Evolusi Teknologi Kecurangan: dari Remote Desktop ke Kamera Tersembunyi di UTBK-SNBP

- Penulis

Kamis, 23 April 2026 - 06:09 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru (SNPMB) 2026 untuk Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) – Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) yang dilaksanakan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) bersama Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri Indonesia (MRPTNI) telah berlangsung sejak tanggal 21 April dan akan berakhir 30 April 2026. Ketua Umum Tim SNPMB Pusat adalah Prof.Dr.Ir. Eduart Wolok, S.T., M.T., IPU ASEAN. Eng yang juga menjabat Rektor Universitas Negeri Gorontalo (UNG).

Berdasarkan data yang dirilis Panitia SNPMB Pusat, total pelamar UTBK-SNBT mencapai 871.496 peserta yang tersebar di seluruh Indonesia. Persaingan terbilang ketat karena tingginya peminat. Contoh, jumlah peminat di Universitas Brawijaya (UB) sebanyak 66.412 orang, Universitas Negeri Makassar (UNM) sejumlah 30.369 orang, dan Universitas Lambung Mangkurat (ULM) sekitar 11.909 orang. Program studi (prodi) dengan peminat tertinggi, yaitu Pendidikan Dokter, Ilmu Hukum, Manajemen, Ilmu Komunikasi, dan Teknik Informatika.

Kouta terbatas sementara peminat membludak menimbulkan berbagai praktik kecurangan. Peserta UTBK-SNBT menempuh aneka cara agar dapat berhasil, mewarnai kontestasi di ajang SNPMB setiap tahun. Kesenjangan itu dipandang sebagai peluang bisnis bagi oknum pelaku kejahatan akademik. Karena itu, penawaran atas nama iming-iming kelulusan adalah marketing jitu di ladang bisnis perjokian.

Ketetatan itu pula memantik nafsu para orang tua untuk menyediakan imbalan uang kepada oknum yang dapat membantu anaknya lulus. Transaksi ini marak terjadi pada prodi favorit, khususnya Kedokteran dan Kedokteran Gigi. Alhasil, baik oknum pelaku maupun orang tua, tidak lagi mempertimbangkan dampak dan sanksi hukum atas perbuatannya. Modus dsn varian kecurangan pun ditempuh. Setiap tahun selalu terjadi praktik kecurangan dalam SNPMB. Tragisnya lagi, teknologi menjadi andalan dalam memuluskan kecurangannya.

Berbagai teknologi kecurangan sebagai modus perbuatan kejahatan di antaranya:

* Menggunakan jasa joki dan pemalsuan identitas, yaitupraktik dilakukan dengan cara memalsukan identitas, seperti KTP dan kartu peserta, dengan cara memodifikasi sehingga mirip jokinya. Modus penggunaan jasa joki paling lumrah terjadi dan menunjukkan kecenderungan utama.

Baca Juga :  FBS UNM Sumbang 5 Tim Peraih Pendanaan PKM 2026

* ⁠Mengendalikan remote dekstop atau remote access, yaitu berusaha memanipulasi perangkat komputer ujian agar dapat diakses dari jarak jauh (remote) sehingga pihak lain yang berada di luar dapat membantu menjawab soal.

* ⁠Melakukan pencurian soal dengan cara perekaman layar, yaitu teknik mengambil gambar atau video di layar komputer ujian secara diam-diam dengan menggunakan kamera atau ponsel yang disembunyikan di pakaian untuk disebarkan ke pihak luar yang akan menjawab soal.

* ⁠Memakai alat bantu digital tersembunyi, yaitu memanfaatkan perangkat teknologi IT berbentuk mikro, seperti alat bantu dengar berbentuk mini atau ponsel jadul. Melalui alat itu, peserta dapat berkomunikasi dengan pihak luar guna mendapatkan jawaban.

* ⁠Melibatkan lembaga bimbingan belajar, yaitu adanya temuan yang mengindikasikan sindikat kecurangan yang melibatkan oknum lembaga bimbingan belajar tertentu yang memberikan bantuan jawaban secara real time kepada peserta.

Di hari pertama (Selasa, 21 April 2026), terungkap fakta temuan di lapangan terjadinya praktik kecurangan. Hal itu terjadi di lokasi UTBK-SNBT Universitas Sulawesi Barat (Unsulbar), panitia menemukan adanya indikasi kecurangan yang dilakukan dua peserta. Temuannya, kedua peserta membawa alat komunikasi berupa ponsel dan headset yang disembunyikan di bagian belakang tubuh/pakaiannya untuk mendukung aksi kecurangannya.

Lain halnya di kampus Surabaya, yakni di Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jatim (UPNVJ), Universitas Airlangga (Unair), dan Universitas Negeri Surabaya (Unesa) terindikasi kasus joki. Modus yang digunakan adalah foto dan nama tidak sesuai, terdapat orang yang sama tetapi nama yang berbeda mendaftar di tahun berbeda, dan ketidakcocokan antara identitas pada data resmi dengan peserta yang hadir.

Kecurangan canggih terjadi di Universitas Diponegoro (Undip) Semarang. Salah seorang peserta ditemukan menanam alat bantu di telinga. Peserta dibawa ke klinik telinga, hidung, dan tenggorokan (THT). Temuan itu berkat pemeriksaan metal detector pada saat skrining dan terdeteksi di dalam pakaiannya ada metal. Atas petunjuk itu, peserta diinterogasi dan mengakui perbuatannya.

Dari tahun ke tahun, mode kecurangan SNPMB berevolusi. Para pelaku menjalankan aksinya mulai dari metode konvensional hingga modern dengan memanfaatkan teknologi. Bahkan, penggunaan teknologi pun berevolusi dari remote desktop (remote access) ke kamera tersembunyi.

Baca Juga :  Alhamdulillah, Munajat Suratman Terpilih sebagai Salah Satu dari 100 Ketua OSIS Terbaik se-Indonesia untuk Mengikuti Ajang ISLT 2025

Teknologi remote deskrop adalah teknologi atau fitur yang memungkinkan pengguna mengakses, mengontrol, dan berinteraksi dengan komputer (host) secara virtual dari lokasi jarak jauh menggunakan perangkat lain (peserta ujian) melalui jaringan internet. Pengguna dapat melihat tampilan layar, menggunakan keyboard, dan mouse seolah-olah duduk langsung di depan komputer.

Panitia SNPMB Pusat dan Kemdiktisaintek telah menetapkan sanksi berat bagi pelaku kecurangan berupa: (1) diskualifikasi otomatis; peserta terbukti curang langsung dinyatakan gugur pada saat itu juga, (2) blacklist: peserta akan diblokir dari seluruh jalur masuk perguruan tinggi negeri, termasuk jalur mandiri dan tidak diperkenankan ikut lagi seleksi di tahun-tahun berikutnya, dan (3) proses hukum: untuk kasus perjokian yang melibatkan sindikat atau organisasi akan dituntut pidana oleh kepolisian.

Meski diberlakukan sanksi berat bagi pelaku kecurangan dalam UTBK-SNBT, peserta tidak pernah jera melakukannya. Dominasi pelaku kecurangan adalah mereka yang memilih Prodi Kedokteran dan Kedokteran Gigi.

Untuk menangkal teknologi kecurangan, panitia UTBK-SNBT di sejumlah perguruan tinggi negeri melakukan pemeriksaan dan pengawasan ketat, seperti penggunaan metal detector, pemeriksaan fisik, pengawalan berlapis, dan penggunaan jammer untuk mengacak sinyal. Namun, usaha para pelaku kecurangan tidak pernah kendor. Mereka tetap berjibaku agar impiannya terkabul.

Kecurangan di ranah akademik tergolong pelanggaran etika ilmiah dan integritas. Dalam dunia akademik, integritas atau kejujuran merupakan fondasi moral dan benteng perilaku baik. Sebagai contoh, plagiasi karya ilmiah dianggap sebagai pelanggaran etika alademik dan diberi sanksi berat bagi pelakunya.

Jika cara masuk saja dengan menggunakan cara curang, maka bagaimana kelak dalam proses akademik pasti tabiat kecurangan itu terus menjadi kebiasaan buruknya. Seleksi integritas ketika mau menjadi mahasiswa sangat penting sebagai saringan sikap dan perilaku jujur dalam dunia akademik.

Makassar, 23 April 2026

Penulis: Anshari, Redaktur Eksekutif

Berita Terkait

Di Balik 2.940 Data Anomali Peserta UTBK-SNBT 2026: Terdapat Potret Rapuh Calon Mahasiswa
Bahasa Indonesia Mendunia: Bahasa Resmi ke-10 UNESCO, Diajarkan di 57 Negara, dan Faktor Penentu Bahasa Internasional
Wawancara Doorstep dan Gaya Komunikasi Pejabat Publik
Efek Domino, Main Domino
Polisi Jujur ala Gus Dur, Jenderal Hoegeng Sosok Polisi Teladan
MSIB dan MB, Serupa Tapi Tak Sama
Mencari Kebenaran di Ruang Media Sosial
Sosiologi Kurban

Berita Terkait

Sabtu, 25 April 2026 - 12:10 WIB

Di Balik 2.940 Data Anomali Peserta UTBK-SNBT 2026: Terdapat Potret Rapuh Calon Mahasiswa

Kamis, 23 April 2026 - 06:09 WIB

Evolusi Teknologi Kecurangan: dari Remote Desktop ke Kamera Tersembunyi di UTBK-SNBP

Kamis, 30 Oktober 2025 - 11:40 WIB

Bahasa Indonesia Mendunia: Bahasa Resmi ke-10 UNESCO, Diajarkan di 57 Negara, dan Faktor Penentu Bahasa Internasional

Sabtu, 20 September 2025 - 08:03 WIB

Wawancara Doorstep dan Gaya Komunikasi Pejabat Publik

Kamis, 11 September 2025 - 14:52 WIB

Efek Domino, Main Domino

Berita Terbaru