Tetaplah Ber-NU Sampai Hayat di Kandung Badan

- Penulis

Kamis, 1 Oktober 2026 - 12:35 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Zaenuddin Endy
Ketua DPP IKAPM Al-junaidiyah Bone

Ada saatnya kita berada di depan, ada saatnya kita berjalan di belakang. Ada masa ketika kita dipercaya memegang amanah, ada masa ketika amanah itu berpindah kepada orang lain. Begitulah kehidupan organisasi. Tidak ada yang selamanya berada di atas, sebagaimana tidak ada yang selamanya berada di bawah. Tetapi ada sesuatu yang semestinya tidak ikut berpindah, yakni cinta dan khidmah.

Tetaplah berkhidmah di NU. Jadi pengurus atau tidak, tetaplah mengabdi. Diberi amanah atau tidak, tetaplah berbuat. Dipuji atau tidak dipuji, tetaplah memberi manfaat. Sebab khidmah yang lahir dari keikhlasan tidak membutuhkan panggung untuk tetap menyala.

Jangan ukur kecintaan kepada NU dari posisi yang kita duduki. Jangan pula ukur pengabdian dari seberapa besar kewenangan yang kita miliki. Sebab bisa jadi, seseorang yang tidak memiliki jabatan justru lebih banyak berbuat daripada mereka yang berada di dalam struktur.

Dalam khidmah, ada yang terlihat dan ada yang tidak terlihat. Ada yang namanya disebut, ada yang namanya bahkan tidak pernah tercatat. Tetapi di hadapan Allah, bukan nama yang menjadi ukuran, melainkan niat dan amal.

Baca Juga :  Pendidikan Sebagai Ruh Kebangkitan Nasional di Era Digital Berbasis Budaya

Maka ketika menang, jangan merasa paling berjasa. Ketika kalah, jangan merasa tidak berguna. Kemenangan adalah ujian tentang kerendahan hati, sementara kekalahan adalah ujian tentang keikhlasan. Keduanya sama-sama membutuhkan kesabaran.

Jangan tinggalkan rumah besar ini hanya karena kita tidak mendapatkan kamar yang kita inginkan. Jangan meninggalkan NU hanya karena nama kita tidak berada dalam struktur. Sebab rumah para ulama ini jauh lebih luas daripada sekadar kursi dan jabatan.

Kita mungkin kecewa kepada seseorang, tetapi jangan sampai kekecewaan kepada seseorang membuat kita kehilangan kecintaan kepada NU. Kita mungkin berbeda pilihan, tetapi jangan sampai perbedaan pilihan memutus persaudaraan. Kita mungkin kalah dalam sebuah kontestasi, tetapi jangan sampai kekalahan itu mengalahkan semangat khidmah.

Bukankah para ulama mengajarkan kita untuk berbuat tanpa selalu menunggu balasan?
Khidmah adalah jalan sunyi. Kadang tidak dipuji, bahkan disalahpahami. Kadang diberi tempat, kadang dilupakan. Tetapi orang yang telah menemukan makna khidmah tidak terlalu sibuk bertanya, “Apa yang akan saya dapatkan?” Ia lebih sering bertanya, “Apa yang masih bisa saya berikan?”

Di situlah letak keindahan pengabdian.
Sebab pada akhirnya, jabatan akan selesai. Periode kepengurusan akan berakhir. Nama-nama akan berganti. Struktur akan berubah. Tetapi amal baik yang dilakukan dengan ikhlas akan tetap menjadi jejak.

Baca Juga :  AI Singularity Bisa Terjadi Dalam 12 Bulan : Apakah Kita Siap ?

Karena itu, tetaplah ber-NU dalam keadaan lapang maupun sempit. Tetaplah ber-NU ketika menang maupun kalah. Tetaplah ber-NU ketika dipanggil maupun ketika tidak lagi dipanggil.

Jika hari ini kita dipercaya, tunaikan amanah dengan sebaik-baiknya.
Jika esok amanah itu berpindah, relakan dengan lapang dada.
Jika kita berada di depan, jangan lupa melihat mereka yang berada di belakang.
Jika kita berada di belakang, jangan berhenti mendoakan mereka yang berada di depan.

Sebab kita tidak sedang berlomba menjadi yang paling terlihat. Kita sedang belajar menjadi orang yang paling tulus dalam berkhidmah.
Tetaplah mencintai NU. Tetaplah menjaga Aswaja. Tetaplah menghormati ulama. Tetaplah merawat tradisi. Tetaplah mengabdi kepada umat.

Selagi hayat masih dikandung badan, jangan berhenti berkhidmah.
Sebab jabatan memiliki masa, tetapi khidmah tidak mengenal masa jabatan.
Posisi boleh berganti. Pengurus boleh berganti. Zaman boleh berubah. Tetapi cinta kepada NU semoga tetap tinggal dihayat sampai akhir hayat.

Berita Terkait

Jika Stok Aman, Mengapa Makassar Tetap Mengantre?
Menjaga Maruah Kedaulatan Rakyat di Tengah Tarik-Menarik Kepentingan Politik yang Berkaitan Putusan MK di UU Pilkada
Panggilan Setengah Abad: Ketika Takdir Menghentikan Kapal dan Mempertemukan Dua Sahabat
Transformasi Validasi Karya Ilmiah: FEB UNM Sosialisasikan Situs Web SKRIPSI-NAV untuk Memperkuat Integritas Akademik
Bahasa Guru: Faktor yang Sering Diabaikan dalam Pendidikan
Dari Konjungsi Waktu ke Kesadaran Peradaban: Meneguhkan Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Ilmu Pengetahuan dan Bahasa Global di Era Akal Imitasi
Dari Konjungsi yang ke Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Ilmu Pengetahuan dan Bahasa Global di Era Akal Imitasi
Sastra Lisan Makassar: Ingatan yang Sedang Kita Biarkan Pudar

Berita Terkait

Kamis, 1 Oktober 2026 - 12:35 WIB

Tetaplah Ber-NU Sampai Hayat di Kandung Badan

Sabtu, 12 September 2026 - 12:53 WIB

Jika Stok Aman, Mengapa Makassar Tetap Mengantre?

Selasa, 14 Juli 2026 - 18:08 WIB

Menjaga Maruah Kedaulatan Rakyat di Tengah Tarik-Menarik Kepentingan Politik yang Berkaitan Putusan MK di UU Pilkada

Jumat, 10 Juli 2026 - 17:46 WIB

Panggilan Setengah Abad: Ketika Takdir Menghentikan Kapal dan Mempertemukan Dua Sahabat

Selasa, 9 Juni 2026 - 06:50 WIB

Transformasi Validasi Karya Ilmiah: FEB UNM Sosialisasikan Situs Web SKRIPSI-NAV untuk Memperkuat Integritas Akademik

Berita Terbaru

Nasional

Pengamat Akuntabilitas : Kabinet Gemuk, APBN Terjepit

Sabtu, 3 Okt 2026 - 12:50 WIB