MAKASSAR, SULAWESI SELATAN (KabarPROFESIANA.co.id)-Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia (JBSI) Fakultas Bahasa dan Sastra (FBS) Universitas Negeri Makassar menggelar Workshop Penulisan Buku Referensi Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya secara daring melalui ruang virtual zoom meeting dan luring di Ruang Seminar JBSI pada Rabu (13/5/2026).
Kegiatan ini menghadirkan narasumber Prof. Dr. Maman Suryaman, M.Pd. salah seorang Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dan dipandu oleh pembawa acara sekaligus moderator Atikah Nurul Asdah, S.Pd., M.Pd. yang merupakan dosen JBSI FBS UNM.
Dalam pemaparannya, Prof. Maman menekankan pentingnya budaya riset dan literasi dalam pengembangan akademik dosen maupun mahasiswa. Ia membahas tujuh poin utama dalam penulisan buku referensi, meliputi pendahuluan, penyusunan buku berdasarkan visi dan RPS, hakikat buku, jenis-jenis buku, pentingnya riset, bahasa dalam buku, hingga contoh buku hasil penelitian.
Menurutnya, buku akademik terdiri atas beberapa jenis, seperti buku ajar, monograf, dan buku referensi. Ia menegaskan bahwa penulisan buku tidak dapat dipisahkan dari kegiatan riset karena hasil penelitian memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi karya ilmiah yang bermanfaat bagi masyarakat akademik.
“Yang paling utama adalah bagaimana kita mampu meraih prestasi yang membedakan kita dari yang lain,” ujarnya.
Prof. Maman juga menyoroti potensi karya ilmiah mahasiswa, seperti skripsi, tesis, dan disertasi, untuk diterbitkan menjadi buku. Menurutnya, langkah tersebut tidak hanya menguntungkan mahasiswa sebagai penulis, tetapi juga memberikan dampak positif bagi dosen pembimbing dalam pengembangan akademik.
Selain itu, ia memaparkan data literasi dari CEO World Magazine tahun 2025 terkait jumlah buku yang dibaca masyarakat setiap tahun. Indonesia disebut berada di peringkat ke-31 dunia dengan rata-rata membaca 5,91 buku per tahun atau sekitar 179 jam membaca setiap tahun. Angka tersebut dinilai hampir setara dengan Singapura yang memiliki rata-rata 6,72 buku per tahun.
Melalui data tersebut, Prof. Maman berharap mahasiswa PBSI FBS UNM dapat meningkatkan budaya membaca hingga mencapai rata-rata seperti di Amerika Serikat yang mencapai 17 buku per tahun. Ia menilai budaya literasi yang tinggi akan membawa program studi menjadi lebih unggul dan kompetitif di tingkat nasional maupun internasional.
Ia juga mengaitkan penguatan sumber daya manusia dengan visi Indonesia Emas 2045. Menurutnya, kualitas literasi dan kemampuan akademik mahasiswa menjadi faktor penting dalam mendukung kemajuan ekonomi Indonesia di masa mendatang.
Selain membahas literasi, Prof. Maman turut menyinggung perkembangan artificial intelligence (AI) dalam dunia pendidikan.
“AI akan sangat membantu apabila dijadikan sebagai mitra dalam belajar dan berkarya, bukan ditempatkan lebih tinggi daripada kemampuan manusia,” katanya.
Di akhir pemaparannya, Prof. Maman menampilkan sejumlah karya bukunya, mulai dari kumpulan sastra dan seni hingga buku ajar siswa. Ia juga membacakan puisi berjudul “Sajak Kuno” karya sastrawan sekaligus dosen Universitas Indonesia, Ismail Marahimin.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan sesi diskusi yang berlangsung aktif dan interaktif. Prof. Juanda, Guru Besar Sastra JBSI mengajukan pertanyaan terkait sistem perbukuan, sementara peserta lain di ruang luring membahas persoalan royalti penerbitan buku. Peserta melalui Zoom juga mengangkat topik mengenai penulisan buku, pemanfaatan AI, penguatan literasi, hingga ketersediaan glosarium dan indeks dalam buku. Diskusi berlangsung lancar hingga akhir kegiatan. (Den/Ans/Why)


























