Ammuntuli di Persimpangan Tradisi dan Modernitas

- Penulis

Senin, 1 Juni 2026 - 19:24 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Opini: Asis Nojeng/Dosen JBSI FBS UNM

 

Di tengah derasnya arus digitalisasi, banyak tradisi lokal perlahan mengalami pergeseran makna, bahkan kehilangan ruang hidupnya dalam praktik sosial masyarakat. Salah satu tradisi yang kini berada di persimpangan antara keberlanjutan dan kemunduran adalah ammuntuli, sebuah tradisi mengundang secara langsung yang telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Makassar.

Bagi sebagian orang, ammuntuli mungkin hanya dipahami sebagai aktivitas menyampaikan undangan dari rumah ke rumah. Namun, jika ditelaah lebih dalam, tradisi ini sesungguhnya mengandung nilai budaya yang jauh lebih kompleks dibandingkan sekadar menyampaikan informasi mengenai sebuah acara. Dalam ammuntuli terkandung penghormatan, pengakuan sosial, silaturahmi, serta upaya merawat hubungan antarmanusia yang telah dibangun sejak lama dalam struktur masyarakat Makassar.

Sayangnya, perkembangan teknologi komunikasi menghadirkan perubahan besar terhadap pola interaksi sosial masyarakat. Kehadiran telepon pintar, media sosial, dan aplikasi pesan instan membuat proses mengundang menjadi semakin mudah, cepat, dan murah. Dalam hitungan detik, undangan dapat dikirim kepada ratusan orang tanpa harus meninggalkan rumah. Efisiensi menjadi kata kunci yang sulit ditolak dalam kehidupan modern.

Namun, di balik efisiensi tersebut, terdapat pertanyaan yang patut direnungkan: apakah kemudahan teknologi mampu menggantikan seluruh nilai yang terkandung dalam tradisi ammuntuli?

Ammuntuli sebagai Ruang Sosial

Dalam masyarakat Makassar, hubungan sosial tidak dibangun semata-mata melalui komunikasi verbal, melainkan juga melalui kehadiran fisik. Kehadiran seseorang di rumah kerabat, tetangga, atau sahabat memiliki makna simbolik yang sangat kuat. Datang secara langsung menunjukkan penghormatan kepada orang yang diundang sekaligus memperlihatkan kesungguhan tuan rumah dalam mengharapkan kehadiran mereka.

Karena itu, ammuntuli bukan sekadar menyampaikan pesan, melainkan membangun kembali ikatan sosial yang mungkin mulai renggang akibat kesibukan sehari-hari. Dalam proses tersebut sering terjadi percakapan, saling bertukar kabar, hingga mempererat hubungan kekeluargaan yang menjadi fondasi masyarakat Makassar.

Tradisi ini juga mencerminkan karakter budaya Makassar yang menjunjung tinggi nilai sipakatau, yaitu saling memanusiakan. Mengundang secara langsung berarti memberikan penghargaan kepada orang lain sebagai individu yang layak ditemui, disapa, dan dihormati. Nilai tersebut sulit ditemukan ketika undangan hanya hadir dalam bentuk pesan singkat yang terkadang bahkan dikirim secara massal tanpa sapaan personal.

Modernitas dan Logika Efisiensi

Tidak dapat dipungkiri bahwa modernitas membawa banyak manfaat dalam kehidupan manusia. Teknologi komunikasi memungkinkan masyarakat menjangkau lebih banyak orang dengan biaya yang lebih rendah. Dalam konteks perkotaan yang semakin kompleks, penggunaan undangan digital sering kali menjadi pilihan yang rasional.

Masalahnya bukan terletak pada penggunaan teknologi itu sendiri, melainkan pada kecenderungan masyarakat yang mulai memandang efisiensi sebagai satu-satunya ukuran dalam bertindak. Segala sesuatu yang dianggap tidak praktis perlahan ditinggalkan, termasuk tradisi-tradisi yang sesungguhnya memiliki fungsi sosial yang penting.

Baca Juga :  Hadir Bukan Berkompetisi, Tetapi Berkolaborasi

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa masyarakat modern sering kali terjebak dalam logika instrumental; segala sesuatu dinilai berdasarkan manfaat ekonomis dan kecepatan pencapaiannya. Akibatnya, nilai-nilai yang bersifat emosional, simbolik, dan kultural menjadi kurang mendapatkan tempat.

Dalam situasi seperti ini, ammuntuli dianggap kuno, merepotkan, dan tidak relevan dengan tuntutan zaman. Padahal, yang sesungguhnya sedang dipertaruhkan bukanlah cara mengundang, melainkan kualitas hubungan sosial yang dibangun melalui cara tersebut.

Fenomena memudarnya praktik ammuntuli sesungguhnya dapat dibaca melalui berbagai perspektif ilmu sosial. Sosiolog Jerman, Max Weber, misalnya, menjelaskan bahwa masyarakat modern cenderung bergerak menuju rasionalisasi, yakni cara berpikir yang mengutamakan efisiensi, kalkulasi, dan efektivitas dalam setiap aspek kehidupan. Dalam konteks tersebut, penggunaan pesan instan atau undangan digital dianggap lebih rasional dibandingkan mengunjungi satu per satu rumah kerabat atau tetangga. Namun, Weber juga mengingatkan bahwa rasionalisasi yang berlebihan dapat mengurangi dimensi kemanusiaan dalam hubungan sosial.

Pandangan tersebut tampak relevan dengan realitas masyarakat saat ini. Ketika teknologi menjadi instrumen utama dalam membangun komunikasi, hubungan sosial perlahan kehilangan unsur emosional yang selama ini dipelihara melalui tradisi seperti ammuntuli. Kehadiran fisik digantikan oleh notifikasi, sementara percakapan hangat bergeser menjadi pesan singkat yang serba instan. Dari perspektif antropologi, Clifford Geertz memandang kebudayaan sebagai sistem makna yang diwariskan melalui simbol-simbol sosial. Tradisi bukan sekadar aktivitas yang dilakukan berulang-ulang, melainkan cara masyarakat memahami dirinya sendiri. Dengan demikian, ammuntuli tidak dapat dipahami hanya sebagai mekanisme penyampaian undangan, tetapi sebagai simbol penghormatan, pengakuan sosial, dan upaya memperkuat solidaritas dalam masyarakat Makassar.

Sementara itu, pemikir Indonesia Koentjaraningrat menegaskan bahwa kebudayaan terdiri atas sistem nilai yang menjadi pedoman perilaku masyarakat. Ketika sebuah tradisi mulai ditinggalkan, sesungguhnya yang sedang mengalami perubahan bukan hanya bentuk praktiknya, tetapi juga nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Oleh karena itu, hilangnya ammuntuli berpotensi mengurangi ruang-ruang interaksi sosial yang selama ini menjadi sarana pemeliharaan nilai kekeluargaan dan kebersamaan.

Dalam konteks masyarakat Makassar, tradisi ammuntuli juga dapat dibaca melalui nilai lokal sipakatau, sipakainge, dan sipakalabbiri. Ketiga nilai tersebut menempatkan penghormatan terhadap sesama manusia sebagai fondasi kehidupan sosial. Mengundang secara langsung bukan sekadar menyampaikan informasi mengenai sebuah acara, tetapi merupakan bentuk penghargaan terhadap martabat orang yang diundang. Karena itu, ketika ammuntuli perlahan tergeser oleh budaya digital, yang perlu dijaga bukan hanya bentuk tradisinya, melainkan juga nilai penghormatan dan keakraban yang menjadi ruh dari praktik tersebut.

Dengan kata lain, tantangan terbesar masyarakat Makassar hari ini bukanlah memilih antara tradisi atau modernitas, melainkan bagaimana memadukan keduanya agar kemajuan teknologi tidak mengikis nilai-nilai budaya yang telah lama menjadi perekat kehidupan sosial masyarakat.

Baca Juga :  Diplomasi Strategis Albanese–Prabowo : Ujian Awal GRC dalam Kebijakan Luar Negeri Regional

Kehilangan yang Tidak Disadari

Salah satu dampak yang paling terasa dari berkurangnya praktik ammuntuli adalah semakin renggangnya hubungan sosial antarmasyarakat. Ironisnya, di era ketika manusia dapat terhubung dengan siapa saja melalui teknologi, banyak orang justru mengalami keterasingan dalam kehidupan sosialnya.

Interaksi digital memang mampu mempercepat pertukaran informasi, tetapi tidak selalu mampu menggantikan kehangatan interaksi tatap muka. Sebuah pesan undangan yang dikirim melalui aplikasi mungkin berhasil menyampaikan informasi, tetapi belum tentu mampu menyampaikan rasa hormat dan kedekatan yang biasanya hadir dalam ammuntuli.

Kita sering kali tidak menyadari kehilangan tersebut karena perubahan berlangsung secara perlahan. Namun, ketika tradisi bertemu langsung mulai menghilang, masyarakat juga kehilangan ruang-ruang kecil yang selama ini berfungsi menjaga kohesi sosial. Pada titik tertentu, hubungan antarmanusia menjadi semakin formal, transaksional, dan minim kedekatan emosional.

Merawat Tradisi di Tengah Perubahan

Tentu tidak bijaksana jika kita menganggap bahwa modernitas adalah musuh tradisi. Kebudayaan selalu berkembang mengikuti perubahan zaman. Yang perlu dilakukan bukanlah menolak teknologi, melainkan mencari titik temu antara tradisi dan modernitas.

Ammuntuli tidak harus dipertahankan secara kaku sebagaimana praktik masyarakat masa lalu. Akan tetapi, nilai-nilai yang terkandung di dalamnya perlu terus diwariskan. Dalam acara-acara tertentu yang memiliki makna sosial dan kekeluargaan yang kuat, tradisi mengundang secara langsung tetap dapat dipertahankan sebagai bentuk penghormatan kepada keluarga, tokoh masyarakat, dan kerabat dekat.

Di sisi lain, teknologi dapat digunakan sebagai pelengkap, bukan pengganti sepenuhnya. Dengan cara demikian, masyarakat tetap memperoleh manfaat dari kemajuan teknologi tanpa kehilangan akar budayanya.

Persoalan terbesar yang dihadapi kebudayaan lokal saat ini bukanlah perubahan, melainkan lupa. Ketika generasi muda tidak lagi memahami makna di balik sebuah tradisi, maka tradisi tersebut perlahan akan hilang bukan karena ditolak, melainkan karena tidak lagi dianggap penting.

Menjaga Wajah Kemanusiaan

Pada akhirnya, ammuntuli mengajarkan bahwa hubungan antarmanusia tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh teknologi. Ada nilai penghormatan, kedekatan, dan kebersamaan yang hanya dapat tumbuh melalui perjumpaan langsung.

Di tengah masyarakat yang semakin sibuk dan serba digital, tradisi ammuntuli mengingatkan kita bahwa manusia pada hakikatnya adalah makhluk sosial yang membutuhkan kehadiran satu sama lain. Modernitas mungkin menawarkan kemudahan, tetapi tradisi mengajarkan makna.

Karena itu, menjaga ammuntuli bukan semata-mata menjaga sebuah tradisi lama. Lebih dari itu, ia adalah upaya menjaga wajah kemanusiaan dalam masyarakat Makassar agar tidak larut sepenuhnya dalam logika kecepatan dan efisiensi.

Sebab sebuah kebudayaan tidak hanya diukur dari kemampuannya mengikuti perkembangan zaman, tetapi juga dari kemampuannya mempertahankan nilai-nilai yang membuat manusia tetap menjadi manusia.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Berita Terkait

Pancasila dan Religiolinguistik: Rekonsiliasi Teologis-Kebangsaan
Pancasila, Cahaya Batin Republik di Tengah Riuh Zaman yang Gelisah
Identitas Calon Guru yang Kabur di Balik Krisis Mutu Guru
Sastra Indonesia dan Tugas Kemanusiaan: Membaca Trauma, Merawat Ingatan
AI Terjemahan tidak Bisa Ditolak, Tetapi Jangan Diserahkan Begitu Saja
Kecerdasan Sosial-Emosional Anak: yang Terlupakan dari Sistem Pendidikan di Indonesia
Refleksi Iduladha dan Krisis Bahasa Perdamaian di Tengah Bayang-Bayang Geng Motor 
Jangan Paksa Anak “Langsung Bisa”: Memahami Transisi PAUD ke SD yang Ramah Anak

Berita Terkait

Senin, 1 Juni 2026 - 19:24 WIB

Ammuntuli di Persimpangan Tradisi dan Modernitas

Senin, 1 Juni 2026 - 17:28 WIB

Pancasila dan Religiolinguistik: Rekonsiliasi Teologis-Kebangsaan

Senin, 1 Juni 2026 - 13:27 WIB

Pancasila, Cahaya Batin Republik di Tengah Riuh Zaman yang Gelisah

Senin, 1 Juni 2026 - 12:22 WIB

Identitas Calon Guru yang Kabur di Balik Krisis Mutu Guru

Senin, 1 Juni 2026 - 05:22 WIB

Sastra Indonesia dan Tugas Kemanusiaan: Membaca Trauma, Merawat Ingatan

Berita Terbaru

Opini

Ammuntuli di Persimpangan Tradisi dan Modernitas

Senin, 1 Jun 2026 - 19:24 WIB