98 Tahun Sumpah Pemuda: Dari Ketahanan Bahasa menuju Kedaulatan Akal Tiruan

- Penulis

Kamis, 8 Oktober 2026 - 12:36 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Dr. Mahmudah, M.Hum. Dosen Fakultas Bahasa dan Sastra, Universitas Negeri Makassar

 

Dua puluh hari lagi, 28 Oktober 2026, Indonesia memperingati 98 tahun Sumpah Pemuda. Hampir satu abad lalu, pemuda melakukan lompatan peradaban: mengikrarkan satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa persatuan, Bahasa Indonesia. Mereka tidak sekadar merayakan identitas; mereka membangun fondasi Indonesia sebelum negara itu lahir.

Lalu, bagaimana jika pemuda 1928 tidak peduli? Jika Jong Java, Jong Sumateranen Bond, Jong Celebes, Jong Ambon, Jong Batak, Jong Islamieten Bond, dan organisasi lainnya tetap mengutamakan identitas kelompok? Sangat mungkin jalan menuju persatuan Indonesia menjadi lebih panjang dan lebih rapuh. Karena itu, Sumpah Pemuda harus dibaca sebagai bukti bahwa generasi muda dapat mengubah keberagaman menjadi kekuatan kebangsaan.

Penelitian Andrew Simpson tentang Bahasa dan Identitas Nasional di Asia menegaskan bahwa bahasa yang digunakan bersama merupakan unsur penting dalam pembentukan bangsa. Dalam kajiannya tentang Indonesia, Simpson menunjukkan bahwa Bahasa Indonesia dikembangkan sebagai bahasa pemersatu, bahasa pendidikan, dan bahasa resmi, tanpa harus menggusur bahasa ibu. Keberhasilannya menghasilkan generasi yang menggunakan Bahasa Indonesia untuk komunikasi lintas etnis.

J. Joseph Errington juga memperlihatkan bahwa perkembangan Bahasa Indonesia sangat terkait dengan perkembangan Indonesia sebagai bangsa. Bahasa Indonesia yang relatif muda mampu diterima luas sebagai bahasa nasional. Temuan ini menegaskan daya tahan Bahasa Indonesia bukan terutama karena menghapus keragaman, melainkan karena menyediakan ruang komunikasi bersama di tengah keragaman.

Indonesia memiliki cermin menarik: Tanzania. Kiswahili dikembangkan sebagai bahasa nasional di tengah masyarakat multibahasa dan berperan dalam pembentukan identitas kebangsaan.

Pengalaman Indonesia dan Tanzania menunjukkan satu pelajaran: bahasa persatuan tidak harus mematikan bahasa lokal; justru bahasa bersama dapat menjadi jembatan antarkelompok.

Namun, tantangan 2026 berbeda. Jika pemuda dahulu menghadapi fragmentasi kolonial dan identitas, Generasi Z dan Alpha menghadapi fragmentasi ruang digital. Algoritma dapat menciptakan gelembung informasi; disinformasi bergerak cepat; bahasa dapat menjadi jembatan persatuan, tetapi juga dapat diproduksi massal untuk memperbesar kebencian.

Baca Juga :  Kedaulatan Bahasa dan Kedaulatan Negara Pasal 36 UUD 1945 dan Masa Depan Bahasa Indonesia di Era Akal Tiruan

Akal Tiruan menambah persoalan strategis: siapa yang menguasai data bahasa, memiliki pengaruh terhadap cara mesin memahami manusia. Penelitian Alham Fikri Aji dan Trevor Cohn melalui LORAXBENCH menguji 20 bahasa Indonesia dan menemukan kesenjangan performa antara Bahasa Indonesia dan bahasa daerah yang sumber dayanya rendah.

Perubahan ragam bahasa juga memengaruhi kinerja model.

Penelitian Aulia Akhrian Syahidi pada 2026 menunjukkan bahwa Bahasa Indonesia masih relatif kurang terwakili dalam sumber daya pelatihan dan tolok ukur model bahasa besar.

Karena itu, refleksi Sumpah Pemuda harus berubah menjadi aksi: jika pemuda 1928 tidak peduli terhadap persatuan, Indonesia mungkin tidak lahir seperti sekarang; jika Generasi Z dan Alpha tidak peduli terhadap bahasa, data, etika, dan arah Akal Tiruan, Indonesia 2045 dapat menjadi pengguna teknologi tanpa kedaulatan pengetahuan.

Solusinya harus konkret. Pertama, Generasi Z dan Alpha menjadi penjaga persatuan digital: menggunakan Bahasa Indonesia untuk dialog, verifikasi, dan literasi, bukan kebencian. Kedua, menjadi produsen data bahasa: mendokumentasikan bahasa daerah, sejarah lisan, sastra, istilah budaya, dan pengetahuan lokal secara aman serta terkurasi. Ketiga, menjadi pencipta teknologi: membangun korpus, model, mesin penerjemah, aplikasi pendidikan, dan inovasi yang memahami konteks Indonesia. Keempat, menjadi warga algoritmik yang kritis: memeriksa keluaran mesin, mengenali bias, menjaga privasi, menghormati hak cipta, dan tetap menggunakan nalar manusia. Kelima, menjadi pemimpin berkarakter yang menyatukan kecakapan teknologi dengan Pancasila, kebinekaan, gotong royong, keadilan, dan kemanusiaan.

Asta Cita harus diterjemahkan ke dalam ekosistem tindakan tersebut: penguatan manusia, penguasaan sains dan teknologi, pembangunan inklusif, dan penguatan kebangsaan. Kemenpora juga menempatkan Indonesia Youth Summit 2026 sebagai momentum 98 tahun Sumpah Pemuda menuju satu abad pada 2028, dengan pemuda sebagai mitra aktif dalam merumuskan solusi pembangunan.

Baca Juga :  Jati Diri Bahasa Indonesia di Tengah Ledakan Akal Tiruan

Karena itu, sekolah dan kampus harus bergerak dari literasi penggunaan menuju literasi penciptaan. Setiap siswa dapat mendokumentasikan pengetahuan lokal; setiap mahasiswa membangun korpus tematik; setiap komunitas menjaga bahasa daerah; setiap talenta muda mengembangkan solusi berbasis Akal Tiruan.

Pemerintah, perguruan tinggi, industri, dan masyarakat perlu membangun tata kelola data yang terbuka, aman, representatif, dan berpihak pada kepentingan nasional demi kemajuan seluruh warga Indonesia.

Maka, kita tidak memerlukan sumpah baru untuk menggantikan Sumpah Pemuda. Kita memerlukan pembaruan keberanian untuk meneruskan ruhnya. Dahulu: satu tanah air, satu bangsa, satu bahasa persatuan. Kini: satu Indonesia, satu semangat persatuan, dan satu komitmen membangun Ekosistem Akal Tiruan yang berdaulat dan berkeadaban.

Akal Tiruan menjadi rahmat jika memperluas pendidikan, melestarikan bahasa dan budaya, meningkatkan produktivitas, memperkuat ekonomi, serta menyelesaikan persoalan kemanusiaan. Ia menjadi laknat jika digunakan untuk manipulasi, disinformasi, diskriminasi, eksploitasi data, perusakan privasi, dan produksi kebencian.

Karena itu, tugas Generasi Z dan Alpha bukan memilih manusia atau mesin, melainkan memastikan mesin tetap berada dalam orbit kemanusiaan. Jika pemuda 1928 mengubah keberagaman menjadi persatuan, pemuda 2026 harus mengubah teknologi menjadi kemaslahatan.

Dari Sumpah Pemuda menuju kedaulatan data bahasa; dari kedaulatan data menuju kedaulatan pengetahuan; dari kedaulatan pengetahuan menuju kepemimpinan global; dan dari kepemimpinan global menuju Indonesia yang rahmatan lil’aalamiin.

98 tahun lalu, pemuda menyatukan bangsa dengan bahasa. Kini, Generasi Z dan Alpha harus memastikan Akal Tiruan menyatukan pengetahuan untuk memuliakan manusia. Itulah jalan menuju Indonesia Emas 2045: bukan sekadar menguasai teknologi, tetapi mengarahkannya untuk persatuan, keadilan, kemajuan, dan kemanusiaan universal. (*)

Berita Terkait

Saatnya Indonesia Menguasai Data Bahasa: Jalan Strategis Menuju Kedaulatan Pengetahuan dan Kepemimpinan Global
Menata Istilah, Membangun Pengetahuan, Menguasai Masa Depan (Strategi Politik Bahasa Indonesia Menuju Kedaulatan Pengetahuan di Era Akal Tiruan)
KBBI Berdaulat: Mesin Pengetahuan untuk Akal Tiruan Indonesia
Bahasa Baku, Akal Tiruan, dan Darul Ahdi wasy-Syahadah
JANGAN BIARKAN INDONESIA DIPAHAMI MESIN DENGAN BAHASA ORANG LAIN (Membangun Kedaulatan Bahasa Indonesia di Era Akal Tiruan)
Bahasa Indonesia sebagai Tuan Rumah Digital: Kesaksian Kita untuk Indonesia
BAHASA NEGARA TIDAK BOLEH KALAH DI RUANG SIBER (Dari Status Konstitusional Menuju Wibawa Digital Indonesia)
Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur: Perempuan Berkemajuan Mengawal Kemerdekaan melalui Amal Nyata ‘Aisyiyah

Berita Terkait

Kamis, 8 Oktober 2026 - 12:36 WIB

98 Tahun Sumpah Pemuda: Dari Ketahanan Bahasa menuju Kedaulatan Akal Tiruan

Rabu, 30 September 2026 - 18:45 WIB

Saatnya Indonesia Menguasai Data Bahasa: Jalan Strategis Menuju Kedaulatan Pengetahuan dan Kepemimpinan Global

Rabu, 23 September 2026 - 19:35 WIB

Menata Istilah, Membangun Pengetahuan, Menguasai Masa Depan (Strategi Politik Bahasa Indonesia Menuju Kedaulatan Pengetahuan di Era Akal Tiruan)

Rabu, 16 September 2026 - 16:12 WIB

KBBI Berdaulat: Mesin Pengetahuan untuk Akal Tiruan Indonesia

Rabu, 9 September 2026 - 07:43 WIB

Bahasa Baku, Akal Tiruan, dan Darul Ahdi wasy-Syahadah

Berita Terbaru

Ekonomi dan Bisnis

Serahkan Rp101 Juta, Usman Sofian Sebut, BAZNAS Alirkan Zakat Tepat Sasaran

Selasa, 6 Okt 2026 - 14:46 WIB