AI Singularity Bisa Terjadi Dalam 12 Bulan : Apakah Kita Siap ?

- Penulis

Senin, 9 Juni 2025 - 15:29 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Perdebatan tentang singularity—titik ketika kecerdasan buatan (AI) melampaui kecerdasan manusia—tidak lagi hanya ada di ranah futuristik. CEO perusahaan AI seperti Anthropic bahkan menyebut, ini bisa terjadi dalam 12 bulan ke depan. Sebuah prediksi yang mengejutkan dan menantang imajinasi kita tentang masa depan umat manusia.

Teknologi Berlari, Manusia Masih Bertanya-Tanya

Model bahasa besar seperti GPT-4 kini mampu menjawab pertanyaan kompleks, menulis artikel, bahkan berdialog seperti manusia. Kombinasi antara peningkatan daya komputasi (berkat Moore’s Law) dan potensi komputasi kuantum membuat banyak pihak percaya, kita sedang menyaksikan akselerasi luar biasa dalam perkembangan AI.

Namun, apakah kemampuan ini sudah bisa disebut “melampaui manusia” ? Di sinilah perdebatan memanas.

Masih Ada Jurang: Antara Logika dan Kesadaran

Kecerdasan manusia bukan hanya soal logika dan kecepatan berpikir. Ada intuisi, empati, kreativitas, dan kesadaran diri—dimensi-dimensi yang masih jauh dari jangkauan AI saat ini. Tokoh seperti Yann LeCun, kepala ilmuwan AI Meta dan pelopor deep learning, bahkan menyarankan agar istilah Artificial General Intelligence (AGI) diganti menjadi Advanced AI.

Baca Juga :  Dari Kisah Nyata, J.S. Khairen Lahirkan Novel Inspiratif: Saya Nulis, Orang Bisa Hidup Lagi

“We need to stop pretending that human-level intelligence is a single point to be reached. Human cognition is a very particular configuration of capabilities, not the end goal of intelligence.”— Yann LeCun

Meski demikian, optimisme sebagian kalangan tetap tinggi, apalagi jika quantum computing benar-benar merevolusi cara AI “belajar” di masa depan.

Singularity: Risiko atau Peluang?

Jika AI menjadi lebih cerdas dari manusia, siapa yang mengendalikannya? Apakah masih mungkin mengatur mesin yang mungkin punya agenda sendiri? Di sinilah urgensi etika dan regulasi berbicara.

Kita butuh pemikiran matang soal : Bagaimana AI digunakan dalam kebijakan publik dan sektor bisnis

Siapa yang bertanggung jawab atas keputusan AI

Bagaimana menjaga nilai-nilai kemanusiaan di tengah dominasi kecerdasan non-manusia. Singularity tidak hanya soal teknologi, tapi soal keberanian manusia menghadapi cerminan paling ekstrem dari dirinya sendiri.

Baca Juga :  Rektor Unkhair Ternate Sambut Kunjungan Wakil Rektor IPB, Bahas Penguatan Pusat Studi dan Peluang Kerja Sama Pengembangan Prodi Multidisiplin

Kita Harus Bersiap, Bukan Menunggu

Apakah singularity akan datang dalam 12 bulan atau 12 dekade? Tidak ada yang tahu pasti. Tapi yang jelas, diskusi ini tidak bisa ditunda. Dunia pendidikan, dunia kerja, bahkan kehidupan sosial akan terdampak besar jika AI benar-benar melampaui kita.

“The pace of progress in artificial intelligence is incredibly fast. Unless you have direct exposure to groups like DeepMind, you have no idea how fast — it is growing at a pace close to exponential.”— Elon Musk

Dalam menghadapi masa depan yang tidak pasti ini, kita hanya punya dua pilihan yakni menunggu dan terkejut, atau bersiap dan berperan. (*)

Penulis : Antaiwan Bowo Pranogyo/Praktisi, Dosen STIE Indonesia Jakarta, Instruktur dan Konsultan di bidang SDM, Risk Manajemen dan Internal Audit.

 

 

 

 

Berita Terkait

Untukmu Agamamu, Untukku Agamaku : Kematangan Psikologis Sebagai Fondasi Toleransi
Hadir Bukan Berkompetisi, Tetapi Berkolaborasi
Guru Pedalaman di Era Digital: Ketimpangan, Perjuangan, Dan Asa Baru
Menjaga Kekondusifan dan Kenetralan atas Badai Psikologis dalam Dinamika Kepemimpinan di UNM
Ketika Timnas Sepak Bola Indonesia Dicaci dan Dipuja
Psikologi Kurban
Pendidikan Sebagai Ruh Kebangkitan Nasional di Era Digital Berbasis Budaya
Diplomasi Strategis Albanese–Prabowo : Ujian Awal GRC dalam Kebijakan Luar Negeri Regional

Berita Terkait

Rabu, 24 Desember 2025 - 09:01 WIB

Untukmu Agamamu, Untukku Agamaku : Kematangan Psikologis Sebagai Fondasi Toleransi

Jumat, 19 Desember 2025 - 09:24 WIB

Hadir Bukan Berkompetisi, Tetapi Berkolaborasi

Selasa, 25 November 2025 - 14:11 WIB

Guru Pedalaman di Era Digital: Ketimpangan, Perjuangan, Dan Asa Baru

Sabtu, 8 November 2025 - 12:21 WIB

Menjaga Kekondusifan dan Kenetralan atas Badai Psikologis dalam Dinamika Kepemimpinan di UNM

Sabtu, 4 Oktober 2025 - 16:22 WIB

Ketika Timnas Sepak Bola Indonesia Dicaci dan Dipuja

Berita Terbaru