MAKASSAR, SULAWESI SELATAN (Kabar PROFESIANA.co.id) — Setelah merebak berita di berbagai platform media, ditemukan adanya praktik kecurangan di beberapa perguruan tinggi negeri pelaksana Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK)-Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) 2026, Panitia UTBK-SNBP 712 Universitas Negeri Makassar (UNM) mengadakan rapat evaluasi pada Rabu (22/4/2026) sore di Ruang Rapat Rektorat Lantai 6 Gedung Menara Pinisi.
Pelaksana Tugas (Plt.) Rektor UNM, Prof.Dr. Farida Patittingi, S.H., M.Hum. dengan gerak cepat langsung mengundang seluruh panitia untuk mengikuti rapat evaluasi untuk mengecek apa kendala yang terjadi selama dua hari (4 sesi) pelaksanaan ujian.
“Saya berinisiatif untuk mengadakan rapat yang terkesan mendadak, tapi ini penting agar kejadian kecurangan di tempat lain, yang mungkin saja bisa juga dialami, dapat segera diantisipasi. Hari pertama dan kedua merupakan hari krusial karena teridentifikasi banyak anomali,” ujar Prof. Farida Patittingi beralasan.
Dalam laporannya, Wakil Rektor Bidang Akademik, Prof.Dr. Andi Aslindah,M.Si. selaku ketua panitia, menyampaikan bahwa secara umum pelaksanaan ujian berjalan lancar dan kondusif. Meskipun demikian, temuan tim monitoring dan evaluasi dari pusat, Prof.Dr. Agus Haryanto, M.Kes., untuk menambah kuantitas metal detektor sebagai pemeriksaan utama para peserta perlu menjadi prioritas.
“Tim monev masih mendapati ruangan sangat berdempet, kurangnya pemeriksa perempuan, dan perhatian kepada peserta berkebutuhan khusus. Berkat kerja sama tim monev dan seksi pengawasan, semua kekurangan itu dapat dipenuhi sehingga ujian berjalan lancar,” kata Prof. Andi Aslindah.
Seksi Penjaminan Mutu, Dr. Ismarli Muis, M.Psi., Psikolog menyampaikan bahwa selama dua hari dilakukan pengawasan ekstra ketat karena teridentifikasi sebanyak 85 peserta anomali yang didominasi peserta yang memilih program studi Kedokteran.
Ismarli Muis menyampaikan pula hasil penilaian peserta yang menyatakan pada umumnya baik. Dalam instrumen penilaian yang diisi peserta, di antaranya prosedur pemeriksaan sebelum memasuki ruangan, sikap dan perilaku pengawas di ruangan, dan kondisi kenyamanan dan keamanan ruangan ujian.
Prof. Farida Patittingi di akhir rapat menegaskan agar semua saran dan masukan harus dipenuhi, seperti penambahan panitia pemeriksaan fisik bergender perempuan, penegakan disiplin para pengawas, dan pemenuhan kebutuhan alat metal detektor.
“Masih ada 6 hari pelaksanaan ujian. Karena itu, semua panitia harus berkoordinasi dengan baik agar kendala yang terjadi dapat diselesaikan. Sekali lagi, mari kita deteksi semua potensi kecurangan, pemeriksaan kepada peserta harus diperketat, dan mencegah terjadinya gangguan keamanan,” tutupnya. (Ans/Why)













