Sastra Lisan Makassar: Ingatan yang Sedang Kita Biarkan Pudar

- Penulis

Rabu, 3 Juni 2026 - 15:09 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

OPINI : Dr. Abd Rahim, S.E., M.Pd. – Dosen FBS Universitas Negeri Makassar

 

Di tengah gegap gempita zaman digital, kita sering merasa sedang bergerak maju. Anak-anak semakin fasih memainkan gawai, remaja semakin akrab dengan bahasa global, dan ruang publik kita semakin dipenuhi oleh percakapan yang cepat, ringkas, dan instan. Namun, di balik semua kemajuan itu, ada satu kehilangan besar yang jarang kita sadari: perlahan-lahan kita sedang menjauh dari suara leluhur kita sendiri. Salah satu suara itu adalah sastra lisan Makassar.

Sastra lisan Makassar bukan sekadar cerita masa lalu. Ia bukan hanya dongeng pengantar tidur, bukan pula sekadar syair, petuah, atau ungkapan tradisional yang hidup di bibir orang-orang tua. Sastra lisan adalah rumah ingatan kolektif masyarakat Makassar. Di dalamnya tersimpan nilai siri’ na pacce, keberanian, kesetiaan, penghormatan kepada orang tua, etika sosial, kecerdasan hidup, serta cara masyarakat Makassar memahami dunia dan kemanusiaan.

Ketika kelong, paruntuk kana, rupama, sinrilik, dan berbagai bentuk sastra lisan lainnya mulai jarang diperdengarkan, yang hilang bukan hanya teks. Yang hilang adalah cara berpikir. Yang pudar bukan hanya bahasa, melainkan peradaban. Sebab, suatu masyarakat tidak runtuh hanya karena kehilangan bangunan fisiknya, tetapi karena kehilangan ingatan, kehilangan bahasa batinnya, dan kehilangan kebanggaan terhadap warisan kulturalnya sendiri.

Hari ini, tantangan pemertahanan sastra lisan Makassar tidak ringan. Generasi muda kita tumbuh dalam arus budaya visual yang sangat cepat. Mereka lebih akrab dengan konten viral daripada tuturan leluhur. Mereka lebih mudah menghafal lirik lagu populer daripada ungkapan-ungkapan kearifan lokal. Ini bukan sepenuhnya kesalahan generasi muda. Ini adalah cermin bahwa kita, sebagai orang tua, pendidik, budayawan, akademisi, dan pemangku kebijakan, belum cukup serius menghadirkan sastra lisan Makassar dalam ruang hidup mereka.

Baca Juga :  Guru Pedalaman di Era Digital: Ketimpangan, Perjuangan, Dan Asa Baru

Pemertahanan sastra lisan Makassar tidak boleh berhenti pada nostalgia. Kita tidak cukup hanya berkata bahwa dulu sastra lisan begitu indah, begitu dalam, dan begitu bernilai. Pertanyaannya adalah: apa yang kita lakukan hari ini agar ia tetap hidup besok? Sastra lisan tidak akan bertahan hanya dengan kekaguman. Ia harus diajarkan, didokumentasikan, dipentaskan, diteliti, ditulis ulang, didigitalisasi, dan dibawa masuk ke ruang-ruang pendidikan serta media baru.

Sekolah dan kampus memiliki tanggung jawab besar dalam hal ini. Sastra lisan Makassar harus diposisikan bukan sebagai pelengkap folklor semata, tetapi sebagai sumber pendidikan karakter, literasi budaya, dan penguatan identitas lokal. Anak-anak Makassar perlu mengenal bahwa di balik setiap tuturan leluhur terdapat pelajaran hidup yang tidak kalah penting dari teori-teori modern. Di dalam sastra lisan, mereka belajar tentang harga diri, solidaritas, tanggung jawab, kepemimpinan, dan kepekaan sosial.

Namun, pelestarian juga harus mengikuti bahasa zaman. Sastra lisan Makassar tidak boleh hanya disimpan di rak arsip atau dibicarakan dalam seminar akademik. Ia harus hadir di panggung digital: dalam video pendek, podcast budaya, animasi, film dokumenter, konten Instagram, TikTok edukatif, buku cerita anak, hingga bahan ajar interaktif. Jika generasi muda hidup di dunia digital, maka sastra lisan Makassar harus berani masuk ke dunia digital tanpa kehilangan martabat kulturalnya.

Kita perlu berhenti memperlakukan budaya lokal sebagai sesuatu yang tua, jauh, dan seremonial. Sastra lisan Makassar justru sangat relevan untuk menjawab krisis zaman hari ini. Ketika masyarakat semakin individualistis, nilai pacce mengajarkan empati. Ketika ruang publik dipenuhi ujaran kebencian, petuah leluhur mengajarkan kesantunan. Ketika anak muda kehilangan arah identitas, sastra lisan memberi akar. Ketika pendidikan terlalu sibuk mengejar angka, sastra lisan mengingatkan bahwa manusia tidak hanya perlu cerdas, tetapi juga beradab.

Baca Juga :  Kecerdasan Sosial-Emosional Anak: yang Terlupakan dari Sistem Pendidikan di Indonesia

Pemertahanan sastra lisan Makassar pada akhirnya adalah pemertahanan martabat. Ia adalah upaya menjaga agar masyarakat Makassar tidak menjadi asing di tanah budayanya sendiri. Sebab, bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang mampu membangun gedung tinggi dan teknologi canggih, tetapi bangsa yang mampu mendengar kembali suara leluhurnya, lalu menjadikannya suluh untuk melangkah ke masa depan.

Jika sastra lisan Makassar hilang, kita tidak sekadar kehilangan cerita. Kita kehilangan cermin untuk mengenali siapa kita. Kita kehilangan jembatan antara masa lalu dan masa depan. Kita kehilangan bahasa kebijaksanaan yang selama ini membentuk watak masyarakat.

Karena itu, pemertahanan sastra lisan Makassar bukan pilihan, melainkan keharusan sejarah. Ia harus menjadi gerakan bersama: keluarga, sekolah, kampus, komunitas budaya, pemerintah, media, dan generasi muda. Jangan sampai suatu hari nanti kita hanya mampu menyebut nama-nama warisan itu, tetapi tidak lagi memahami maknanya. Jangan sampai kita baru merasa kehilangan ketika suara-suara itu benar-benar telah diam.

Sastra lisan Makassar harus terus hidup. Bukan sebagai pajangan masa lalu, tetapi sebagai napas kebudayaan hari ini. Sebab selama kelong masih dinyanyikan, selama petuah masih dituturkan, selama cerita leluhur masih diwariskan, maka selama itu pula Makassar tidak kehilangan jiwanya.

 

 

 

Berita Terkait

Ammuntuli di Persimpangan Tradisi dan Modernitas
Pancasila dan Religiolinguistik: Rekonsiliasi Teologis-Kebangsaan
Pancasila, Cahaya Batin Republik di Tengah Riuh Zaman yang Gelisah
Identitas Calon Guru yang Kabur di Balik Krisis Mutu Guru
Sastra Indonesia dan Tugas Kemanusiaan: Membaca Trauma, Merawat Ingatan
AI Terjemahan tidak Bisa Ditolak, Tetapi Jangan Diserahkan Begitu Saja
Kecerdasan Sosial-Emosional Anak: yang Terlupakan dari Sistem Pendidikan di Indonesia
Refleksi Iduladha dan Krisis Bahasa Perdamaian di Tengah Bayang-Bayang Geng Motor 

Berita Terkait

Rabu, 3 Juni 2026 - 15:09 WIB

Sastra Lisan Makassar: Ingatan yang Sedang Kita Biarkan Pudar

Senin, 1 Juni 2026 - 19:24 WIB

Ammuntuli di Persimpangan Tradisi dan Modernitas

Senin, 1 Juni 2026 - 17:28 WIB

Pancasila dan Religiolinguistik: Rekonsiliasi Teologis-Kebangsaan

Senin, 1 Juni 2026 - 13:27 WIB

Pancasila, Cahaya Batin Republik di Tengah Riuh Zaman yang Gelisah

Senin, 1 Juni 2026 - 05:22 WIB

Sastra Indonesia dan Tugas Kemanusiaan: Membaca Trauma, Merawat Ingatan

Berita Terbaru

Opini

Ammuntuli di Persimpangan Tradisi dan Modernitas

Senin, 1 Jun 2026 - 19:24 WIB