Hari Batik Nasional, 2 Oktober 2025, Begini Sejarah Singkat Batik di Indonesia

- Penulis

Kamis, 2 Oktober 2025 - 10:13 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

MAKASSAR, SULAWESI SELATAN (Kabar PROFESIANA.co.id) — Alhamdulillah, semarak dan semangat memakai batik di kalangan masyarakat Indonesia terus-menerus tidak pernah luntur. Bahkan, warga negara asing, terutama mereka yang bekerja di Indonesia, sudah terbiasa memakai busana batik pada acara formal dan nonformal.

Kapan batik ada di Indonesia? Sumber id.wikipedia.org mengungkapkan bahwa sejarah batik Indonesia terkait dengan perkembangan Kerajaan Majapahit dan penyebaran ajaran Islam di Pulau Jawa. Selanjutnya, pengembangan batik banyak dilakukan pada zaman Kesultanan Mataram, zaman Kasunanan Surakarta, dan Kesultanan Yogyakarta.

Kegiatan batik tertua berasal dari Raja yang masih bernama Wengker sebelum abad ke-7, Kerajaan di Jawa Tengah belajar batik dari Ponorogo. Di kerajaan Majapahit, bangsawan Wengker menempati keraton ri Wengker dekat istana Wilwatikta Majapahit sehingga pengaruh batik Wengker dikembangkan pula oleh kerajaan. Pada masa kerajaan Majapahit, batik hanya digunakan oleh kerajaan dan bangsawan sebagai simbol status sosial.

Teknik batik telah diketahui lebih dari 1000 tahun, kemungkinan berasal dari Mesir Kuno atau Sumeria. Teknik batik meluas di beberapa negara di Afrika Barat, seperti Nigeria, Kamerun, dan Mali, serta di Asia, seperti India, Sri Langka, Bangladesh, Iran, Thailand, Malaysia, dan Indonesia.

Baca Juga :  EPA III Korpala Unhas , Danlantamal: Pesan Indonesia Kekuatan Laut Dunia

Pada abad ke-19, seni batik meluas ke kalangan masyarakat umum dan telah menjadi bagian tidak terpisahkan budaya Indonesia. Kota Solo dan Yogyakarta menjadi sentra pengembangan batik di Jawa.

Hingga awal abad ke-20, batik yang dihasilkan merupakan batik tulis. Batik cap, baru dikenal setelah Perang Dunia I berakhir atau sekitar tahun 1920. Kesenian batik adalah kesenian gambar di atas kain untuk pakaian yang menjadi salah satu kebudayaan keluarga kerajaan di Indonesia pada zaman dahulu.

Bahan pewarna yang dipakai ketika membatik terdiri dari tumbuh-tumbuhan asal Indonesia yang dibuat sendiri antara lain dari: pohon mengkudu, soga, nila. Bahan sodanya dibuat dari soda abu, sedangkan garamnya dibuat dari tanah lumpur.

K.R.T Jardjonagoro atau Go Tik Swan adalah seorang seniman dan budayawan Tionghoa-Jawa yang berperan besar dalam mengembangkan seni batik klasik dan modern. Atas saran Presiden Soekarno, Go Tik Swan menciptakan “Batik Indonesia” dan mengembangkan motif khas, seperti sidoluhur dan sidomukti dengan ornamen bunga dan dedaunan. Ia mendirikan Sekolah Batik Pajang di Solo pada tahun 1960 untuk mengajarkan teknik dan falsafah batik kepada generasi muda.

Baca Juga :  Gubernur Sulsel Dijadwalkan Buka Konferwil GP Ansor Sulsel di Asrama Haji Sudiang

Seni batik menyebar ke berbagai penjuru dunia. Para pedagang Belanda turut berjasa dalam memperkenalkan batik ke luar negeri dengan membawa keindahan dan kerumitan seni batik sehingga menarik perhatian dunia.

Sejarah Hari Batik Nasional bermula pada era pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang menetapkan tanggal 2 Oktober 2009 sebagai Hari Batik Nasional dalam Keppres No.33 tahun 2009 tanggal 17 November 2009.

Penetapan ini bermula saat pemerintah Indonesia mendaftarkan batik sebagai intangible culture heritage (ICH) yang kemudian diterima secara resmi oleh UNESCO sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Benda Lisan dan Nonbendawi pada sidang keempat Komite Antar-Pemerintah di Abu Dhabi tanggal 2 Oktober 2009.

Perkembangan batik di Indonesia sangat pesat, baik dari segi corak maupun ragam. Bahkan, di beberapa daerah sudah mengadopsi dan mengadaptasi batik dengan ciri kelokalan, seperti Batik Simbuk (Banten), Batik Gentungan (Madura), Batik Tanah Liek (Minangkabau), Batik Ulamsari Mas (Bali), Batik Paqbarre Allo (Sulawesi Selatan), dan Batik Tubo (Ternate). (Ans/Why)

Berita Terkait

HUT Ke-49 RSAL Jala Ammari : TNI AL Hadirkan Fasilitas Kesehatan Modern dan Layanan Gratis untuk Masyarakat Umum
BAZNAS Makassar Serahkan 70 Persen Zakat Mall kepada UPZ Nurul Jihad
Ketua IPWI Bersedia jadi Mitra Strategis BAZNAS Makassar
Pendidikan Profesi Bidan Raih Akreditasi Unggul, Kian Perkuat Mutu FKIK Unismuh Makassar
Pimpinan BAZNAS Makassar dan Staff aksi Bersih Bersih
Jelang Sertijab, Ketua BAZNAS Makassar Sidak Seluruh Ruangan
BAZNAS Makassar-Muslimat NU Sunatan Gratis di MTs DDI Al-Amin
Setengah Abad LPM Profesi UNM, Buku “Kita Pernah Tinggal di Dalam Berita” Diluncurkan sebagai Arsip Romantisme Alumni

Berita Terkait

Kamis, 16 Juli 2026 - 16:02 WIB

HUT Ke-49 RSAL Jala Ammari : TNI AL Hadirkan Fasilitas Kesehatan Modern dan Layanan Gratis untuk Masyarakat Umum

Minggu, 12 Juli 2026 - 12:34 WIB

BAZNAS Makassar Serahkan 70 Persen Zakat Mall kepada UPZ Nurul Jihad

Jumat, 10 Juli 2026 - 20:23 WIB

Ketua IPWI Bersedia jadi Mitra Strategis BAZNAS Makassar

Jumat, 10 Juli 2026 - 16:29 WIB

Pendidikan Profesi Bidan Raih Akreditasi Unggul, Kian Perkuat Mutu FKIK Unismuh Makassar

Jumat, 10 Juli 2026 - 10:49 WIB

Pimpinan BAZNAS Makassar dan Staff aksi Bersih Bersih

Berita Terbaru

POLITIK BAHASA

Jati Diri Bahasa Indonesia di Tengah Ledakan Akal Tiruan

Rabu, 15 Jul 2026 - 08:34 WIB