MAKASSAR, SULAWESI SELATAN (Kabar PROFESIANA.co.id.)– Setiap zaman membawa ujian yang berbeda bagi manusia. Dahulu, tantangan lebih banyak berkaitan dengan kekuatan fisik dan peperangan, sementara di era modern ini, ujian muncul melalui informasi dan perkataan.
Hal itu disampaikan Assc. Prof. Dr. Ir. H. Ayuddin, S.T.,M.T., IPU., ASEAN Eng., ACPE. APEC Eng. dalam khutbah Jumat (22/5/2026) di Masjid Nurun ala Nurin Program Pascasarjana (PPs) Universitas Negeri Makassar (UNM).
Ia membahas materi khutbah dan ceramah mengenai literasi media sosial sesuai syariat Islam. Dalam ceramahnya, ia menekankan kewaspadaan menerima berita dan informasi di media sosial. Sebab, tidak semua berita dan informasi itu berisi kebenaran. Hati-hati dengan berita hoaks atau berita bohong.
Dosen Jurusan Teknik Sipil dan Perencanaan (JTSP) Fakultas Teknik (FT) UNM lebih jauh menjelaskan bahwa pesatnya arus teknologi membuat berita tersebar begitu cepat, seringkali sebelum kita sempat menilai benar atau salahnya. Banyak perselisihan, luka hati, dan fitnah lahir karena manusia mudah membagikan informasi tanpa menelusuri kebenarannya.
“Oleh karena itu, kita diingatkan untuk lebih bijak, menahan diri sejenak, memeriksa fakta, dan memastikan kebenaran sebelum mempercayai atau menyebarkan berita,” tegasnya.
Peraih penghargaan Executive Profesional Engineer (IPU) dari Persatuan Insinyur Indonesia (PII) mengutip pesan Rasulullah Saw. dalam hadistnya yang menegaskan bahwa menyebarkan informasi tanpa memastikan kebenarannya termasuk perbuatan pendusta. Pendusta menukar kejujuran dengan keuntungan sesaat, menutupi kebenaran, dan menyesatkan orang lain.
“Kejujuran ibarat cahaya yang menerangi hati dan pikiran, sedangkan kebohongan menutupi fakta dan merusak kepercayaan. Jika ragu terhadap suatu informasi, lebih baik diam daripada ikut menyebarkan kebohongan,” tambah Pakar dan Ahli Struktur Bangunan Ketahanan Gempa Gedung Berlantai.
Ayuddin yang pernah dipercaya menganalisis struktur bangunan Gedung Muktamar Muhammadiyah, Gedung Masjid Kampus Universitas Muhammadiyah Makassar, dan Rumah Sakit Fakultas Kedokteran Unismuh Makassar.
“Dengan demikian, setiap Muslim hendaknya menjaga lisan dan tindakannya, selalu berkata yang benar atau diam, serta menegakkan kejujuran untuk menjaga persaudaraan dan ketenangan hati,” pungkasnya.
Sebelum menutup khutbahnya, Ayuddin berpesan kepada jamaah dan dirinya agar senantiasa meningkatkan iman dan takwa kepada Allah Swt. Karena iman dan takwa, katanya, menjadi bekal di akhirat kelak. (Ans/Why)


























