Setiap 20 Mei, bangsa Indonesia memperingati Hari Kebangkitan Nasional sebagai penanda dimulainya kesadaran kolektif membangun bangsa yang merdeka dan berdaulat. Momentum ini sejatinya tidak hanya menjadi agenda seremonial tahunan, tetapi juga menjadi saat yang tepat untuk merefleksikan arah dan kualitas kebangkitan kita hari ini, khususnya dalam bidang pendidikan.
Pendidikan merupakan jantung dari kebangkitan. Tanpa transformasi pendidikan yang bermakna, kebangkitan hanya menjadi slogan kosong. Namun, tantangan pendidikan hari ini semakin kompleks. Di satu sisi, kita dihadapkan pada derasnya digitalisasi yang mengubah cara belajar, berinteraksi, dan memahami dunia. Di sisi lain, kita juga menyaksikan lunturnya nilai-nilai budaya lokal yang semestinya menjadi fondasi karakter bangsa.
Kebangkitan Nasional di era digital harus dimaknai sebagai kebangkitan pendidikan yang berakar pada nilai budaya dan bertumpu pada inovasi teknologi. Dalam konteks ini, pendidikan bukan hanya sebagai alat untuk mencerdaskan, tetapi juga sebagai wahana membangun jati diri kebangsaan yang utuh: cerdas, berkarakter, dan berbudaya.
Budaya lokal sesungguhnya memiliki kekuatan pedagogis yang luar biasa. Nilai-nilai seperti siri’ na pacce dalam budaya Bugis-Makassar yang menjunjung tinggi harga diri dan empati sosial, adalah contoh kearifan lokal yang relevan dalam dunia pendidikan modern. Di tengah budaya digital yang seringkali permisif dan individualistik, nilai-nilai ini menjadi penyeimbang sekaligus penguat moral generasi muda.
Sayangnya, banyak nilai budaya tersebut belum terintegrasi secara sistematis dalam kurikulum pendidikan, baik di tingkat dasar hingga tinggi. Ini menjadi pekerjaan rumah besar bagi dunia pendidikan: bagaimana menjadikan budaya sebagai sumber belajar yang hidup, bukan sekadar ornamen dalam pelajaran muatan lokal.
Di sinilah pentingnya membangun pendidikan digital berbasis budaya. Teknologi harus kita posisikan sebagai alat, bukan tujuan. Melalui pendekatan ini, kita dapat menciptakan model pembelajaran yang tidak hanya mengasah kecakapan digital, tetapi juga menumbuhkan kebanggaan terhadap warisan budaya.
Misalnya, siswa dapat dilibatkan dalam proyek kreatif membuat vlog budaya, digitalisasi naskah kuno seperti Lontara, atau menciptakan game edukatif dari cerita rakyat setempat. Guru dan sekolah dapat berkolaborasi dengan tokoh adat atau seniman lokal dalam merancang konten pembelajaran berbasis nilai tradisional. Pendekatan ini menciptakan suasana belajar yang kontekstual, menyenangkan, dan bermakna.
Lebih jauh lagi, pendekatan ini juga dapat diterapkan dalam pendidikan orang dewasa. Dengan prinsip andragogi—yang menekankan pembelajaran berbasis pengalaman dan kebutuhan riil—masyarakat dapat diberdayakan melalui lokakarya daring berbasis budaya lokal, seperti pelatihan etika bisnis berbasis siri’ na pacce atau kelas daring pemasaran produk tradisional. Portofolio pembelajaran berupa podcast budaya, toko daring kerajinan, atau aplikasi lontara interaktif bukan hanya mencerminkan kompetensi, tetapi juga memberi dampak ekonomi dan sosial yang nyata.
Kebangkitan pendidikan hari ini tidak bisa lepas dari sinergi budaya dan teknologi. Inilah saatnya kita melahirkan generasi “dua kaki”: satu kaki berpijak kokoh pada nilai-nilai budaya, satu kaki lainnya melangkah lincah dalam dunia digital. Generasi ini akan menjadi pelopor kebangkitan baru yang tidak sekadar melek teknologi, tetapi juga mampu menjaga dan memajukan identitas bangsanya.
Hari Kebangkitan Nasional adalah panggilan untuk menyalakan semangat perubahan, bukan hanya di pusat kota, tetapi sampai ke lorong-lorong desa, sekolah-sekolah pelosok, dan komunitas adat. Ketika budaya lokal dijadikan fondasi dalam setiap desain pendidikan, kita tidak hanya membangun sumber daya manusia unggul, tetapi juga membentuk bangsa yang kuat secara moral, tangguh menghadapi zaman, dan bermartabat di mata dunia.
Penulis : Prof. Dr. Andi Syukri Syamsuri,Hum/Guru Besar UINAM dan Wakil Rektor Bidang Akademik Universitas Muhammadiyah Makassar













