MAKASSAR, SULAWESI SELATAN (KabarPROFESIANA.co.id)- Prestasi membanggakan kembali ditorehkan oleh sivitas akademika Fakultas Bahasa dan Sastra (FBS) Universitas Negeri Makassar (UNM). Rabiatul Adawiyah Madawat, S.Hum., M.A., dosen Program Studi Pendidikan Bahasa Arab, berhasil meraih Juara Terbaik 1 Golongan Kaligrafi Digital Putri dalam ajang Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Provinsi Sulawesi Selatan 2026 yang digelar di Kabupaten Maros.
Kompetisi yang berlangsung pada 10–18 April 2026 ini menjadi momen bersejarah, mengingat cabang kaligrafi digital untuk pertama kalinya dipertandingkan secara resmi di tingkat provinsi. Sebelumnya, kategori ini hanya diperkenalkan sebagai ekshibisi pada MTQ Nasional 2024 di Kalimantan Timur. Rencananya, kaligrafi digital juga akan mulai diperlombakan di tingkat nasional pada September 2026 mendatang.
Babak lomba kaligrafi digital sendiri dilaksanakan di Gedung Pola Bupati Maros, dengan tahap penyisihan pada 15 April dan final pada 17 April 2026. Dalam kompetisi ini, peserta tidak hanya dituntut memiliki keterampilan artistik, tetapi juga kesiapan teknis dan mental yang tinggi.
Rabiatul mengungkapkan bahwa persiapannya tidak instan. Selama kurang dari satu tahun, ia menyeimbangkan latihan kaligrafi manual dengan penguasaan teknologi desain digital.
“Saya tetap memperkuat kaidah kaligrafi Arab secara manual, sambil belajar menggunakan aplikasi seperti Photoshop dan Procreate di iPad,” ujarnya kepada wartawan KabarPROFESIANA melalui sambungan telepon, Rabu (22/4/2026).
Menurutnya, tantangan lomba sudah terasa sejak tahap penyisihan. Ayat Al-Qur’an (maqro’) diberikan dua hari sebelum pelaksanaan, sehingga peserta harus mampu memahami makna ayat sekaligus merancang konsep visual secara matang.
Namun, dinamika sesungguhnya terjadi saat hari pelaksanaan. Dari tujuh jenis khat standar Indonesia, panitia mengundi tiga jenis yang wajib digunakan dalam karya.
“Di situ kami benar-benar diuji. Meskipun sudah punya konsep, tetap harus siap beradaptasi dengan jenis khat yang keluar. Waktu pengerjaan hanya delapan jam, termasuk istirahat,” jelasnya.
Tantangan semakin meningkat di babak final. Waktu persiapan dipersingkat karena maqro’ diberikan hanya sehari sebelumnya. Selain itu, proses pengundian khat kembali dilakukan, menuntut fleksibilitas dan kepekaan artistik dalam menyusun komposisi yang tetap harmonis.
Menariknya, proses kaligrafi digital yang dilombakan tidak sepenuhnya dikerjakan secara digital sejak awal. Tahap pertama justru dimulai secara manual, menggunakan handam dan tinta Jepang atau China di atas kertas putih.
“Ketelitian goresan, bentuk huruf, dan komposisi dasar sangat menentukan di tahap ini,” ungkapnya.
Setelah itu, karya dipindai oleh panitia dan masuk ke tahap digitalisasi. Melalui aplikasi desain, peserta melakukan pengolahan lanjutan—mulai dari penyusunan ulang komposisi, pewarnaan, hingga penambahan elemen visual.
“Di situlah letak keindahan kaligrafi digital. Ini adalah kolaborasi antara tradisi dan teknologi. Nilai klasik tetap ada, tapi diperkaya secara visual agar lebih hidup,” tambahnya.
Seluruh proses dikerjakan dalam waktu terbatas dan diawasi ketat. Setelah delapan jam pengerjaan, peserta wajib menghentikan aktivitas dan langsung mengumpulkan seluruh file, mulai dari file mentah desain hingga hasil akhir dalam berbagai format, termasuk scan karya manual. Semua dikumpulkan dalam satu folder dan ditransfer menggunakan flashdisk yang disediakan panitia.
Babak final berlangsung dari pukul 14.30 hingga 22.30 WITA, sementara pengumuman pemenang dilaksanakan pada 18 April 2026. Rabiatul mengaku tidak menyangka saat namanya diumumkan sebagai juara pertama.
“Saya sangat terkejut dan bersyukur bisa menjadi Terbaik 1, apalagi ini adalah kategori perdana di MTQ Sulawesi Selatan,” tuturnya.
Lebih jauh, ia melihat kaligrafi digital sebagai inovasi penting dalam dunia seni Islam. Menurutnya, cabang ini membuka ruang baru yang relevan dengan perkembangan zaman, tanpa meninggalkan akar tradisi.
“Kaligrafi digital bukan menggantikan tradisi, tetapi memperluas cara kita mengekspresikan keindahan ayat Al-Qur’an. Ini juga menjadi peluang bagi generasi muda untuk lebih dekat dengan Al-Qur’an melalui pendekatan yang lebih modern,” pungkasnya. (Den/Ans/Why)













