Dari Konjungsi Waktu ke Kesadaran Peradaban: Meneguhkan Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Ilmu Pengetahuan dan Bahasa Global di Era Akal Imitasi

- Penulis

Senin, 8 Juni 2026 - 16:31 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pada opini sebelumnya, “Dari Konjungsi ‘Yang’ ke Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Ilmu Pengetahuan dan Bahasa Global di Era Akal Imitasi”, saya mengemukakan bahwa unsur bahasa yang tampak sederhana sesungguhnya dapat mencerminkan cara berpikir suatu bangsa. Kali ini, perhatian diarahkan pada konjungsi subordinatif waktu, seperti sejak, ketika, setelah, dan sampai.

Sekilas, konjungsi-konjungsi tersebut hanya berfungsi menunjukkan hubungan waktu. Namun, di balik fungsi gramatikalnya tersimpan pelajaran penting tentang kesadaran proses, kesinambungan, dan arah perubahan. Ketiga aspek inilah yang menjadi fondasi kemajuan suatu bangsa.

Pandangan tersebut sejalan dengan pemikiran Edward Sapir dan Benjamin Lee Whorf yang menegaskan bahwa bahasa bukan sekadar alat menyampaikan pikiran, melainkan juga memengaruhi cara manusia memahami realitas. Dalam konteks ini, konjungsi waktu mengajarkan bahwa setiap peristiwa memiliki keterkaitan dengan masa lalu, masa kini, dan masa depan.

Kalimat “Sejak Indonesia merdeka, bangsa ini terus membangun pendidikan nasional” menunjukkan kesadaran historis bahwa pembangunan merupakan proses panjang yang berlangsung secara berkelanjutan. Kalimat “Ketika literasi masyarakat meningkat, produktivitas ilmu pengetahuan ikut berkembang” memperlihatkan hubungan antara perubahan dan kemajuan. Kalimat “Setelah menguasai ilmu pengetahuan, suatu bangsa mampu menciptakan inovasi” menegaskan pentingnya tahapan. Adapun kalimat “Perjuangan meningkatkan kualitas sumber daya manusia harus dilakukan sampai terwujud masyarakat yang berkemajuan” menunjukkan orientasi tujuan yang jelas.

Oleh karena itu, konjungsi waktu sesungguhnya tidak hanya berfungsi sebagai penghubung antarklausa, tetapi juga mencerminkan cara berpikir yang sistematis, progresif, dan berorientasi masa depan.

Tidak ada bangsa maju yang lahir secara tiba-tiba. Jepang membangun fondasi kemajuannya sejak Restorasi Meiji. Korea Selatan berkembang melalui investasi pendidikan dan sumber daya manusia setelah Perang Korea. Singapura menjelma menjadi pusat ekonomi global melalui pembangunan yang konsisten sejak kemerdekaannya. Kesamaan negara-negara tersebut adalah kesadaran bahwa masa depan dibangun melalui proses yang panjang, terencana, dan berkelanjutan.

Baca Juga :  Identitas Calon Guru yang Kabur di Balik Krisis Mutu Guru

Menariknya, pola pikir demikian juga tercermin dalam bahasa Indonesia. Kata sejak mengajarkan pentingnya akar sejarah. Kata ketika mengajarkan kepekaan membaca momentum. Kata setelah mengajarkan pentingnya tahapan. Kata sampai mengajarkan ketekunan mencapai tujuan. Oleh karena itu, persoalan Indonesia bukanlah kekurangan perangkat berpikir, melainkan belum optimalnya pemanfaatan bahasa Indonesia sebagai sarana pengembangan ilmu pengetahuan dan pembangunan peradaban.

Masih terdapat anggapan bahwa bahasa Indonesia kurang memadai untuk menjadi bahasa ilmu pengetahuan modern. Pandangan tersebut tidak sejalan dengan fakta sejarah. Bahasa Indonesia telah berfungsi sebagai bahasa pendidikan, administrasi negara, hukum, penelitian, dan komunikasi nasional yang mempersatukan masyarakat yang beragam. Selain itu, bahasa Indonesia memiliki kemampuan yang sangat baik dalam menyerap dan mengembangkan kosakata ilmiah sesuai perkembangan zaman.

Istilah seperti transformasi digital, kecerdasan buatan, analisis data, literasi numerasi, rekayasa genetika, hingga Akal Imitasi menunjukkan bahwa bahasa Indonesia terus tumbuh sebagai bahasa ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, hambatan terbesar bukanlah kemampuan bahasa Indonesia, melainkan mentalitas sebagian penggunanya yang masih menganggap bahasa asing sebagai satu-satunya simbol kemajuan. Padahal sejarah menunjukkan bahwa bangsa maju berkembang karena kepercayaan dirinya menggunakan bahasa nasional sebagai wahana pendidikan, penelitian, dan inovasi.

Era Akal Imitasi justru membuka peluang baru bagi bahasa Indonesia. Istilah Akal Imitasi saya dengar kali pertama dari Prof. Dr. Maman Suryaman dalam sebuah forum akademik di Fakultas Bahasa dan Sastra Universitas Negeri Makassar. Istilah tersebut menarik karena menunjukkan kemampuan bahasa Indonesia dalam mengungkapkan konsep teknologi mutakhir melalui perspektif yang lebih dekat dengan budaya dan cara berpikir masyarakat Indonesia.

Di era kecerdasan buatan, bahasa merupakan sumber data utama. Semakin banyak artikel, buku, penelitian, dan karya ilmiah yang ditulis dalam bahasa Indonesia, semakin besar pula peluang bahasa Indonesia menjadi bagian penting dari ekosistem pengetahuan global. Oleh karena itu, Indonesia tidak cukup hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi harus menjadi produsen pengetahuan yang memperkaya sistem teknologi tersebut.

Baca Juga :  Himaprodi PBSI UNM Tutup OPen dan Pekan Pujangga dengan Gagas Seminar Kedaulatan Bahasa

Konjungsi waktu pada akhirnya mengajarkan bahwa kemajuan tidak pernah terjadi dalam satu malam. Sejak Sumpah Pemuda 1928, bahasa Indonesia telah dipilih sebagai alat pemersatu bangsa. Ketika banyak negara menghadapi persoalan identitas kebahasaan, Indonesia berhasil membangun bahasa nasional yang diterima oleh masyarakat yang sangat majemuk. Setelah lebih dari tujuh dekade kemerdekaan, bahasa Indonesia berkembang menjadi bahasa pendidikan, pemerintahan, ilmu pengetahuan, dan teknologi. Kini tantangannya adalah terus bekerja sampai bahasa Indonesia memperoleh posisi yang semakin kuat dalam percaturan global.

Kita tidak memulai dari nol. Kita memiliki sejarah, sumber daya manusia, pasar digital yang besar, dan generasi muda yang kreatif. Oleh karena itu, yang dibutuhkan bukanlah keraguan, melainkan keyakinan kolektif untuk menjadikan bahasa Indonesia sebagai instrumen kemajuan.

Jika pada opini sebelumnya konjungsi yang mengajarkan pentingnya identitas dan kejelasan, maka konjungsi waktu mengajarkan pentingnya proses dan keberlanjutan. Keduanya mengantar pada satu kesimpulan yang sama: bahasa Indonesia bukan sekadar alat komunikasi, melainkan instrumen peradaban. Apabila bangsa Indonesia mampu memanfaatkan kekuatan bahasanya untuk membangun ilmu pengetahuan, memperkuat budaya literasi, dan mengembangkan Akal Imitasi berbasis nilai-nilai kebangsaan, maka pertanyaannya bukan lagi apakah Indonesia mampu menjadi negara maju, melainkan kapan Indonesia sepenuhnya percaya bahwa dirinya memang layak menjadi bangsa maju.

Oleh : Dr. Mahmudah, M.Hum., Dosen Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah, Fakultas Bahasa dan Sastra, Universitas Negeri Makassar.

 

 

Berita Terkait

Bahasa Guru: Faktor yang Sering Diabaikan dalam Pendidikan
Dari Konjungsi yang ke Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Ilmu Pengetahuan dan Bahasa Global di Era Akal Imitasi
Sastra Lisan Makassar: Ingatan yang Sedang Kita Biarkan Pudar
Ammuntuli di Persimpangan Tradisi dan Modernitas
Pancasila dan Religiolinguistik: Rekonsiliasi Teologis-Kebangsaan
Pancasila, Cahaya Batin Republik di Tengah Riuh Zaman yang Gelisah
Identitas Calon Guru yang Kabur di Balik Krisis Mutu Guru
Sastra Indonesia dan Tugas Kemanusiaan: Membaca Trauma, Merawat Ingatan

Berita Terkait

Senin, 8 Juni 2026 - 20:26 WIB

Bahasa Guru: Faktor yang Sering Diabaikan dalam Pendidikan

Senin, 8 Juni 2026 - 16:31 WIB

Dari Konjungsi Waktu ke Kesadaran Peradaban: Meneguhkan Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Ilmu Pengetahuan dan Bahasa Global di Era Akal Imitasi

Jumat, 5 Juni 2026 - 12:59 WIB

Dari Konjungsi yang ke Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Ilmu Pengetahuan dan Bahasa Global di Era Akal Imitasi

Rabu, 3 Juni 2026 - 15:09 WIB

Sastra Lisan Makassar: Ingatan yang Sedang Kita Biarkan Pudar

Senin, 1 Juni 2026 - 19:24 WIB

Ammuntuli di Persimpangan Tradisi dan Modernitas

Berita Terbaru