Mencari Kebenaran di Ruang Media Sosial

- Penulis

Selasa, 10 Juni 2025 - 09:29 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sejak manusia pertama diciptakan Allah Swt., Adam, untuk menjadi khalifah di muka bumi, sejak itu pula esensi manusia mencari kebenaran, telah melekat dalam semua persoalan hidup dan kehidupan manusia. Karena hakikat kebenaran di mata manusia, selalu dalam bingkai pemahaman relativitas.

Diutusnya Nabi dan Rasul, tiada lain meluruskan akidah kebenaran di setiap peradaban. Rangkaian kitab suci yang diemban Nabi Pilihan Allah Swt., yaitu Taurat kepada Nabi Musa as, Zabur kepada Nabi Daud as, Injil kepada Nabi Isa as, dan Al-Quran kepada Nabi Muhammad Saw. sebagai pembawa risalah tauhid kebenaran bagi kaumnya.

Dalam tauhid Islam, Al-Quran merupakan kebenaran paripurna yang diamanahkan Allah Swt. kepada Nabi Muhammad Saw. untuk para pengikutnya. Sebagai kitab samawi (agama wahyu, bukan buatan manusia), Al-Quran merupakan pedoman utama bagi umat Islam. Dalam khutbah terakhir Rasulullah, Beliau berkata: “Aku meninggalkan dua hal, yaitu AL-QURAN dan contohku, yaitu SUNNAH. Jika kamu mengikuti keduanya, kamu tidak akan tersesat.”

Kebenaran berdasarkan teori filsafat ilmu diartikan sebagai kesesuaian antara pernyataan atau teori dan kenyataan atau fakta yang teramati. Karena itu, kebenaran ilmiah diperoleh melalui metode ilmiah yang sistematis dan objektif serta melalui tahapan pengujian dan validasi.

Kebenaran ilmiah tidak bersifat mutlak, tetapi bersifat sementara dan senantiasa berubah seiring perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kebenaran dalam filsafat ilmu adalah konsep yang dinamis dan kontekstual dengan menggunakan metode ilmiah yang sistematis dan berbasis bukti atau fakta.

Manusia mendapatkan kebenaran dari sumber yang berbeda-beda bergantung pada bidang atau konteksnya. Sumber kebenaran dalam Islam, yaitu wahyu yang diyakini sebagai Firman Tuhan dan hadis sebagai perkataan, perbuatan, dan persetujuan Nabi Muhammad Saw.

Baca Juga :  Raih Penghargaan Prestisius, Dekan FIKK UNM Terima Brevet Kehormatan Kesehatan Penyelam dan Hiperbaric

Sumber kebenaran dalam filsafat, yaitu akal/rasio berupa kemampuan manusia berpikir dan menyimpulkan; intuisi yang muncul dari perasaan atau pemahaman intensif; indera dari pengamatan dan sensasi fisik; teori korespondensi adalah pernyataan benar jika sesuai dengan kenyataan atau fakta; dan teori koherensi adalah pernyataan benar jika koheren dengan pernyataan lain yang sudah diyakini benar.

Sumber kebenaran dalam (ilmu) pengetahuan, yaitu aksioma/postulat: suatu pernyataan dianggap benar tanpa bukti dan dapat dijadikan sebagai landasan membuktikan pernyataan lain dan bukti empiris: suatu kebenaran yang diperoleh melalui pengamatan, eksperimen, atau penelitian ilmiah.

Di era post truth dengan dominasi kekuasaan peradaban teknologi komunikasi dan informasi, muncul sumber kebenaran yang diperoleh manusia via media sosial, seperti google, you tube, instagram, tik tok, dan beragam platform web. Sumber kebenaran di ruang nedia sosial dianggap sebagai kebenaran esensial dan hakiki.

Hal itu sejalan dengan pernyataan Dahlan Iskan, mantan Menteri BUMN di masa pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (2011-2014) ketika menyampaikan Orasi Ilmiah Institut Agama Islam Al-Zaytun Indramayu, Jawa Barat, 20 Mei 2023 (dua tahun lalu) melontarkan pendapat kritis bahwa media sosial telah melahirkan kebenaran baru yang berbeda dengan kebenaran asli, yaitu kebenaran tidak berdasarkan fakta.

Menurut mantan Direktur PLN (2009-2011), di zaman media sosial yang gila-gilaan ini, kemudian lahirlah kebenaran baru. Kebenaran baru yang datang dari persepsi, dalam hal ini fakta tidak mencerminkan kebenaran. Kebenaran lama bertumpu pada fakta, sementara kebenaran baru sepenuhnya berdasarkan persepsi. Persepsi dibentuk oleh frame (framing). Kebenaran baru itu disokong oleh para buzzer.

Baca Juga :  Ironi Komunikasi Politik Pejabat Publik

Buzzer adalah individu atau kelompok yang bertugas menyebarkan informasi, memengaruhi opini publik, atau mempromosikan sesuatu terutama melalui media sosial. para buzzer adalah individu atau kelompok yang dibiayai untuk tujuan dan kepentingan tertentu. Mereka menciptakan buzz atau isu agar menjadi trending topik.

Buzzer (dalam bahasa Indonesia disebut pendengung) melakukan pekerjaan secara terstruktur, sistematis, dan masif dengan menggunakan akun tanpa nama alias bodong dan bahkan akun-akun pemengaruh (influencer) untuk memengaruhi opini publik agar sejalan dengan pandangan mereka (yang membiayai).

Berdasarkan fenomena yang diungkap Dahlan Iskan, merupakan lonceng peringatan bagi para akademisi. Sebab, kebenaran baru tidak lagi menganggap fakta atau data sebagai referensi. Dalam konteks kebenaran baru di ruang media sosial, kebenaran dapat direkayasa, dimanipulasi, dan bahkan dikemas sehingga meyakinkan publik.

Sebagaimana makna post truth adalah era di mana kebohongan dapat menyamar menjadi kebenaran. Eksistensi fakta aktual terpinggirkan oleh daya tarik emosi dari persepsi.

Para penebar kebohongan memanfaatkan ruang media sosial sebagai wadah memanipulasi, merekayasa, dan memoles kebohongan sebagai bentuk pesona kebohongan sehingga dapat memikat publik agar yakin dan percaya bahwa itu kebenaran.

Seperti namanya post truth (pasca kebenaran) yang mengindikasikan bahwa kebenaran telah takluk dan terkalahkan oleh kebohongan. Berita bohong atau hoaks menjadi karakteristik utama dari era post truth. Karena itu, tingkatkan kewaspadaan dalam ber-media sosial. Sebab, kebohongan telah menyebar bagai virus berbahaya.

Catatan: tulisan ini dalam rangka memeringati Hari Media Sosial, 10 Juni 2025

Makassar, 9 Juni 2025

Penulis: Anshari, Redaktur Eksekutif

Berita Terkait

Bahasa Indonesia Mendunia: Bahasa Resmi ke-10 UNESCO, Diajarkan di 57 Negara, dan Faktor Penentu Bahasa Internasional
Wawancara Doorstep dan Gaya Komunikasi Pejabat Publik
Efek Domino, Main Domino
Polisi Jujur ala Gus Dur, Jenderal Hoegeng Sosok Polisi Teladan
MSIB dan MB, Serupa Tapi Tak Sama
Sosiologi Kurban
“9 Naga” versus “9 Haji”
Revitalisasi Muruah Pancasila

Berita Terkait

Kamis, 30 Oktober 2025 - 11:40 WIB

Bahasa Indonesia Mendunia: Bahasa Resmi ke-10 UNESCO, Diajarkan di 57 Negara, dan Faktor Penentu Bahasa Internasional

Sabtu, 20 September 2025 - 08:03 WIB

Wawancara Doorstep dan Gaya Komunikasi Pejabat Publik

Kamis, 11 September 2025 - 14:52 WIB

Efek Domino, Main Domino

Selasa, 1 Juli 2025 - 12:25 WIB

Polisi Jujur ala Gus Dur, Jenderal Hoegeng Sosok Polisi Teladan

Selasa, 17 Juni 2025 - 12:58 WIB

MSIB dan MB, Serupa Tapi Tak Sama

Berita Terbaru