebagai ibadah sosial (dimensi sosiologis). Dalam perspektif sosiologi, berkaitan dengan hubungan sesama manusia, ibadah kurban berdampak positif mempererat tali silaturahim, persaudaraan, dan ukhuwah islamiyah.
Secara sosiologis, ibadah kurban dapat memotivasi umat Islam memiliki kepdeluan dan berbagi rezeki dengan sesama manusia, terutama kepada kaum dhuafa fakir miskin. Pembagian daging kurban menjadi bukti bahwa Islam mendorong umatnya peduli terhadap sesama.
Dimensi sosial lain yang muncul dari ibadah kurban adalah peneguhan prinsip keadilan sosial. Artinya, jurang kesenjangan antara orang kaya dan orang miskin tidak terlalu jauh. Orang kaya didorong agar ikhlas mendermakan sebagian hartanya kepada fakir miskin melalui semangat pengorbanan.
Dari hikmah ibadah kurban, akan memunculkan nilai-nilai kemanusiaan, berupa persaudaraan, solidaritas, dan sikap empati kepada sesama manusia. Kurban dapat dijadikan media mempererat ukhuwah islamiyah. Kurban juga dapat mengajarkan bagaimana merasakan penderitaan orang kain sehingga mendorong keikhlasan berbagi rezeki.
Kalimat bijak patut direnungkan, “Jangan tunggu berlebih untuk berbagi. Karena keberkahan itu datang saat kita memberi di saat sulit.” dan “Semoga semangat berkurban menjadi jalan untuk lebih dekat kepada Allah Swt. (hablum minanallah) dan lebih peduli kepada sesama (hablum minannas).”
Makassar, 7 Juni 2025
Penulis: Anshari, Redaktur Eksekutif













