oleh: Dr. Mahmudah, M.Hum. Ketua Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah Sulawesi Selatan
Pada 10 Oktober 2026, Majalah Suara ‘Aisyiyah mencapai usia 100 tahun. Capaian ini tidak dapat dipandang sebagai keberhasilan penerbitan yang berdiri sendiri. Sebagaimana ditegaskan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof. Dr. Haedar Nashir, dalam tulisan “Suara ‘Aisyiyah, Majalah Perempuan Berkemajuan” (Edisi 10, Tahun ke-100, Oktober 2026), keberlanjutan majalah ini melekat pada entitas organisasi yang menaunginya, yaitu ‘Aisyiyah. Seabad Suara ‘Aisyiyah bukan sekadar usia, melainkan bukti bahwa literasi menjadi kekuatan perempuan untuk membangun pengetahuan, memperluas kesadaran, dan menggerakkan perubahan.
Tantangan hari ini ialah menjadikan majalah ini media tepercaya sekaligus sumber pengetahuan yang menjangkau pembaca lintas negara.
Sejarah yang Menyiapkan Masa Depan
Suara ‘Aisyiyah terbit kali pertama pada Oktober 1926, dua tahun sebelum Sumpah Pemuda mengikrarkan Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Pada 1930, Kongres ‘Aisyiyah ke-19 di Bukittinggi menyerukan kursus Bahasa Indonesia di cabang-cabang. Penggunaan bahasa Jawa dan Bahasa Indonesia dalam penerbitan pada awal 1930-an menunjukkan perluasan komunikasi dari lingkungan lokal menuju pembaca yang lebih luas.
Sejarah ini menegaskan bahwa bahasa yang menjangkau banyak orang memperluas akses pada gagasan dan partisipasi publik.
Warisan ini adalah amanah. Jika pendahulu memperluas akses membaca dan berbahasa persatuan, generasi kini perlu memperluas akses pengetahuan bermutu di ekosistem digital. Keberlanjutan Suara ‘Aisyiyah diukur melalui mutu gagasan, kepercayaan pembaca, dan perubahan yang dihasilkan.
Media Tepercaya di Tengah Krisis Informasi
Penelitian lintas negara menguatkan urgensi media tepercaya. Antonis Kalogeropoulos, Jane Suiter, Linards Udris, dan Mark Eisenegger (2019), melalui studi pengguna berita di 35 negara, menemukan bahwa menjadikan media sosial sebagai sumber berita utama berkorelasi dengan tingkat kepercayaan berita yang lebih rendah. Temuan ini tidak berarti semua informasi media sosial keliru, tetapi menegaskan pentingnya sumber terverifikasi dan tanggung jawab editorial.
Analisis data 46 negara pada 2015–2023 juga menemukan sedikit penurunan kepercayaan berita, dengan variasi antarnegeri. Dalam situasi ini, Suara ‘Aisyiyah tidak cukup mengejar kecepatan dan jumlah tayangan. Keunggulannya harus dibangun melalui verifikasi, transparansi sumber, ketelitian bahasa, serta pemisahan fakta, opini, dan interpretasi.
Dari Literasi Menuju Kedaulatan Pengetahuan
Tantangan baru hadir melalui Akal Tiruan. Penelitian Fajri Koto, Nurul Aisyah, Haonan Li, dan Timothy Baldwin tentang IndoMMLU menguji 14.981 soal dalam 64 tugas dan menemukan keterbatasan model bahasa besar dalam menjawab pengetahuan Indonesia, termasuk bahasa dan budaya lokal. Dalam pengujian yang diterbitkan pada 2023, GPT-3.5 hanya mencapai tingkat kelulusan sekolah dasar Indonesia. Ini bukan penilaian atas semua sistem Akal Tiruan masa kini, tetapi menegaskan pentingnya data kontekstual Indonesia.
Kita tidak boleh hanya menjadi konsumen teknologi. Artikel bermutu, dokumentasi pengetahuan lokal, istilah konsisten, dan data representatif dapat memperkaya pengetahuan digital. Suara ‘Aisyiyah dapat berkontribusi melalui tulisan berbasis penelitian, pengalaman perempuan dari berbagai daerah, serta pembahasan isu global: pendidikan, kesehatan, kesetaraan, lingkungan, dan perdamaian.
Kajian UNESCO oleh Divina Frau-Meigs mengenai literasi media dan informasi di era Akal Tiruan generatif menekankan pemberdayaan pengguna menghadapi disinformasi, ujaran kebencian, risiko privasi, dan persoalan keandalan sumber. Literasi bukan sekadar menggunakan alat, melainkan memeriksa sumber, menguji klaim, mengenali bias, melindungi data, dan bertanggung jawab atas konten.
Dari Pembaca ke Pencipta Perubahan
Transformasi Suara ‘Aisyiyah perlu diwujudkan melalui tiga langkah. Pertama, memperkuat mutu editorial dengan rujukan terverifikasi, penyuntingan cermat, dan pemisahan fakta dari pendapat. Kedua, mengembangkan penerbitan digital yang mudah diakses serta konten dwibahasa atau multibahasa, agar pengalaman perempuan Indonesia memasuki percakapan dunia tanpa kehilangan konteks. Ketiga, mengukur dampak bukan hanya melalui klik, tetapi juga pemanfaatan gagasan, kolaborasi, dan perubahan nyata.
Generasi Z dan Generasi Alfa harus menjadi pelaku, bukan penonton sejarah. Mereka dapat menulis berbasis bukti, memeriksa informasi, menghasilkan konten edukatif, dan menggunakan Akal Tiruan secara etis. Redaksi perlu bermitra dengan perguruan tinggi, komunitas literasi, media perempuan, dan diaspora, serta membuka ruang bagi penulis muda. Terjemahan harus menjaga makna dan perempuan daerah tampil sebagai produsen pengetahuan. Jangkauan global pun menjadi dialog setara, bukan sekadar perluasan platform.
Arah ini sejalan dengan Darul Ahdi Wasysyahadah, komitmen kebangsaan yang dibuktikan melalui tindakan, serta cita-cita baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur, kehidupan baik yang membawa kemaslahatan.
Pada usia seabad, ukuran keberhasilan Suara ‘Aisyiyah ialah sejauh mana pengetahuan yang diterbitkannya dipercaya, digunakan, dan menggerakkan perubahan.
Suara ‘Aisyiyah telah menyalakan cahaya ilmu selama satu abad. Kini, cahaya itu harus menjangkau dunia: memuliakan Bahasa Indonesia, menguatkan perempuan berkemajuan, dan menghadirkan pengetahuan yang bermanfaat bagi kemanusiaan universal. (*)


























