SURABAYA, JAWA TIMUR (KabarPROFESIANA.co.id)— Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional, Prof. Arif Satria, menegaskan pentingnya riset sejarah dan kebudayaan sebagai fondasi strategis dalam membangun arah masa depan bangsa. Hal tersebut disampaikannya saat menjadi keynote speaker dalam Diskusi Panel mengenai riset peradaban Nusantara-Indonesia pada kegiatan Forum Rector’s Expression (REx) Chapter 3, Sabtu (9/5/2026) di Auditorium Lantai 11 Kantor Rektorat Universitas Negeri Surabaya (UNESA).
Sebelum dimulai sesi diskusi panel, Ketua Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri (MRPTNI), Prof.Dr. Ir. Eduart Wolok, S.T., M.T. menyampaikan bahwa penyelenggaraan REx Chapter 1 di Universitas Hasanuddin (UNHAS) Makassar, REx Chapter 2 di Universitas Sumatera Utara (USU) Medan, dan REx Chapter 3 di Universitas Negeri Surabaya (UNESA). Kegiatan REx dilaksanakan setiap sebagai ajang berbagi pendapat untuk memberikan kontribusi positif dalam pembangunan bangsa menuju Indonesia Emas.
Dalam paparan Prof. Arif Satria yang bertajuk “Sejarah dan Budaya sebagai Rute Peradaban dan Energi Potensial Bangsa”, Prof. Arif menekankan bahwa Indonesia tidak dapat lagi dipandang semata sebagai wilayah geografis di kawasan Asia Tenggara, melainkan sebagai titik temu peradaban dunia yang memiliki posisi strategis secara historis, budaya, dan geopolitik.
“Indonesia bukan sekadar ‘Far East’, tetapi sebuah nexus dan crossroads peradaban dunia,” tegasnya. Menurutnya, posisi Nusantara yang berada di antara Samudra Hindia dan Pasifik telah menjadikan Indonesia sebagai jalur utama pertukaran budaya, perdagangan, hingga perkembangan ilmu pengetahuan sejak ribuan tahun lalu.
Prof. Arif juga menyoroti kekayaan antropologis Indonesia yang disebutnya sebagai salah satu terbesar di dunia. Dengan lebih dari 1.340 kelompok etnis dan 718 bahasa daerah, Indonesia memiliki modal peradaban yang sangat besar untuk dikembangkan melalui pendekatan riset yang terintegrasi dan berbasis bukti ilmiah.
Dalam forum tersebut, BRIN memperkenalkan agenda besar “Riset Rute Peradaban Nusantara-Indonesia”, yakni program penelitian sejarah dan kebudayaan yang dirancang secara ekstensif, komprehensif, integratif, lintas disiplin, serta berjangka panjang. Riset ini diarahkan untuk merekonstruksi perjalanan panjang peradaban Nusantara dalam berbagai aspek, mulai dari politik, ekonomi, sosial budaya, teknologi, maritim, hingga jaringan global Nusantara.
Menurut Prof. Arif, riset sejarah tidak boleh lagi diposisikan sebagai kajian romantisme masa lalu, melainkan instrumen strategis untuk membaca arah masa depan bangsa. Ia menilai bangsa yang kehilangan memori sejarah berpotensi kehilangan orientasi pembangunan dan identitas kebangsaannya.
“Menulis masa depan Indonesia harus dimulai dari pengetahuan tentang diri sendiri,” ujarnya.
Lebih lanjut, Kepala BRIN menegaskan bahwa penelitian sejarah dan budaya harus dibangun di atas empat prinsip utama, yakni perspektif orang dalam (insider perspective), pendekatan multidisiplin, basis scientific evidence, serta orientasi kebangsaan dan masa depan.
Ia juga mengungkapkan sejumlah temuan penting yang memperkuat posisi Indonesia dalam peta peradaban dunia, antara lain jejak awal peradaban Nusantara sejak 1,8 juta tahun lalu, keberadaan Homo floresiensis sebagai spesies endemik, hingga temuan amputasi dan lukisan tertua di dunia.
Dalam konteks penguatan ekosistem riset nasional, BRIN mendorong kolaborasi lintas lembaga dan disiplin sebagai kekuatan utama pengembangan riset humaniora strategis. Upaya tersebut didukung dengan keberadaan 52 kampus riset berbasis open platform yang dapat dimanfaatkan untuk pengembangan penelitian nasional.
Menutup paparannya, Prof. Arif menegaskan bahwa riset peradaban harus diarahkan tidak hanya untuk penguatan identitas nasional, tetapi juga sebagai instrumen diplomasi budaya dan transformasi pengetahuan menjadi kebijakan publik yang berdampak nyata.
Diskusi panel ini menjadi momentum penting dalam mendorong lahirnya paradigma baru pembangunan Indonesia yang tidak hanya bertumpu pada ekonomi dan teknologi, tetapi juga pada kekuatan sejarah, budaya, dan pengetahuan peradaban bangsa sendiri. (Den/Ans/Why)


























