BANTAENG, SULAWESI SELATAN (KabarPROFESIANA.co.id)- Dosen Universitas Negeri Makassar (UNM) menggelar kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) bertajuk Revitalisasi Karang Taruna dalam Mendorong Partisipasi Sosial melalui Literasi Kritis dan Komunikasi Publik di Desa Bonto Tangnga, Kecamatan Uluere, Kabupaten Bantaeng pada Minggu, 26 April 2026, lalu. Kegiatan ini diikuti oleh sekitar 20–30 anggota Karang Taruna sebagai bagian dari upaya penguatan kapasitas pemuda desa.
PKM ini menghadirkan dua narasumber, yakni Dr. Usman, S.Pd., M.Pd. yang membawakan materi public speaking serta Dr. Andi Karman, S.Pd., M.Pd. yang mengulas literasi kritis. Kegiatan dipandu oleh moderator Muh. Syukri Gaffar, S.Pd., M.Pd., dan berlangsung interaktif melalui sesi diskusi serta praktik langsung.
Ketua Karang Taruna Desa Bonto Tangnga, Khaerunnisa, S.Pd., menyampaikan apresiasi atas pelaksanaan kegiatan tersebut. Ia menilai pelatihan ini menjadi pengalaman baru yang sangat bermanfaat bagi para pemuda di desanya.
“Kami sangat berbahagia dengan adanya kegiatan ini, karena baru kali ini ada pelatihan seperti ini di desa kami. Ini membuka wawasan kami, khususnya dalam membangun kepercayaan diri dan kemampuan berkomunikasi di tengah masyarakat,” ujarnya.
Kepala Desa Bonto Tangnga, Dr. Mahmuddin, M.Pd., turut mengapresiasi inisiatif dosen UNM dalam menghadirkan program pengabdian yang relevan dengan kebutuhan masyarakat desa. Menurutnya, penguatan kompetensi pemuda menjadi kunci dalam mendorong partisipasi sosial yang lebih aktif dan berkualitas.
“Kegiatan ini sangat strategis sebagai bekal bagi Karang Taruna Bontang Jaya. Dua kompetensi yang harus dimiliki adalah public speaking dan literasi kritis. Kehadiran dosen UNM sebagai narasumber menjadi langkah tepat untuk memperkuat kapasitas tersebut,” ungkapnya kepada wartawan KabarPROEFESIANA melalui sambungan telepon (27/4/2026).
Ia juga menyoroti kondisi partisipasi pemuda selama ini yang dinilai masih perlu ditingkatkan, khususnya dalam aspek berpikir kritis dan kemampuan komunikasi publik.
“Alhamdulillah tentunya ini sangat berdampak bagi masyarakat desa. Ini menjadi kekurangan selama ini, pemuda kurang kritis dalam memberikan sumbangsih pemikiran kepada pemerintah desa, termasuk juga dalam hal keterampilan berbicara di depan publik. Kami berharap UNM tidak hanya berhenti pada pengembangan aspek ini, tetapi juga menyasar aspek lain untuk mengembangkan potensi pemuda,” jelas Mahmuddin.
Lebih lanjut, ia menegaskan pentingnya keberlanjutan kolaborasi antara pemerintah desa dan perguruan tinggi sebagai bagian dari strategi pembangunan berbasis pengetahuan.
“Kami berharap ada kerja sama yang berkelanjutan antara kami dengan UNM untuk memastikan kesejahteraan dan literasi pemuda di desa terus berkembang. Saya mengucapkan terima kasih kepada UNM yang telah memilih desa kami sebagai lokasi pengabdian dan memberikan dampak positif,” tambahnya.
Sementara itu, Dr. Usman menekankan bahwa kemampuan berbicara di depan publik bukan sekadar keterampilan teknis, melainkan instrumen penting dalam membangun pengaruh sosial dan kepemimpinan di tingkat lokal.
“Public speaking adalah alat untuk menyampaikan gagasan dan memengaruhi perubahan. Pemuda desa harus berani tampil, menyuarakan ide, dan terlibat aktif dalam forum-forum publik. Dengan keterampilan komunikasi yang baik, mereka bisa menjadi motor penggerak pembangunan di lingkungannya,” ujar Dr. Usman.
Dalam sesi lainnya, Dr. Andi Karman menegaskan pentingnya literasi kritis bagi generasi muda di era informasi saat ini.
“Pemuda tidak cukup hanya aktif secara sosial, tetapi juga harus memiliki kemampuan berpikir kritis dalam memahami informasi. Literasi kritis akan membentuk mereka menjadi agen perubahan yang cerdas dan bertanggung jawab,” jelasnya.
Dosen UNM berharap Karang Taruna Desa Bonto Tangnga mampu bertransformasi menjadi organisasi kepemudaan yang lebih progresif, adaptif, serta berperan aktif dalam pembangunan sosial di tingkat desa. (Rls/Ans/Why)













