Rancang Masuk Kurikulum, JBSI FBS UNM Kaji Linguistik Forensik untuk Pembelajaran dan Penelitian Bahasa

- Penulis

Rabu, 20 Mei 2026 - 06:40 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

MAKASSAR, SULAWESI SELATAN (KabarPROFESIANA.co.id)- Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia (JBSI), Fakultas Bahasa dan Sastra (FBS), Universitas Negeri Makassar (UNM) menggelar Kuliah Dosen Tamu bertema Linguistik Forensik untuk Kepentingan Pembelajaran, Penelitian, dan Bahasa Hukum pada Selasa (19/5/2026) di ruang seminar JBSI. Kegiatan yang berlangsung secara luring dan daring ini menghadirkan narasumber serta diikuti antusias oleh mahasiswa dan dosen.

Workshop tersebut turut dihadiri Ketua Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Prof. Dr. Kembong Daeng, M.Hum., serta Sekretaris Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Dr. Baharman, S.S., S.Pd., M.Hum. Kegiatan ini dipandu moderator Muhammad Musawir, M.Pd. yang juga dosen di JBSI FBS UNM.

Dalam sambutannya, Prof. Kembong Daeng menegaskan bahwa kuliah dosen tamu ini dirancang untuk membuka wawasan mahasiswa mengenai keterkaitan bahasa, hukum, dan penelitian. Menurutnya, linguistik forensik menjadi bidang yang semakin relevan karena menyentuh langsung persoalan hukum dan praktik komunikasi sehari-hari.

“Linguistik forensik memiliki peran besar dalam berbagai persoalan hukum. Karena itu, manfaatkan momen ini untuk memperluas wawasan dan pengetahuan,” ujarnya saat membuka kegiatan.

Pada sesi pemaparan, Dr. Afdhal Kusumanegara, M.Pd. yang menjadi narasumber Kuliah Dosen Tamu di JBSI FBS UNM, menjelaskan bahwa konsep makro dan mikro forensik serta berbagai cabang linguistik dengan fokus utama pada linguistik forensik atau bahasa hukum. Ia menguraikan bahwa istilah forensik awalnya digunakan untuk mengidentifikasi kondisi tubuh atau mayat guna mengetahui penyebab suatu peristiwa, sebelum berkembang ke berbagai disiplin ilmu, termasuk bahasa. Penyampaian materi berlangsung interaktif melalui pertanyaan berbasis web dan permainan voting yang melibatkan peserta. Salah satu topik yang paling menarik perhatian ialah konsep legal language atau bahasa hukum.

Baca Juga :  Webinar Nasional tentang Inovasi Bahan Ajar Akan Digelar Jurusan Pendidikan IPS FKIP Unkhair Ternate, Hadirkan Dua Pakar Teknologi Pendidikan

Menurut dosen UIN Sultan Syarif Kasim Riau itu, persoalan linguistik forensik kerap muncul akibat perbedaan makna antara pembicara dan pendengar yang kemudian berkembang menjadi persoalan hukum.

“Isu forensik muncul ketika makna yang diberikan pembicara berbeda dengan makna yang diterima pendengar hingga akhirnya menjadi persoalan hukum,” jelas Dr. Afdhal.

Ia juga menyoroti pentingnya linguistik forensik dalam dunia pendidikan, khususnya untuk menangani kasus perundungan verbal yang marak terjadi di lingkungan sekolah. Dalam konteks tersebut, linguistik forensik dinilai mampu menjadi pendekatan baru dalam pembelajaran bahasa sekaligus membangun kesantunan berbahasa.

Lebih lanjut, Dr. Afdhal menjelaskan bahwa linguistik forensik memiliki dua tujuan utama, yakni eksekutif dan edukatif. Tujuan eksekutif mencakup penyelesaian perkara hukum melalui analisis linguistik, identifikasi pribadi, hingga mendukung aparat penegak hukum dalam menangani kasus. Sementara itu, tujuan edukatif berfokus pada upaya preventif dan pengembangan pembelajaran berbasis linguistik forensik.

Baca Juga :  Seminar Bullying di Ponpes Nurul Junaidiyah: Upaya Menjaga Kesehatan Mental Remaja Melalui Pendidikan Karakter dan Bahasa Positif

Ia juga memaparkan contoh identifikasi tulisan untuk mendeteksi kejujuran dan kebohongan dalam suatu kasus. Menurutnya, setiap tulisan memiliki karakteristik khas yang dapat dikenali ketika ditulis secara autentik oleh seseorang. Di akhir pemaparannya, Afdhal menegaskan bahwa mahasiswa bahasa memiliki peluang besar untuk berkontribusi di bidang hukum melalui pendekatan linguistik.

Sesi tanya jawab berlangsung aktif. Salah satu peserta melalui Zoom menanyakan kemungkinan kesalahan dalam analisis linguistik forensik. Menanggapi hal tersebut, Dr. Afdhal menjelaskan bahwa dalam suatu kasus biasanya dihadirkan lebih dari satu ahli forensik guna meminimalkan kekeliruan analisis.

Sementara itu, Prof. Kembong Daeng turut mempertanyakan kemungkinan penggabungan linguistik forensik dengan cabang linguistik lain serta kaitannya dengan budaya. Menurut Afdhal, linguistik forensik sangat memungkinkan dipadukan dengan kajian bahasa daerah maupun aspek budaya dalam suatu perkara hukum.

Melalui workshop ini, mahasiswa tidak hanya diperkenalkan pada konsep linguistik forensik, tetapi juga diajak memahami bagaimana ilmu bahasa dapat berkontribusi dalam bidang hukum, pendidikan, dan penelitian secara mendalam. (Den/Ans/Why)

Berita Terkait

Dian Firdiani, Sekretaris LPM UNIMEN Raih Gelar Doktor di UIN Alauddin Makassar Kaji Pembelajaran Biologi Berbasis Augmented Reality
Diseminasi Hasil Riset Kolaborasi The Global Encounters & First Nations Peoples of Australia Monash University Australia dan Universitas Negeri Makassar 
Tim Prodi PGSD FKIP Unsulbar Laksanakan Sharing Best Practice di SDN 1 Saleppa Majene Bahas Inovasi Pembelajaran Berbasis Deep Learning
AKSARA Jadi Panggung Kolaborasi PBSI dan PBSD FBS UNM Lewat Drama, Film, dan Teater
Dipilih Puluhan Mahasiswa UNM, SMAN 1 Gowa Jadi Sekolah Favorit Lokasi Asistensi Mengajar dan Kegiatan Pengabdian 2026
Tim Prodi PGSD FKIP Unsulbar Gelar PKM di SDN 1 Saleppa, Bahas Integrasi Deep Learning dalam Media Pembelajaran
UNM Tegaskan Komitmen Bentuk Satgas PPKPT yang Profesional dan Berperspektif Korban
Prodi PBA FBS UNM Gelar Webinar Internasional Bahas Inovasi Digital dan Metode Pembelajaran Bahasa Arab

Berita Terkait

Rabu, 20 Mei 2026 - 06:40 WIB

Rancang Masuk Kurikulum, JBSI FBS UNM Kaji Linguistik Forensik untuk Pembelajaran dan Penelitian Bahasa

Rabu, 20 Mei 2026 - 06:07 WIB

Dian Firdiani, Sekretaris LPM UNIMEN Raih Gelar Doktor di UIN Alauddin Makassar Kaji Pembelajaran Biologi Berbasis Augmented Reality

Selasa, 19 Mei 2026 - 16:04 WIB

Diseminasi Hasil Riset Kolaborasi The Global Encounters & First Nations Peoples of Australia Monash University Australia dan Universitas Negeri Makassar 

Senin, 18 Mei 2026 - 06:25 WIB

AKSARA Jadi Panggung Kolaborasi PBSI dan PBSD FBS UNM Lewat Drama, Film, dan Teater

Jumat, 15 Mei 2026 - 18:48 WIB

Dipilih Puluhan Mahasiswa UNM, SMAN 1 Gowa Jadi Sekolah Favorit Lokasi Asistensi Mengajar dan Kegiatan Pengabdian 2026

Berita Terbaru