Pancasila dan Religiolinguistik: Rekonsiliasi Teologis-Kebangsaan

- Penulis

Senin, 1 Juni 2026 - 17:28 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

OPINI : Muhammad Saleh/Dosen Bahasa dan Sastra UNM

Hari ini, 1 Juni 2026, kita kembali memperingati Hari Lahir Pancasila dengan khidmat. Di tengah kibaran bendera dan gema lagu kebangsaan, sebuah refleksi mendasar patut kita timbang kembali: mengapa setelah lebih dari delapan dekade merdeka, sesekali masih muncul riak-riak artifisial yang mempertentangkan antara kesalehan beragama dan kesetiaan bernegara? Seolah-olah menjadi seorang nasionalis yang menjaga Pancasila dapat mengurangi kadar keimanan, atau sebaliknya, ekspresi keagamaan yang kuat dianggap sebagai ancaman bagi tenun kebangsaan.

​Untuk mengurai sumbatan konseptual ini, kita membutuhkan pisau analisis yang segar. Di sinilah Religiolinguistik—sebuah disiplin ilmu yang membedah titik temu antara bahasa, teks, dan kesadaran religius—hadir memberikan perspektif baru. Melalui kacamata religiolinguistik, kita akan menyadari bahwa Pancasila bukanlah teks profan yang dipaksakan untuk menggusur nilai-nilai ketuhanan. Sebaliknya, Pancasila adalah sebuah mahakarya ijtihad linguistik, sebuah kalimatun sawa (titik temu) yang merekonsiliasikan teologi dan kebangsaan secara paripurna.

Diksi Qur’ani dan Ijtihad Bahasa Para Pendiri Bangsa

​Jika kita membedah anatomi kebahasaan dalam sila-sila Pancasila, kita akan menemukan jejak spiritualitas yang sangat mendalam. Pilihan diksi seperti Ketuhanan, Adil, Adab, Rakyat, Hikmat, Permusyawaratan, hingga Keadilan, mayoritas merupakan serapan dari khazanah bahasa Al-Qur’an dan tradisi keagamaan yang telah lama mengakar di Nusantara.

Baca Juga :  Sastra Indonesia dan Tugas Kemanusiaan: Membaca Trauma, Merawat Ingatan

​Para pendiri bangsa (founding fathers) tidak sedang melakukan eksperimen politik yang sekuler; mereka melakukan purifikasi makna. Mereka memilih kata-kata yang memiliki resonansi spiritual tinggi. Efeknya, ketika sila-sila itu diucapkan, kata-kata tersebut tidak hanya menggetarkan rasio politik warga negara, tetapi juga mengetuk relung sanubari keimanan mereka yang paling dalam.

Daya Translokusi Sila Pertama: Melampaui Sekat Dogmatis

​Lebih jauh lagi, jika dibedah menggunakan pengembangan Teori Tindak Tutur, dinamika kebahasaan Pancasila sesungguhnya telah mencapai level Translokusi—sebuah dimensi melampaui batas teks lahiriah (lokusi) dan maksud fungsionalnya (ilokusi). Ambil contoh Sila Pertama: “Ketuhanan Yang Maha Esa”. Secara lokutif, ia adalah untaian kalimat dalam konstitusi. Secara ilokutif, ia adalah kesepakatan politik untuk menolak sekularisme ekstrem sekaligus tidak menjadikan Indonesia sebagai negara teokrasi.

​Namun, secara translokutif, kalimat ini melompat melampaui sekat-sekat dogmatis yang kaku. Teks Sila Pertama memiliki daya transformatif transendental; ia memancarkan energi spiritual yang membuat setiap pemeluk agama di Indonesia merasa “Tuhannya diakui dan diagungkan”, sekaligus di saat yang sama merasa “hak-hak kewarganegaraannya dilindungi penuh”. Ruang sakral bersama (common sacred space) inilah yang berhasil diciptakan oleh Pancasila. Ia melampaui teks-teks partikular demi melahirkan kemaslahatan universal (rahmatan lil ‘alamin).

Baca Juga :  Ketika Timnas Sepak Bola Indonesia Dicaci dan Dipuja

Dakwah Kebangsaan: Membumikan Pesan Langit ke Ranah Publik

​Dalam konteks dakwah kontemporer di era digital ini, tugas para dai, akademisi, dan pemuka agama adalah menggemakan narasi kebangsaan yang berwawasan translokutif. Dakwah tidak boleh lagi terjebak pada dikotomi usang yang membenturkan antara teks suci dan teks konstitusi.

​Menjaga Pancasila, merawat persatuan, dan menegakkan keadilan sosial harus diposisikan sebagai laku spiritual yang nyata—sebuah manifestasi dari nilai ihsan dalam bernegara. Ketika seorang warga negara menjaga kedamaian dan menolak korupsi, ia tidak hanya sedang menaati hukum negara, tetapi sedang menjalankan perintah Tuhan.

Penutup: Pancasila sebagai Kanvas Harmoni

​Pancasila sama sekali bukan musuh bagi agama; ia adalah kanvas indah tempat bahasa langit dan cita-cita bumi berpadu dengan harmonis. Melalui religiolinguistik, kita disadarkan bahwa merawat Indonesia adalah bagian dari merawat amanah Ilahi.

Selamat Hari Lahir Pancasila. Mari kita melangkah melampaui teks, merawat konteks, demi mewujudkan Indonesia yang beradab, bersatu, dan senantiasa diberkahi.(*)

Berita Terkait

Menjaga Maruah Kedaulatan Rakyat di Tengah Tarik-Menarik Kepentingan Politik yang Berkaitan Putusan MK di UU Pilkada
Panggilan Setengah Abad: Ketika Takdir Menghentikan Kapal dan Mempertemukan Dua Sahabat
Transformasi Validasi Karya Ilmiah: FEB UNM Sosialisasikan Situs Web SKRIPSI-NAV untuk Memperkuat Integritas Akademik
Bahasa Guru: Faktor yang Sering Diabaikan dalam Pendidikan
Dari Konjungsi Waktu ke Kesadaran Peradaban: Meneguhkan Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Ilmu Pengetahuan dan Bahasa Global di Era Akal Imitasi
Dari Konjungsi yang ke Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Ilmu Pengetahuan dan Bahasa Global di Era Akal Imitasi
Sastra Lisan Makassar: Ingatan yang Sedang Kita Biarkan Pudar
Ammuntuli di Persimpangan Tradisi dan Modernitas

Berita Terkait

Selasa, 14 Juli 2026 - 18:08 WIB

Menjaga Maruah Kedaulatan Rakyat di Tengah Tarik-Menarik Kepentingan Politik yang Berkaitan Putusan MK di UU Pilkada

Jumat, 10 Juli 2026 - 17:46 WIB

Panggilan Setengah Abad: Ketika Takdir Menghentikan Kapal dan Mempertemukan Dua Sahabat

Selasa, 9 Juni 2026 - 06:50 WIB

Transformasi Validasi Karya Ilmiah: FEB UNM Sosialisasikan Situs Web SKRIPSI-NAV untuk Memperkuat Integritas Akademik

Senin, 8 Juni 2026 - 20:26 WIB

Bahasa Guru: Faktor yang Sering Diabaikan dalam Pendidikan

Senin, 8 Juni 2026 - 16:31 WIB

Dari Konjungsi Waktu ke Kesadaran Peradaban: Meneguhkan Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Ilmu Pengetahuan dan Bahasa Global di Era Akal Imitasi

Berita Terbaru

POLITIK BAHASA

Bahasa Indonesia sebagai Rumah Bersama 280 Juta Penduduk

Rabu, 22 Jul 2026 - 09:22 WIB