JENEPONTO, SULAWESI SELATAN (KabarPROFESIANA.co.id)— Upaya pelestarian bahasa daerah kembali ditegaskan melalui kegiatan Seminar dan Sosialisasi Implementasi Kurikulum Muatan Lokal Bahasa Makassar yang digelar di The Premiere Cafe, Resto dan Resort, Kabupaten Jeneponto, Jumat (24/4/2026) lalu. Kegiatan ini menjadi momentum strategis dalam mendorong penguatan identitas budaya lokal melalui jalur pendidikan formal.
Acara dibuka secara resmi oleh Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Jeneponto, Alamsyah, S.E., M.M. Dalam sambutannya, Alamsyah menegaskan komitmen pemerintah daerah untuk menjadikan Bahasa Makassar sebagai muatan lokal wajib di seluruh jenjang pendidikan. Menurutnya, langkah ini bukan sekadar kebijakan administratif, melainkan bagian dari tanggung jawab kolektif dalam menjaga warisan budaya.
“Bahasa Makassar harus hadir secara sistematis di ruang-ruang kelas. Ini bukan hanya tentang bahasa, tetapi tentang jati diri,” tegas Alamsyah.
Alamsyah juga mengapresiasi kehadiran Penerbit Yudhistira yang dinilai menghadirkan solusi konkret melalui buku Bahasa dan Budaya Makassar. Kehadiran penulis utama buku tersebut, Prof. Dr. Hj. Kembong Daeng, M.Hum., yang merupakan Guru Besar asal Fakultas Bahasa dan Sastra (FBS), Universitas Negeri Makassar (UNM) itu turut memberi nilai tambah tersendiri bagi para guru yang selama ini menantikan referensi ajar yang memadai.
Usai pembukaan, agenda dilanjutkan dengan penandatanganan kerja sama antara Dinas Pendidikan Kabupaten Jeneponto dan Fakultas Bahasa dan Sastra Universitas Negeri Makassar (UNM). Kolaborasi ini diharapkan menjadi fondasi pengembangan kurikulum serta peningkatan kualitas tenaga pengajar bahasa daerah.
Kegiatan yang dihadiri sekitar 150 peserta ini melibatkan berbagai pemangku kepentingan, termasuk Forum Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS), pengurus Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI), serta guru Bahasa Daerah dari seluruh wilayah Jeneponto. Antusiasme peserta terlihat tinggi sepanjang kegiatan berlangsung.
Sosialisasi buku digital turut disampaikan oleh Kepala Bidang Pemasaran PT Yudhistira Cabang Sulawesi Selatan, M. Idris Safa yang menyoroti pentingnya adaptasi bahan ajar terhadap perkembangan teknologi.
Sementara itu, sebagai narasumber utama, Prof. Dr. Hj. Kembong Daeng, M.Hum., menyampaikan rasa syukur atas hadirnya buku Bahasa Makassar yang kini dinilai setara dengan buku mata pelajaran lainnya. Dalam pemaparannya, ia tidak hanya menyampaikan materi secara akademis, tetapi juga menghidupkan suasana dengan mengajak peserta melantunkan *kelong* serta mengupas makna paruntukkana, sebagai bagian dari kekayaan sastra lisan Makassar.
“Bahasa Makassar harus diajarkan oleh tenaga pendidik yang kompeten, dengan dukungan buku berkualitas agar pembelajaran tidak sekadar formalitas,” ujarnya.
Sebagai penutup, panitia menyediakan ruang refleksi bagi peserta melalui pengisian formulir daring, guna menghimpun masukan sebagai bahan evaluasi dan pengembangan program ke depan. (Den/Ans/Why)













