Jakarta, Indonesia (KabarPROFESIANA.co.id)– Patut diapresiasi, salah satu akademisi dari Program Studi Ilmu Keolahragaan (IKOR), Fakultas Ilmu Keolahragaan dan Kesehatan (FIKK) Universitas Negeri Makassar (UNM), Bustang, Ph.D, yang sukses mencuri perhatian publik akademis sebagai salah satu invited speaker dalam perhelatan The 12th Southeast Asia Design Research (SEA-DR) International Conference 2026 yang digelar di Universitas Negeri Jakarta (UNJ).
Konferensi internasional bergengsi skala regional ini mengusung tema “Design-Based Research for Transforming Sustainable STEM Education in the Era of Artificial Intelligence.” Kehadiran akademisi UNM ini menjadi representasi krusial dalam menyoroti tantangan nyata interdisipliner antara matematika, pendidikan STEM, dan sektor pelayanan kesehatan di Indonesia.
Dalam pemaparannya, Bustang membawakan materi bertajuk “Mathematics in Healthcare: Health Numeracy, Graph Literacy and Metacognition Among Indonesian Health Science Students”. Ia menegaskan bahwa numerasi kesehatan dan literasi grafik merupakan fondasi matematika terapan yang berpengaruh langsung terhadap keselamatan klinis pasien.
Mulai dari kalkulasi presisi dosis obat hingga penafsiran kurva pertumbuhan, pemahaman kuantitatif tenaga kesehatan tidak dapat dilepaskan dari sejauh mana mereka mampu mengevaluasi tingkat akurasi pemikiran mereka sendiri melalui kemampuan metakognisi.
Untuk membuktikan hal tersebut, Bustang memaparkan hasil penelitian mendalam terhadap para calon tenaga kesehatan di Indonesia. Pada kajian awal mengenai pemahaman berhitung kesehatan, ditemukan bahwa sebagian besar mahasiswa sudah terampil dalam perhitungan matematika dasar.
Namun, mereka masih sering mengalami kendala saat dihadapkan pada soal-soal hitungan yang lebih rumit dan bertingkat, seperti menentukan penyesuaian dosis obat, membaca skala ukur, serta menghitung peluang.
Hal yang cukup mengejutkan dan menjadi perhatian peserta konferensi adalah sikap rasa percaya diri mahasiswa yang tergolong sangat tinggi. Meskipun menghadapi soal-soal matematika klinis dengan tingkat kesulitan yang tinggi, banyak mahasiswa yang merasa sangat yakin bahwa jawaban mereka sudah benar.
Fenomena ini memperlihatkan adanya kecenderungan rasa percaya diri yang berlebihan, di mana kemampuan sebenarnya belum sejalan dengan tingkat keyakinan yang dirasakan.
Sementara itu pada kajian mengenai kemampuan membaca dan menafsirkan data berbentuk grafik, hasilnya menunjukkan bahwa kemampuan mahasiswa Indonesia masih perlu ditingkatkan agar setara dengan standar internasional.
Mahasiswa terbukti masih menghadapi kesulitan mendasar ketika harus membaca, membandingkan, serta mengambil kesimpulan dari grafik kesehatan yang informasinya tidak lengkap atau membingungkan.
Bustang menekankan bahwa kemampuan matematika terapan di bidang kesehatan tidak boleh dianggap akan berkembang begitu saja tanpa intervensi terstruktur. Ia merekomendasikan agar kurikulum pendidikan matematika pada jenjang sarjana ilmu kesehatan tidak hanya mengajarkan kalkulasi teknis, melainkan juga mengintegrasikan pelatihan pemantauan metakognitif secara eksplisit.
“Langkah transformatif ini diharapkan mampu membentuk calon tenaga medis yang akurat, rasional, dan sigap dalam mengambil keputusan klinis di era pesatnya perkembangan kecerdasan buatan,”pungkasnya. (Rls/WhyAns)


























