oleh : Mahmudah, Dosen Fakultas Bahasa dan Sastra Universitas Negeri Makassar
Pernahkah kita menerima jawaban akal tiruan yang terdengar meyakinkan, tetapi ternyata keliru? Atau membaca pengumuman digital yang membingungkan karena kalimatnya tidak jelas? Pengalaman tersebut mengingatkan kita bahwa kecanggihan teknologi belum tentu menghasilkan komunikasi bermutu. Manusia tetap membutuhkan kecermatan berbahasa untuk memahami informasi, menguji kebenaran, dan mengambil keputusan.
Di tengah perkembangan akal tiruan, bahasa Indonesia menghadapi peluang sekaligus tantangan. Bahasa persatuan ini harus semakin berdaya sebagai bahasa ilmu pengetahuan, teknologi, dan inovasi. Mencintainya bukan hanya tanggung jawab ahli bahasa, melainkan kebutuhan seluruh masyarakat untuk menjaga persatuan dan membangun masa depan bangsa.
Cinta Bahasa dalam Kehidupan Sehari-hari
Bahasa Indonesia hadir ketika orang tua mendidik anak, guru menjelaskan pelajaran, pedagang menawarkan barang, pegawai melayani masyarakat, dan generasi muda menciptakan konten digital. Ketepatan berbahasa membantu pesan tersampaikan sesuai tujuan.
Mencintai bahasa Indonesia tidak berarti meninggalkan bahasa daerah atau menolak bahasa asing. Bahasa daerah memperkaya identitas budaya, sedangkan bahasa asing memperluas wawasan global.
Ketiganya dapat berkembang berdampingan sesuai fungsi dan konteks penggunaannya.
Kecintaan terhadap bahasa Indonesia juga tidak mengharuskan setiap percakapan menggunakan bahasa baku. Percakapan keluarga membutuhkan keakraban, sedangkan karya ilmiah, surat dinas, dan pelayanan publik menuntut kejelasan serta ketepatan.
Dalam interaksi dengan akal tiruan, kemampuan merumuskan pertanyaan secara jelas semakin diperlukan. Namun, instruksi yang baik tidak menjamin jawaban mesin benar. Pengguna tetap harus memeriksa fakta, konteks, dan kesesuaian informasi.Oleh karena itu, kecakapan berbahasa perlu berjalan bersama kemampuan berpikir kritis.
Konjungsi Kecil, Makna Besar
Ketepatan berbahasa dapat dipelajari melalui unsur sederhana, seperti konjungsi subordinatif waktu sejak, sedari, dan semenjak. Ketiganya menghubungkan peristiwa berdasarkan titik awal waktu.
Penelitian Nuratin dan Sudaryanto (2024) terhadap cerita Dipati Ukur melaporkan 21 pemakaian sejak, satu pemakaian sedari, dan satu pemakaian semenjak dari keseluruhan 410 data yang dilaporkan. Perbedaan frekuensi tersebut menggambarkan penggunaan dalam sumber yang diteliti, bukan bukti bahwa dua bentuk terakhir telah ditinggalkan masyarakat.
Temuan ini mengajak kita memahami bahasa melampaui hafalan kaidah. Dalam perspektif Linguistik Sistemik Fungsional, bahasa merupakan sumber daya untuk membangun makna sesuai konteks sosial. Bahasa memiliki fungsi ideasional untuk merepresentasikan pengalaman, interpersonal untuk membangun hubungan sosial, dan tekstual untuk menyusun pesan secara padu.
Perhatikan kalimat, “Sejak perpustakaan digital dibuka, masyarakat lebih mudah memperoleh bahan bacaan.” Secara ideasional, sejak menghubungkan awal pembukaan layanan dengan keadaan sesudahnya. Secara tekstual, keterangan waktu di awal kalimat memberikan kerangka bagi informasi utama. Penyampaian yang jelas juga membantu pembaca memahami pesan penulis.
Manfaatnya nyata. Guru dapat menjelaskan kronologi pembelajaran, wartawan menyusun berita yang runtut, pegawai menyampaikan kebijakan secara jelas, dan masyarakat memahami informasi tanpa salah tafsir. Ketepatan konjungsi membantu membangun penalaran, bukan sekadar memperindah kalimat.
Akal Tiruan sebagai Mitra, Bukan Pengganti
Linguistik Sistemik Fungsional juga membantu kita menilai keluaran akal tiruan. Ketika mesin merangkum berita atau laporan, hubungan waktu, sebab, tujuan, dan syarat harus dipertahankan agar makna tidak berubah.
Misalnya, kalimat “Sejak program dilaksanakan, pelayanan meningkat” tidak boleh otomatis diubah menjadi “Pelayanan meningkat karena program dilaksanakan”. Kata sejak menunjukkan hubungan waktu, sedangkan karena menyatakan hubungan sebab.
Perubahan tersebut menghasilkan pernyataan kausal yang belum tentu didukung bukti.
Contoh ini menegaskan pentingnya literasi bahasa dalam penggunaan teknologi. Masyarakat perlu membedakan informasi yang benar, hubungan makna yang tepat, dan kesimpulan yang menyesatkan.
Sekolah dapat membangun laboratorium bahasa digital. Siswa mengumpulkan contoh konjungsi dari berita, cerita, dan media sosial, kemudian menganalisis fungsi serta konteksnya. Akal tiruan membantu mengelompokkan data, sedangkan siswa memeriksa hasilnya berdasarkan bukti. Kegiatan ini memadukan literasi bahasa, literasi digital, dan keterampilan penelitian.
Asta Cita dalam Tindakan Nyata
Pemajuan bahasa Indonesia berkontribusi pada Asta Cita keempat, yang menekankan penguatan sumber daya manusia, sains, teknologi, dan pendidikan menegaskan pentingnya pembangunan manusia dan penguasaan ilmu pengetahuan serta teknologi. Kontribusi kebahasaan perlu diwujudkan melalui langkah terukur.
Pertama, sekolah memperkuat literasi melalui pembelajaran berbasis proyek, penelitian sederhana, dan penyuntingan teks. Kedua, perguruan tinggi mengembangkan korpus bahasa Indonesia sebagai sumber penelitian dan teknologi. Ketiga, pemerintah meningkatkan keterbacaan informasi pelayanan publik agar masyarakat memahami hak, kewajiban, dan prosedur secara tepat.
Keempat, pengembang teknologi meningkatkan kemampuan akal tiruan mengolah bahasa Indonesia, termasuk keragaman kosakata, struktur kalimat, dan konteks budaya. Kelima, keluarga dan komunitas membangun kebiasaan membaca, berdiskusi, serta menghasilkan konten edukatif.
Keberhasilan dapat dinilai melalui mutu tulisan, pemahaman informasi publik, ketersediaan sumber kebahasaan digital, dan kemampuan masyarakat memeriksa keluaran akal tiruan. Dengan demikian, kecintaan terhadap bahasa menghasilkan manfaat yang nyata.
Bahasa Berdaya, Bangsa Bermartabat
Mencintai bahasa Indonesia tidak cukup melalui slogan. Cinta itu hadir ketika orang tua membimbing anak membaca, guru mengajarkan penalaran, mahasiswa menghasilkan penelitian, pegawai menyusun informasi yang jelas, dan generasi muda menciptakan teknologi yang bermanfaat.
Bahasa Indonesia adalah milik bersama. Kita tidak harus menjadi ahli bahasa untuk memajukannya. Setiap orang dapat berkontribusi melalui komunikasi yang santun, tulisan yang cermat, informasi yang benar, dan karya yang memperluas pengetahuan.
Mari rawat bahasa daerah, kuasai bahasa dunia, dan majukan bahasa Indonesia dalam ekosistem akal tiruan. Jadikan bahasa Indonesia kebutuhan sehari-hari, kebanggaan bersama, dan kekuatan inovasi. Sebab, bangsa yang menghargai bahasanya sedang membangun kecerdasan, memperkuat persatuan, dan meneguhkan martabat masa depannya. (*)















