JAILOLO,HALMAHERA BARAT (Kabar PROFESIANA.co.id) – Universitas Khairun (UNKHAIR) Ternate bekerja sama dengan Direktorat Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) Kemendiktisaintek melaksanakan kegiatan Pengabdian Kemitraan Masyarakat (PKM) Desa Mandiri Pangan Lokal Berbasis Sagu di Desa Tuada, Kecamatan Jailolo, Kabupaten Halmahera Barat. Kegiatan ini digelar melalui Skema Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat Tahun 2025, dengan melibatkan kelompok tani lokal sebagai mitra utama.
Tim pelaksana kegiatan dipimpin oleh Nurjanna Albaar, STP., M.Si sebagai ketua, didampingi anggota yaitu Prof. Dr. Johan Fahri, SE., M.PM dan Dr. Hasbullah, STP., MSc. Mitra penerima manfaat adalah Kelompok Tani Marimoi Desa Tuada yang diketuai oleh Bapak Mahfud Muhamad dan dan Kelompok Usaha Huda Ma Guci yang diketua oleh ibu Alwia Hi. Basir, dengan dukungan penuh dari Pemerintah Desa Tuada melalui Kepala Desa, Bapak Hilman Malik.
Dalam kegiatan tersebut, hadir pula Prof. Dr. Hamidin Rasulu, STP., MP, Guru Besar Fakultas Pertanian UNKHAIRTernate, yang membawakan materi tentang pemanfaatan teknologi tepat guna dan diversifikasi produk olahan sagu.
Sementara itu, narasumber lain, Ibu Mila Fatmawati, SE., MSA, memberikan paparan mengenai prospek pasar dan perhitungan nilai ekonomi produk olahan sagu.
Mengangkat Potensi Lokal Sagu
Desa Tuada dikenal memiliki sumber daya alam berupa hutan sagu yang melimpah, namun pemanfaatannya selama ini masih terbatas pada konsumsi tradisional seperti papeda dan bagea. Nilai ekonomi yang dihasilkan pun relatif rendah karena produk sagu dijual dalam bentuk mentah tanpa diversifikasi.
Melalui kegiatan PKM ini, tim pelaksana berupaya mengoptimalkan potensi sagu agar tidak hanya menjadi pangan pokok tradisional, tetapi juga dikembangkan sebagai produk unggulan desa yang bernilai tambah tinggi. Dengan memperkenalkan teknologi tepat guna serta strategi pengolahan modern, masyarakat diarahkan agar mampu meningkatkan kapasitas produksi, menjaga standar mutu, serta menghasilkan beragam produk olahan berbasis sagu.
“Tujuan utama dari program ini adalah menjadikan Desa Tuada sebagai desa mandiri pangan lokal yang dapat mendukung ketahanan pangan dan pembangunan berkelanjutan sesuai agenda MBG/SDGs,” jelas Nurjanna Albaar selaku ketua tim pelaksana.
Transfer Teknologi dan Inovasi
Dalam rangka mendukung kemandirian pangan desa, tim PKM memperkenalkan mesin parut sagu, alat pemeras, mesin pengering, serta teknologi pengemasan modern. Dengan teknologi ini, masyarakat dapat memproduksi pati sagu yang lebih higienis, berkualitas, dan tahan lama.
Selain teknologi keras, program ini juga memberikan inovasi dalam bentuk resep diversifikasi produk seperti telur gabus dari tepung sagu, cookies berupa makron dan produk lainnya berbasis sagu. Inovasi ini ditujukan agar sagu dapat bersaing dengan produk pangan modern dan lebih diminati oleh generasi muda.
Menurut Prof. Hamidin Rasulu, pemanfaatan teknologi tepat guna sangat penting untuk meningkatkan nilai tambah produk. “Dengan inovasi dan penerapan teknologi, sagu tidak lagi hanya dikonsumsi sebagai makanan tradisional, tetapi juga dapat dipasarkan dalam bentuk produk modern yang memiliki daya saing tinggi,” ungkapnya.
Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat
Program PKM ini tidak hanya fokus pada aspek produksi, tetapi juga memperhatikan aspek kelembagaan dan pemasaran. Masyarakat didorong untuk membentuk Kelompok Usaha Bersama (KUB) agar lebih terorganisir dalam mengelola produksi, distribusi, serta pembagian keuntungan.
“Dengan adanya kelembagaan, posisi tawar masyarakat menjadi lebih kuat. Produk sagu Desa Tuada bisa dipasarkan secara kolektif dengan merek dagang ‘Sagu Tuada’ sehingga memiliki identitas dan daya saing,” terang Dr. Hasbullah, anggota tim PKM.
Dari sisi pemasaran, tim memberikan pelatihan digital marketing serta strategi branding agar produk sagu dapat menjangkau pasar yang lebih luas. Produk-produk olahan tersebut sudah mulai diperkenalkan melalui media sosial dan pameran pangan lokal di Jailolo. Sementara itu, Prof. Dr. Johan Fahri, SE., M.PM menekankan pentingnya aspek ekonomi dalam keberlanjutan usaha.
“Jika dikelola dengan baik, produk sagu olahan tidak hanya akan meningkatkan pendapatan masyarakat, tetapi juga membuka peluang usaha baru yang dapat menggerakkan ekonomi desa,” ujarnya.
Dukungan Pemerintah Desa dan Partisipasi Masyarakat
Kepala Desa Tuada, Hilman Malik, menyampaikan apresiasi atas terlaksananya kegiatan PKM ini. Menurutnya, program ini sejalan dengan visi pembangunan desa yang menekankan kemandirian pangan dan pemberdayaan masyarakat.
“Kami berterima kasih kepada Universitas Khairun dan DPPM Kemendiktisaintek yang telah menjadikan Desa Tuada sebagai mitra. Kami berharap program ini tidak hanya berhenti di sini, tetapi terus berlanjut hingga Desa Tuada benar-benar dikenal sebagai desa mandiri pangan berbasis sagu,” kata Hilman Malik.
Partisipasi masyarakat, khususnya Kelompok Tani Marimoi dan Kelompok Usaha Huda Ma Guci, juga terlihat sangat aktif. Anggota kelompok terlibat dalam pelatihan, praktik produksi, hingga uji coba pemasaran. Peran perempuan desa menjadi sangat penting dalam proses produksi olahan, sementara pemuda desa berperan dalam pemasaran digital. (Rus/Ans/Why)













