MAKASSAR, SULAWESI SELATAN (KabarPROFESIANA.co.id)— Upaya internasionalisasi bahasa Indonesia kembali diperkuat melalui riset kolaboratif yang melibatkan tiga dosen Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Sastra (FBS), Universitas Negeri Makassar (UNM). Penelitian ini menyoroti peran strategis sikap berbahasa pembelajar dalam mendukung keberhasilan program Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) di kancah global.
Ketua tim pengusul, Dr. Mahmudah, M.Hum., menegaskan bahwa internasionalisasi bahasa Indonesia tidak hanya bergantung pada aspek pedagogis, tetapi juga pada dimensi sikap berbahasa pembelajar.
“Internasionalisasi bahasa Indonesia telah menjadi agenda penting dalam diplomasi budaya Indonesia. Program BIPA memang berkembang pesat di berbagai negara, tetapi keberhasilannya sangat ditentukan oleh sikap berbahasa para pembelajar, mencakup keyakinan, perasaan, dan kecenderungan perilaku mereka terhadap bahasa Indonesia,” ujarnya, Rabu (6/5/2026).
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa sikap positif terhadap bahasa Indonesia merupakan aset strategis dalam memperluas pengaruh global.
“Sikap berbahasa yang positif dapat mempercepat penerimaan bahasa Indonesia sebagai bahasa internasional. Sebaliknya, sikap negatif berpotensi menjadi hambatan serius,” tambahnya.
Dalam konteks kolaborasi internasional, anggota tim pengusul, Prof. Dr. Sultan, S.Pd., M.Pd., menegaskan pentingnya kemitraan lintas negara sebagai pengungkit mutu akademik.
“Kolaborasi dengan Chiang Mai University, J.H. Cerilles State College, dan New Uzbekistan University bukan sekadar kerja sama formal, tetapi menjadi ruang produksi pengetahuan bersama yang memperkaya perspektif global dalam kajian bahasa dan pendidikan. Ini memperkuat posisi Indonesia dalam percakapan akademik internasional,” tegasnya.
Ia juga menyoroti bahwa sinergi tersebut berdampak langsung pada kualitas luaran penelitian.
“Dengan jejaring internasional yang kuat, riset kita tidak hanya relevan secara lokal, tetapi juga memiliki daya saing dan resonansi global,” tambah Prof. Sultan.
Sementara itu, Dr. Nurhusna, S.Pd., M.Pd., menekankan pentingnya hilirisasi hasil riset ke dalam kebijakan.
“Penelitian ini tidak berhenti pada publikasi ilmiah, tetapi juga menghasilkan policy brief yang dapat menjadi rujukan dalam pengembangan program BIPA secara lebih sistematis dan berkelanjutan,” terangnya.
Secara substansial, penelitian ini memberikan kontribusi signifikan terhadap pencapaian Indikator Kinerja Utama (IKU) perguruan tinggi. Dari sisi pengakuan internasional (IKU 4), ketiga dosen berhasil mempublikasikan artikel ilmiah pada jurnal bereputasi internasional terindeks Scopus Q1, yaitu Linguistics and Education dan Journal of Sociolinguistics. Capaian ini memperkuat rekognisi akademik dosen UNM di tingkat global.
Pada aspek kerja sama (IKU 5), keterlibatan tiga institusi luar negeri mempertegas pentingnya kolaborasi internasional dalam meningkatkan mutu penelitian. Sementara itu, IKU 6 tercapai melalui publikasi internasional bereputasi yang membahas sikap berbahasa pembelajar BIPA serta kebijakan bahasa.
Penelitian ini juga berkontribusi pada agenda pembangunan berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui penguatan basis ilmiah pembelajaran BIPA, serta SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) melalui penguatan jejaring global.
Selain itu, ketiga dosen turut berperan dalam penyusunan rekomendasi kebijakan (IKU 8) yang diharapkan menjadi pijakan strategis dalam mendorong internasionalisasi bahasa Indonesia. (Den/Why/Ans)


























