MAKASSAR, SULAWESI SELATAN (Kabar PROFESIANA.co.id) – Maestro teater asal Makassar, Bahar Merdhu, membagikan ilmu penyutradaraan dalam sesi kedua Kuliah Praktisi yang digelar oleh Studio Sastra Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia (JBSI) UNM di Ruang Seminar JBSI, Senin (20/04). Tokoh di balik Rombongan Sandiwara Petta Puang ini menekankan bahwa seorang sutradara harus memiliki manajemen kerja yang sistematis dan detail.
Dalam pemaparannya, Bahar Merdhu memperkenalkan “Tabel Kerja Sutradara” sebagai panduan dalam memproses sebuah pertunjukan. Ia merinci tahapan kerja mulai dari pemilihan naskah, durasi penelitian, jadwal pembacaan (reading), hingga manajemen latihan blocking dan penataan artistik.
“Teater selalu butuh kebaruan dan pencarian terus-menerus. Kita harus melakukan pencarian untuk menemukan sesuatu yang baru agar panggung memiliki daya pikat,” ungkapnya di hadapan mahasiswa JBSI.
Bahar menjelaskan bahwa tugas seorang sutradara tidak hanya mengatur posisi pemain, tetapi juga harus mampu mengajar dan mengarahkan aktor melalui eksplorasi gestur serta pelafalan. Menurutnya, seorang sutradara harus mampu mengendalikan aktor untuk menghasilkan permainan yang inovatif.
”Sutradara harus bisa mengarahkan pemainnya melalui gestur dan pelafalan. Misalnya, saat memerankan seorang tokoh, jangan hanya membayangkan tokoh itu ada di tempat lain, tapi bagaimana imajinasi itu ditarik ke dalam diri dan dieksplorasi di atas panggung,” jelas Bahar.
Sesi ini berlangsung dinamis saat Bahar Merdhu mengajak mahasiswa mempraktikkan langsung cara melaporkan karakter melalui gestur tubuh. Ia menekankan bahwa melalui eksplorasi yang mendalam, mahasiswa dapat menemukan bentuk-bentuk permainan yang unik dan berbeda dari biasanya.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa JBSI diharapkan tidak hanya memahami teori penyutradaraan di dalam kelas, tetapi juga mampu mengimplementasikan kerja-kerja teknis dan kreatif sutradara dalam sebuah proses produksi teater yang profesional. (Den/Ans/Why)













