Pendidikan Sebagai Ruh Kebangkitan Nasional di Era Digital Berbasis Budaya

- Penulis

Selasa, 20 Mei 2025 - 09:37 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Setiap 20 Mei, bangsa Indonesia memperingati Hari Kebangkitan Nasional sebagai penanda dimulainya kesadaran kolektif membangun bangsa yang merdeka dan berdaulat. Momentum ini sejatinya tidak hanya menjadi agenda seremonial tahunan, tetapi juga menjadi saat yang tepat untuk merefleksikan arah dan kualitas kebangkitan kita hari ini, khususnya dalam bidang pendidikan.

Pendidikan merupakan jantung dari kebangkitan. Tanpa transformasi pendidikan yang bermakna, kebangkitan hanya menjadi slogan kosong. Namun, tantangan pendidikan hari ini semakin kompleks. Di satu sisi, kita dihadapkan pada derasnya digitalisasi yang mengubah cara belajar, berinteraksi, dan memahami dunia. Di sisi lain, kita juga menyaksikan lunturnya nilai-nilai budaya lokal yang semestinya menjadi fondasi karakter bangsa.

Kebangkitan Nasional di era digital harus dimaknai sebagai kebangkitan pendidikan yang berakar pada nilai budaya dan bertumpu pada inovasi teknologi. Dalam konteks ini, pendidikan bukan hanya sebagai alat untuk mencerdaskan, tetapi juga sebagai wahana membangun jati diri kebangsaan yang utuh: cerdas, berkarakter, dan berbudaya.

Budaya lokal sesungguhnya memiliki kekuatan pedagogis yang luar biasa. Nilai-nilai seperti siri’ na pacce dalam budaya Bugis-Makassar yang menjunjung tinggi harga diri dan empati sosial, adalah contoh kearifan lokal yang relevan dalam dunia pendidikan modern. Di tengah budaya digital yang seringkali permisif dan individualistik, nilai-nilai ini menjadi penyeimbang sekaligus penguat moral generasi muda.

Baca Juga :  Untukmu Agamamu, Untukku Agamaku : Kematangan Psikologis Sebagai Fondasi Toleransi

Sayangnya, banyak nilai budaya tersebut belum terintegrasi secara sistematis dalam kurikulum pendidikan, baik di tingkat dasar hingga tinggi. Ini menjadi pekerjaan rumah besar bagi dunia pendidikan: bagaimana menjadikan budaya sebagai sumber belajar yang hidup, bukan sekadar ornamen dalam pelajaran muatan lokal.

Di sinilah pentingnya membangun pendidikan digital berbasis budaya. Teknologi harus kita posisikan sebagai alat, bukan tujuan. Melalui pendekatan ini, kita dapat menciptakan model pembelajaran yang tidak hanya mengasah kecakapan digital, tetapi juga menumbuhkan kebanggaan terhadap warisan budaya.

Misalnya, siswa dapat dilibatkan dalam proyek kreatif membuat vlog budaya, digitalisasi naskah kuno seperti Lontara, atau menciptakan game edukatif dari cerita rakyat setempat. Guru dan sekolah dapat berkolaborasi dengan tokoh adat atau seniman lokal dalam merancang konten pembelajaran berbasis nilai tradisional. Pendekatan ini menciptakan suasana belajar yang kontekstual, menyenangkan, dan bermakna.

Lebih jauh lagi, pendekatan ini juga dapat diterapkan dalam pendidikan orang dewasa. Dengan prinsip andragogi—yang menekankan pembelajaran berbasis pengalaman dan kebutuhan riil—masyarakat dapat diberdayakan melalui lokakarya daring berbasis budaya lokal, seperti pelatihan etika bisnis berbasis siri’ na pacce atau kelas daring pemasaran produk tradisional. Portofolio pembelajaran berupa podcast budaya, toko daring kerajinan, atau aplikasi lontara interaktif bukan hanya mencerminkan kompetensi, tetapi juga memberi dampak ekonomi dan sosial yang nyata.

Baca Juga :  AI Singularity Bisa Terjadi Dalam 12 Bulan : Apakah Kita Siap ?

Kebangkitan pendidikan hari ini tidak bisa lepas dari sinergi budaya dan teknologi. Inilah saatnya kita melahirkan generasi “dua kaki”: satu kaki berpijak kokoh pada nilai-nilai budaya, satu kaki lainnya melangkah lincah dalam dunia digital. Generasi ini akan menjadi pelopor kebangkitan baru yang tidak sekadar melek teknologi, tetapi juga mampu menjaga dan memajukan identitas bangsanya.

Hari Kebangkitan Nasional adalah panggilan untuk menyalakan semangat perubahan, bukan hanya di pusat kota, tetapi sampai ke lorong-lorong desa, sekolah-sekolah pelosok, dan komunitas adat. Ketika budaya lokal dijadikan fondasi dalam setiap desain pendidikan, kita tidak hanya membangun sumber daya manusia unggul, tetapi juga membentuk bangsa yang kuat secara moral, tangguh menghadapi zaman, dan bermartabat di mata dunia.

Penulis : Prof. Dr. Andi Syukri Syamsuri,Hum/Guru Besar UINAM dan Wakil Rektor Bidang Akademik Universitas Muhammadiyah Makassar

 

Berita Terkait

Menjaga Maruah Kedaulatan Rakyat di Tengah Tarik-Menarik Kepentingan Politik yang Berkaitan Putusan MK di UU Pilkada
Panggilan Setengah Abad: Ketika Takdir Menghentikan Kapal dan Mempertemukan Dua Sahabat
Transformasi Validasi Karya Ilmiah: FEB UNM Sosialisasikan Situs Web SKRIPSI-NAV untuk Memperkuat Integritas Akademik
Bahasa Guru: Faktor yang Sering Diabaikan dalam Pendidikan
Dari Konjungsi Waktu ke Kesadaran Peradaban: Meneguhkan Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Ilmu Pengetahuan dan Bahasa Global di Era Akal Imitasi
Dari Konjungsi yang ke Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Ilmu Pengetahuan dan Bahasa Global di Era Akal Imitasi
Sastra Lisan Makassar: Ingatan yang Sedang Kita Biarkan Pudar
Ammuntuli di Persimpangan Tradisi dan Modernitas

Berita Terkait

Selasa, 14 Juli 2026 - 18:08 WIB

Menjaga Maruah Kedaulatan Rakyat di Tengah Tarik-Menarik Kepentingan Politik yang Berkaitan Putusan MK di UU Pilkada

Jumat, 10 Juli 2026 - 17:46 WIB

Panggilan Setengah Abad: Ketika Takdir Menghentikan Kapal dan Mempertemukan Dua Sahabat

Selasa, 9 Juni 2026 - 06:50 WIB

Transformasi Validasi Karya Ilmiah: FEB UNM Sosialisasikan Situs Web SKRIPSI-NAV untuk Memperkuat Integritas Akademik

Senin, 8 Juni 2026 - 20:26 WIB

Bahasa Guru: Faktor yang Sering Diabaikan dalam Pendidikan

Senin, 8 Juni 2026 - 16:31 WIB

Dari Konjungsi Waktu ke Kesadaran Peradaban: Meneguhkan Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Ilmu Pengetahuan dan Bahasa Global di Era Akal Imitasi

Berita Terbaru

POLITIK BAHASA

Bahasa Indonesia sebagai Rumah Bersama 280 Juta Penduduk

Rabu, 22 Jul 2026 - 09:22 WIB