MAKASSAR, SULAWESI SELATAN (Kabar PROFESIANA.co.id) — Kebutuhan materi pembelajaran Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) tidak hanya berorientasi pada penguasaan struktur bahasa, tetapi juga menghadirkan bahasa Indonesia sebagai praktik komunikasi yang hidup dalam lingkungan sosial budaya masyarakat. Materi BIPA tingkat pemula cenderung bersifat umum dan belum mengintegrasikan konteks komunikasi lokal, padahal pemelajar asing butuh materi kontekstual, komunikatif, dan relevan dengan pengalaman hidup sehari-hari.
Demikian diungkap Ratnawati dalam mempertahankan riset disertasinya di depan Tim Penguji dalam rangka meraih gelar doktor dalam bidang ilmu Pendidikan Bahasa di Program Pascasarjana Fakultas Bahasa dan Sastra (FBS) Universitas Negeri Makassar (UNM) pada Senin (13/7/2026) di Ruang DA Lantai 2 Kampus Parangtambung.
Dalam ujian promosi doktor bertindak sebagai Ketua: Prof.Dr. Anshari, M.Hum., Sekretaris: Prof.Dr. Mantasiah R., M.Hum., Penguji Internal: Prof.Dr. Sultan, S.Pd., M.Pd., Prof.Dr. Idawati, S.Pd., Prof.Dr. Nensilianti, S.Pd., M.Hum., Dr. Asia M., S.S., M.Pd., dan Penguji Eksternal: Dr. Suhailee Sohnul, M.Pd. Dosen dari Chiang Mai University Thailand.
Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan materi pembelajaran BIPA berlandaskan prinsip ekologi bahasa dengan memanfaatkan praktik komunikasi sosial-budaya Sulawesi Selatan sebagai sumber pengembangan materi.
Hasil riset Ratnawati yang pernah berkarier sebagai peneliti di Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Selatan menunjukkan bahwa pemelajar BIPA tingkat pemula membutuhkan materi sederhana, komunikatif, kontekstual, dan dekat dengan situasi komunikasi nyata.
“Praktik komunikasi sosial-budaya Sulawesi Selatan yang relevan sebagai sumber materi pembelajaran, meliputi praktik sapaan, kesantunan, interaksi di pasar, rumah makan, lingkungan pendidikan, tempat tinggal, transportasi, dan ruang publik,” tegasnya.
Dari hasil uji lapangan, menunjukkan bahwa materi pembelajaran mudah digunakan, relevan dengan kebutuhan pemelajar, dan mampu membantu pemelajar memahami penggunaan bahasa Indonesia dalam konteks komunikasi nyata.
Dr. Suhailee Sohnur, M.Pd. dosen dari Chiang Mai University Thailand yang meraih gelar magister Pendidikan Bahasa Indonesia memuji produk bahan ajar yang dikembangkan. Ia berpendapat bahwa bahan ajar ini sangat bermanfaat bagi pemelajar asing untuk mengenal dan memahami bahasa sekaligus budaya masyarakat lokal.
Seusai sanggahan, bantahan, dan klarifikasi dari tim penguji, diputuskan bahwa Ratnawati dinyatakan lulus dengan memeroleh Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,94 dan predikat kelulusan sangat memuaskan dengan masa studi 4 tahun 11 bulan. Ia tercatat sebagi lulusan doktor ke-129 pada Program Studi Ilmu Pendidikan Bahasa (S-3) FBS UNM.
Dekan FBS UNM, Prof. Anshari yang bertindak selaku Ketua Sidang sangat mengapresiasi riset Dr. Ratnawati, S.S., M.Pd. yang dapat memperkuat pembelajaran BIPA di Indonesia pada umumnya dan Sulawesi Selatan pada khususnya. Materi BIPA yang dikembangkan untuk tingkat pemula sehingga bahasa Indonesia yang digunakan sederhana dan memuat situasi komunikasi nyata di masyarakat.
“Bahan ajar yang disusun untuk memenuhi kebutuhan pemelajar asing yang tidak hanya ingin menguasai bahasa, tetapi juga mengenal sosial-budaya masyarakat Sulawesi Selatan. Budaya salah satu materi yang disenangi pemelajar asing. Kehadiran materi BIPA berbasis ekologi bahasa dapat bermanfaat bagi pemerhati dan pengajar BIPA,” pungkasnya. (Ans/Why)


























