Opini : Ahmad Razak
Dosen Fakultas Psikologi UNM
Di era modern, manusia hidup dalam budaya instan, kompetisi tanpa jeda, dan orientasi material yang sering mengukur keberhasilan hanya dari pencapaian duniawi. Akibatnya, banyak orang kehilangan kemampuan untuk berkorban demi nilai yang lebih tinggi. Kualitas sebuah peradaban tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi, tetapi juga oleh kemampuan manusianya menunda kepentingan pribadi demi kemaslahatan yang lebih luas. Nabi Ibrahim dan keluarganya menghadirkan teladan agung tentang pengorbanan sebagai life style, bukan sebatas ritual sesaat, tetapi cara hidup yang dibangun atas dasar cinta, iman, dan tanggung jawab moral.
Kisah Nabi Ibrahim, Siti Hajar, dan Nabi Ismail adalah sebuah life history yang meninggalkan jejak-jejak spiritualitasnya. Ia adalah simbol ketahanan psikologis (psychological resilience), kematangan spiritual, dan pengendalian diri. Ketika Ibrahim meninggalkan Hajar dan Ismail di lembah tandus Makkah, itu bukan tindakan tanpa logika, melainkan keputusan berbasis keyakinan transendental. Al-Qur’an mengabadikan doa Ibrahim: “Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanaman…” (QS. Ibrahim: 37). Ayat ini menunjukkan bahwa pengorbanan selalu memiliki orientasi masa depan. Dalam teori psikologi Viktor Frankl tentang logotherapy, manusia mampu bertahan menghadapi penderitaan ketika ia menemukan makna di balik pengorbanannya. Ibrahim menemukan makna itu dalam ketaatan kepada Allah.
Pengorbanan melatih kemampuan delayed gratification, yakni kemampuan menunda kenikmatan demi tujuan yang lebih besar. Teori Walter Mischel melalui eksperimen Marshmallow Test menunjukkan bahwa individu yang mampu menahan diri berpotensi memiliki keberhasilan hidup yang lebih baik dalam aspek akademik, sosial, dan emosional. Keluarga Ibrahim mengajarkan bahwa kemuliaan tidak lahir dari kenyamanan, tetapi dari kesediaan menahan ego. Ismail rela dikorbankan, Hajar rela ditinggalkan, dan Ibrahim rela melepaskan sesuatu yang paling dicintainya. Pengorbanan mereka bukan kelemahan, melainkan puncak kekuatan jiwa.
Allah Swt menegaskan dalam Al-Qur’an: “Kamu sekali-kali tidak akan memperoleh kebajikan yang sempurna sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai.” (QS. Ali Imran: 92). Ayat ini memperlihatkan bahwa inti pengorbanan bukan pada jumlah yang diberikan, tetapi pada kadar cinta terhadap sesuatu yang dilepaskan. Dalam psikologi humanistik Abraham Maslow, manusia mencapai puncak aktualisasi diri ketika hidupnya melampaui kepentingan pribadi menuju nilai-nilai transendensi. Karena itu, orang yang gemar berkorban sejatinya sedang membangun kualitas kemanusiaannya sendiri.
Dalam konteks pemerintahan, spirit pengorbanan sangat relevan untuk melahirkan pemimpin yang berintegritas. Krisis birokrasi modern sering muncul karena jabatan dijadikan alat memperkaya diri, bukan amanah pelayanan. Padahal kepemimpinan Ibrahim menunjukkan bahwa pemimpin sejati bersedia memikul beban rakyat, bukan membebani rakyat. Pengorbanan dalam pemerintahan dapat diwujudkan melalui kejujuran anggaran, keberanian mengambil keputusan demi kepentingan masyarakat, dan kesediaan hidup sederhana. Negara akan kehilangan nurani ketika para pemimpinnya hanya mengejar privilese, tetapi melupakan pengabdian.
Di lingkungan institusi dan organisasi, budaya pengorbanan melahirkan solidaritas dan loyalitas. Sebuah lembaga tidak akan tumbuh hanya dengan kecerdasan individu, tetapi dengan kesediaan seluruh elemen untuk saling menopang. Dalam teori social exchange, hubungan yang sehat dibangun atas prinsip saling memberi, bukan semata menuntut hak. Ketika pimpinan rela mendengar bawahannya, dosen rela meluangkan waktu membimbing mahasiswa, atau pegawai rela bekerja melampaui kepentingan pribadi demi kemajuan institusi, maka organisasi akan memiliki ruh. Sebaliknya, institusi yang dipenuhi ego personal akan mudah retak oleh konflik kepentingan.
Dalam dunia akademik dan pendidikan, pengorbanan adalah fondasi lahirnya generasi unggul. Seorang guru yang ikhlas mendidik sesungguhnya sedang menanam peradaban jangka panjang. Pendidikan tidak cukup hanya transfer ilmu, tetapi juga transfer keteladanan moral. Nabi Ibrahim mendidik Ismail bukan dengan kemewahan, tetapi dengan keteladanan spiritual dan dialog penuh cinta. Ketika Ibrahim berkata kepada Ismail tentang perintah penyembelihan, Ismail menjawab: “Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu…” (QS. Ash-Shaffat: 102). Ini menunjukkan adanya secure attachment dalam psikologi keluarga, yakni hubungan emosional yang kuat antara orang tua dan anak sehingga melahirkan kepercayaan dan kepatuhan yang sehat.
Di tengah kehidupan keluarga modern, pengorbanan sering tergantikan oleh transaksi kepentingan. Banyak keluarga hidup serumah tetapi kehilangan kedekatan emosional karena sibuk dengan dunia masing-masing. Keluarga Ibrahim mengajarkan bahwa cinta sejati dibangun dengan pengorbanan, bukan sekadar kenyamanan material. Orang tua yang mengorbankan waktu demi mendengar anaknya, suami yang bekerja dengan amanah, dan istri yang menjaga kehangatan rumah tangga adalah bentuk ibadah sosial yang sangat bernilai. Dalam teori family systems, keluarga yang sehat ditandai oleh kemampuan setiap anggota menempatkan kepentingan bersama di atas ego pribadi.
Lebih jauh dari itu, pengorbanan sebagai life style juga membentuk kesehatan mental masyarakat. Banyak gangguan psikologis modern lahir dari kehidupan yang terlalu berpusat pada diri sendiri (self-centered life). Ketika manusia hanya mengejar kepuasan pribadi, ia mudah mengalami kehampaan eksistensial. Sebaliknya, orang yang hidup untuk memberi dan melayani cenderung memiliki makna hidup lebih tinggi serta tingkat kebahagiaan yang lebih stabil. Rasulullah saw bersabda: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” Hadis ini menegaskan bahwa nilai hidup seseorang diukur dari kontribusinya, bukan dari banyaknya yang ia miliki.
Momentum Idul kurban ini sejatinya bukan hanya tentang menyembelih hewan qurban, tetapi menyembelih egoisme dalam diri manusia modern. Dunia hari ini membutuhkan lebih banyak pribadi seperti Ibrahim: yang rela berkorban demi kebenaran, seperti Hajar: yang tangguh dalam kesulitan, dan seperti Ismail: yang taat dengan penuh kesadaran. Jika spirit pengorbanan itu hidup dalam pemerintahan, institusi, pendidikan, dan keluarga, maka masyarakat tidak hanya akan maju secara teknologi, tetapi juga matang secara moral dan spiritual. Sebab sesungguhnya, peradaban besar tidak dibangun oleh manusia yang hanya pandai menikmati, tetapi oleh manusia yang bersedia berkorban. Wallahu a’lam.
Oleh : Ahmad Razak / Dosen Fakultas Psikologi UNM


























