MAKASSAR, SULAWESI SELATAN (kabarPROFESIANA.co.id)- Ancaman kepunahan bahasa Gorontalo mendorong Universitas Negeri Gorontalo (UNG) mengambil langkah strategis dengan merencanakan pembukaan Program Studi Pendidikan Bahasa Gorontalo. Untuk mematangkan rencana tersebut, UNG menggandeng Fakultas Bahasa dan Sastra Universitas Negeri Makassar (FBS UNM) sebagai mitra pendamping, terutama dalam penyiapan kurikulum dan aspek akademik program studi.
Rencana kolaborasi tersebut dibicarakan dalam kunjungan Kepala Pusat Studi Pelestarian Bahasa dan Sastra Daerah UNG, Prof. Dr. Suleman Bouti, S.Pd., M.Hum., ke FBS UNM. Pertemuan berlangsung di Gedung DK Pascasarjana FBS UNM, Rabu (7/10/2026).
Suleman hadir didampingi dua dosen UNG, Dr. Hanisah Hanafi, M.Pd., dan Prof. Dr. H. Hariadi Said, M.S. Rombongan diterima Dekan FBS UNM, Prof. Dr. Anshari, M.Hum., bersama Wakil Dekan III FBS UNM, Dr. Syamsu Rijal, S.Pd., M.Hum., Wakil Dekan IV FBS UNM, Samsidar, S.Pd., M.Ed., TESOL., Ed.D., Ketua Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia FBS UNM, Prof. Dr. Kembong Daeng, M.Hum., serta para dosen Program Studi Pendidikan Bahasa Makassar dan Program Studi Pendidikan Bahasa Bugis.
Dekan FBS UNM, Prof. Dr. Anshari, M.Hum., menyambut positif rencana tersebut. Menurutnya, FBS UNM terbuka untuk membangun kolaborasi dengan UNG dalam berbagai bidang, terutama yang berkaitan dengan pelaksanaan tridarma perguruan tinggi.
“Kami terbuka dengan UNG untuk membicarakan hal-hal yang bisa kita kolaborasikan, utamanya pelaksanaan tridarma perguruan tinggi,” ujar Anshari.
Secara khusus, Anshari menegaskan kesiapan FBS UNM untuk mendampingi UNG dalam proses persiapan hingga terbentuknya Program Studi Pendidikan Bahasa Gorontalo. Pengalaman FBS UNM dalam membuka dan mengembangkan program studi berbasis bahasa daerah menjadi modal untuk berbagi praktik baik dengan UNG.
“Kami siap menjadi pendamping hingga terbentuk Prodi Pendidikan Bahasa Gorontalo,” tegas Anshari.
Kepala Pusat Studi Pelestarian Bahasa dan Sastra Daerah UNG, Prof. Dr. Suleman Bouti, S.Pd., M.Hum., menjelaskan bahwa kunjungannya ke FBS UNM dilatarbelakangi rencana UNG mendirikan program studi yang berfokus pada bahasa Gorontalo. FBS UNM dipilih sebagai tempat belajar karena telah memiliki pengalaman dalam pembukaan Program Studi Pendidikan Bahasa Makassar dan Program Studi Pendidikan Bahasa Bugis.
“Kami mau mendirikan Prodi Bahasa Gorontalo. Oleh karena itu, kami mau belajar di UNM yang baru saja mendirikan Prodi Pendidikan Bahasa Makassar dan Pendidikan Bahasa Bugis,” ungkap Suleman.
Menurut Suleman, rencana pembukaan program studi tersebut tidak semata-mata berorientasi pada pengembangan kelembagaan akademik. Langkah itu berangkat dari keresahan terhadap keberlangsungan bahasa Gorontalo di tengah ancaman kepunahan bahasa daerah. Kehadiran program studi di perguruan tinggi dinilai penting untuk memperkuat upaya pelestarian secara lebih terstruktur dan berkelanjutan.
“Pelestarian bahasa itu butuh regulasi. Pembukaan Prodi Bahasa Gorontalo berawal dari keresahan ancaman kepunahan bahasa Gorontalo. Dari kacamata kami, punahnya bahasa daerah karena tidak ada prodinya di kampus,” jelasnya.
Dorongan untuk menghadirkan program studi bahasa Gorontalo juga bukan gagasan yang baru muncul. Ketua Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia FBS UNM, Prof. Dr. Kembong Daeng, M.Hum., mengungkapkan bahwa pembukaan program studi tersebut telah lama menjadi perhatian dalam forum bahasa daerah.
“Sudah lama ada rekomendasi dari forum bahasa daerah untuk membuka Prodi Bahasa Gorontalo,” ujar Kembong.
Rekomendasi tersebut semakin memperkuat kebutuhan menghadirkan ruang akademik yang secara khusus menopang keberlanjutan bahasa Gorontalo. Perguruan tinggi diharapkan tidak hanya menjadi tempat bahasa daerah diajarkan, tetapi juga menjadi pusat penelitian, dokumentasi, pengembangan keilmuan, serta regenerasi sumber daya manusia yang memiliki kompetensi dalam bidang bahasa daerah.
Salah satu bentuk kerja sama yang dinilai paling strategis dalam tahap awal adalah penyusunan kurikulum. UNG berharap pengalaman FBS UNM dalam mengembangkan kurikulum pendidikan bahasa Makassar dan bahasa Bugis dapat menjadi referensi dalam merancang kurikulum pengajaran bahasa Gorontalo.
“Kerja sama yang paling strategis antara kita adalah penyusunan kurikulum pengajaran bahasa Gorontalo karena kami belum ada prodi,” kata Suleman.
Wakil Dekan IV FBS UNM, Samsidar, S.Pd., M.Ed., TESOL., Ed.D., memandang rencana tersebut sebagai peluang untuk membangun kerja sama kelembagaan yang lebih luas dan berkelanjutan. Menurutnya, pendampingan pembukaan program studi dapat menjadi pintu masuk bagi pengembangan berbagai program kolaboratif antara FBS UNM dan UNG.
“Kolaborasi ini dapat dikembangkan tidak hanya pada pendampingan pembukaan program studi, tetapi juga pada pengembangan kurikulum, penelitian bersama, pertukaran kepakaran, publikasi, dan berbagai program tridarma lainnya. Yang terpenting, kerja sama ini dapat memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan dan pelestarian bahasa daerah,” ujar Samsidar.
Pertemuan tersebut kemudian berkembang pada gagasan yang lebih luas, yakni pembentukan konsorsium bahasa daerah. Konsorsium tersebut diproyeksikan menjadi wadah kolaborasi antarlembaga dalam memperkuat pendidikan, penelitian, dokumentasi, pengembangan, dan pelestarian bahasa daerah.
Suleman menilai FBS UNM memiliki posisi strategis untuk menjadi inisiator konsorsium tersebut. Keberadaan Program Studi Pendidikan Bahasa Makassar dan Program Studi Pendidikan Bahasa Bugis dinilai menjadi modal akademik yang kuat untuk membangun jejaring pengembangan bahasa daerah lintas perguruan tinggi.
“Bagaimana kalau kita buat konsorsium agar kita bisa selalu kerja sama. UNM ini sangat layak menjadi inisiator karena sudah ada Prodi Pendidikan Bahasa Makassar dan Pendidikan Bahasa Bugis,” ujarnya.
Kehadiran para dosen Program Studi Pendidikan Bahasa Makassar dan Program Studi Pendidikan Bahasa Bugis FBS UNM dalam pertemuan itu turut memperkuat pembicaraan mengenai bentuk pendampingan yang dapat dilakukan FBS UNM. Pengalaman kedua program studi tersebut dapat menjadi salah satu rujukan bagi UNG, khususnya dalam penyiapan kurikulum dan pengembangan aspek akademik Program Studi Pendidikan Bahasa Gorontalo. (Den/Ans/Why)


























