JAKARTA, INDONESIA (Kabar PROFESIANA.co.id) — Hari kedua Kegiatan Forum Diskusi Terpumpun (FDT) Riset Edukasi Ekologis Tradisional dalam Karya Sastra Sinrilik yang dilaksanakan Organisasi Riset Arkeologi, Bahasa, dan Sastra pada Pusat Riset Bahasa, Sastra, dan Komunitas, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) pada Selasa, 2 Desember 2025, di Ruang Rapat Lantai 5 Gedung BRIN Jakarta Pusat menghadirkan akademisi sekaligus praktisi seni budaya Makassar.
Dr. Azis Nojeng, S.Pd. M.Pd. yang akrab disapa Nojeng Comel mengabdi sebagai dosen Fakultas Bahasa dan Sastra (FBS) Universitas Negeri Makassar (UNM). Ia bertindak narasumber dengan topik materi “Sinrilik dalam Relasinya dengan Kehidupan Masyarakat Makassar.” Materi ini diharapkan memberi wawasan dan penguatan atas riset yang dilakukan tim peneliti Pusat Riset Bahasa, Sastra, dan Komunitas yang diketuai Muh. Ridwan, S.Pd., M.Pd.
Azis Nojeng menjelaskan bahwa secara historis, sinrilik berkembang sejak masa kerajaan di Sulawesi Selatan, khususnya Kerajaan Gowa. Para pasinrilik (pelantun/penutur) menjadikan sinrilik sebagai cara untuk merekam kisah heroik para tokoh lokal, peperangan, hubungan antarkerajaan, hingga legenda kuno.
Ada dua nikai utama sinrilik dalam kehidupan masyarakat Makassar, yaitu sirik (harga diri dan kehormatan) dan pacce (solidaritas dan empati). Harga diri atau kehormatan merupakan hal fundamental dalam menentukan moral seseorang, sementara solidaritas dan empati sangat penting dalam hidup bermasyarakat,” tegas penyiar Radio Gamasi FM Makassar.
Ia menggarisbawahi bahwa sinrilik terkadang dijadikan alat atau media penghubung antara raja dan rakyat. Ia mencontohkan, melalui pertunjukan sinrilik, pasinrilik akan menyisipkan pesan atau himbauan raja kepada rakyatnya agar membayar pajak.
“Arus modernisasi, perkembangan teknologi, dan gaya hidup urban membawa tantangan bagi keberlangsungan sinrilik. Generasi muda cenderung lebih tertarik pada budaya populer global sehingga minat terhadap tradisi lisan menurun,” ungkapnya prihatin.
Karena itu, harapnya, sinrilik harus beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan perubahan sosial yang terjadi. Materi cerita sinrilik hendaknya menyentuh kebutuhan masyarakat, terutama kalangan generasi muda. Pemerintah harus proaktif memberi ruang bagi pembinaan dan pengembangan sinrilik.
FDT dihadiri narasumber, yaitu Prof.Dr. Anshari, M.Hum. dan Dr. Azis Nojeng, S.Pd., M.Pd., serta tim peneliti dari Pusat Riset Bahasa, Sastra, dan Komunitas, yaitu Muh. Ridwan, S.Pd., M.Pd., Dr. Usman, S.Pd. M.Pd., Yeni Yulianti, M.A., Efe di, S.Pd., M.Pd., Rahma, S.Pd., M.Pd., dan Dr. Andi Besse, S.Pd., M.Pd. (Ans/Why)













