Sosiologi Kurban

- Penulis

Sabtu, 7 Juni 2025 - 16:39 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Dalam Al-Quran, terdapat beberapa surah sebagai dasar perintah menunaikan ibadah kurban, di antaranya surah Al-Kautsar, Ayat 2 berbunyi: ” Fa shalli lirabbika wa inhar,” artinya: “Maka dirikanlah salat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah.”

Asbabun nuzul diturunkannya wahyu dalam surah Al-Kautsar adalah ketika Nabi Muhammad Saw. dirundung kesedihan karena dua orang (Siti Khadijah dan Abu Thalib) yang dicintainya meninggal dunia. Surah Al-Kautsar sebagai penenang hatinya dan pengingat akan keberlimpahan nikmat Allah Swt.

Perintah berkurban adalah ibadah sunah yang sangat dianjurkan bagi umat Islam. Kurban adalah medan ujian ketakwaan dan keimanan seorang muslim, sebagaimana kisah Nabi Ibrahim as. yang diperintahkan menyembelih putra kesayangannya Nabi Ismail as.

Ketakwaan dan keimanan Nabi Ibrahim as. atas perintah Allah Swt. dilakukan tanpa penolakan. Dengan keikhlasan tinggi, tanpa tedeng aling-aling, Nabi Ibrahim as. segera mengeksekusi. Nabi Ismail as. sebagai sosok anak saleh, bahkan mendukung sikap bapaknya segera memenuhi perintah Allah Swt. Berkat keikhlasan dan pengorbanan Nabi Ibrahim as., Nabi Ismail as. tergantikan dengan seekor kibas.

Baca Juga :  Persembahkan Medali Emas dan Perunggu untuk Tim KORMI Sulsel di FORNAS VIII NTB 2025, Pegiat Gateball Asal Gowa Ini Merasa Bangga

Peristiwa di atas dinukilkan dalam surah As-Saffat, Ayat 102, terjemahan artinya: …, ia (Ibrahim) berkata, “Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Pikirkanlah apa pendapatmu?” Dia (Ismail) menjawab, “Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu in syaa Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang sabar.”

Dalam beberapa hadits, terdapat perintah berkurban, di antaranya, Rasulullah Saw. bersabda, artinya: “Saya diperintahkan menyembelih kurban dan kurban itu sunnah bagi kamu.” (HR At-Tarmizi). Hadits lain berbunyi, artinya: “Hai manusia, sesungguhnya atas tiap-tiap ahli rumah pada tiap-tiap tahun disunahkan berkurban.” (HR Abu Dawud).

Kurban selain sebagai ibadah ritual (dimensi religius), juga sebagai ibadah sosial (dimensi sosiologis). Dalam perspektif sosiologi, berkaitan dengan hubungan sesama manusia, ibadah kurban berdampak positif mempererat tali silaturahim, persaudaraan, dan ukhuwah islamiyah.

Secara sosiologis, ibadah kurban dapat memotivasi umat Islam memiliki kepdeluan dan berbagi rezeki dengan sesama manusia, terutama kepada kaum dhuafa fakir miskin. Pembagian daging kurban menjadi bukti bahwa Islam mendorong umatnya peduli terhadap sesama.

Baca Juga :  Bahasa Indonesia Mendunia: Bahasa Resmi ke-10 UNESCO, Diajarkan di 57 Negara, dan Faktor Penentu Bahasa Internasional

Dimensi sosial lain yang muncul dari ibadah kurban adalah peneguhan prinsip keadilan sosial. Artinya, jurang kesenjangan antara orang kaya dan orang miskin tidak terlalu jauh. Orang kaya didorong agar ikhlas mendermakan sebagian hartanya kepada fakir miskin melalui semangat pengorbanan.

Dari hikmah ibadah kurban, akan memunculkan nilai-nilai kemanusiaan, berupa persaudaraan, solidaritas, dan sikap empati kepada sesama manusia. Kurban dapat dijadikan media mempererat ukhuwah islamiyah. Kurban juga dapat mengajarkan bagaimana merasakan penderitaan orang kain sehingga mendorong keikhlasan berbagi rezeki.

Kalimat bijak patut direnungkan, “Jangan tunggu berlebih untuk berbagi. Karena keberkahan itu datang saat kita memberi di saat sulit.” dan “Semoga semangat berkurban menjadi jalan untuk lebih dekat kepada Allah Swt. (hablum minanallah) dan lebih peduli kepada sesama (hablum minannas).”

Makassar, 7 Juni 2025
Penulis: Anshari, Redaktur Eksekutif

Berita Terkait

Bahasa Indonesia Mendunia: Bahasa Resmi ke-10 UNESCO, Diajarkan di 57 Negara, dan Faktor Penentu Bahasa Internasional
Wawancara Doorstep dan Gaya Komunikasi Pejabat Publik
Efek Domino, Main Domino
Polisi Jujur ala Gus Dur, Jenderal Hoegeng Sosok Polisi Teladan
MSIB dan MB, Serupa Tapi Tak Sama
Mencari Kebenaran di Ruang Media Sosial
“9 Naga” versus “9 Haji”
Revitalisasi Muruah Pancasila

Berita Terkait

Kamis, 30 Oktober 2025 - 11:40 WIB

Bahasa Indonesia Mendunia: Bahasa Resmi ke-10 UNESCO, Diajarkan di 57 Negara, dan Faktor Penentu Bahasa Internasional

Sabtu, 20 September 2025 - 08:03 WIB

Wawancara Doorstep dan Gaya Komunikasi Pejabat Publik

Kamis, 11 September 2025 - 14:52 WIB

Efek Domino, Main Domino

Selasa, 1 Juli 2025 - 12:25 WIB

Polisi Jujur ala Gus Dur, Jenderal Hoegeng Sosok Polisi Teladan

Selasa, 17 Juni 2025 - 12:58 WIB

MSIB dan MB, Serupa Tapi Tak Sama

Berita Terbaru