Bahasa Baku, Akal Tiruan, dan Darul Ahdi wasy-Syahadah

- Penulis

Rabu, 9 September 2026 - 07:43 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh : Dr. Mahmudah, M.Hum. Ketua PW ‘Aisyiyah Sulsel ; Dosen FBS UNM

 

Menulis dengan Tertib, Membangun Pengetahuan Bangsa

Pada era Akal Tiruan, setiap kalimat yang kita tulis memiliki makna yang lebih besar daripada sekadar menyampaikan pesan. Bahasa yang kita hasilkan menjadi bagian dari lingkungan pengetahuan digital yang terus berkembang. Oleh karena itu, kemampuan menggunakan bahasa Indonesia secara efektif dan logis perlu dipandang sebagai kompetensi strategis. Tata bahasa baku bukan sekadar aturan untuk menentukan benar atau salah, melainkan perangkat untuk membangun pikiran yang tertib, pengetahuan yang jelas, dan komunikasi yang dapat dipertanggungjawabkan.

Gagasan ini sejalan dengan posisi tata bahasa baku sebagai fondasi “mesin berpikir bangsa” yang telah ditekankan dalam rubrik ini.

Pertanyaannya, seperti apakah bahasa yang efektif dan logis pada era Akal Tiruan? Jawabannya dapat dimulai dari kebiasaan sederhana: menyampaikan gagasan secara tepat, terstruktur, terukur, saling terhubung, dan bertanggung jawab.

Perhatikan kalimat: “Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui tentang pengaruh penggunaan Akal Tiruan terhadap kemampuan menulis mahasiswa.” Kalimat tersebut dapat diperbaiki menjadi: “Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh penggunaan Akal Tiruan terhadap kemampuan menulis mahasiswa.” Perbaikannya tampak sederhana, tetapi menunjukkan ketepatan berpikir. Tujuan penelitian dinyatakan secara langsung melalui kata menganalisis, sedangkan konstruksi mengetahui tentang yang tidak diperlukan dihilangkan.

Dalam bidang teknologi, kita sering menemukan kalimat panjang seperti: “Akal Tiruan yang digunakan oleh mahasiswa dapat membantu dalam proses penyelesaian tugas-tugas akademik yang diberikan oleh dosen.” Kalimat itu lebih efektif apabila ditulis: “Akal Tiruan dapat membantu mahasiswa menyelesaikan tugas akademik secara lebih efisien.” Subjek, predikat, objek, dan tujuan komunikasi menjadi lebih jelas. Kalimat tidak kehilangan makna, tetapi justru memperoleh kekuatan karena tidak dibebani kata yang berlebihan.

Baca Juga :  Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Utama Akal Tiruan Nasional

Demikian pula dalam pendidikan. Kalimat “Mahasiswa yang menggunakan Akal Tiruan harus tetap mempunyai kemampuan untuk berpikir kritis agar tidak selalu tergantung kepada teknologi tersebut” dapat diperkuat menjadi: “Mahasiswa yang menggunakan Akal Tiruan harus tetap mengembangkan kemampuan berpikir kritis agar tidak bergantung sepenuhnya pada teknologi.” Struktur tersebut lebih ringkas sekaligus memperlihatkan hubungan tujuan secara logis.

Dalam bahasa ilmu, ketepatan pilihan kata juga sangat penting. Kalimat “Bahasa Indonesia mempunyai peranan yang sangat penting sekali dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi” lebih efektif apabila menjadi: “Bahasa Indonesia berperan penting dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.” Kata sangat dan sekali tidak perlu digunakan bersamaan. Bahasa yang efektif bukan bahasa yang penuh kata, melainkan bahasa yang mampu menyampaikan gagasan secara tepat.

Hal serupa berlaku pada data kebahasaan. Kalimat “Data bahasa Indonesia yang digunakan untuk melatih Akal Tiruan haruslah merupakan data yang berkualitas dan baik” dapat diubah menjadi: “Data bahasa Indonesia untuk melatih Akal Tiruan harus berkualitas, beragam, terkurasi, dan relevan.” Kalimat kedua lebih informatif karena kualitas data dijelaskan melalui karakter yang dapat diamati.

Kebiasaan tersebut penting bagi pembangunan Akal Tiruan Nasional. Penelitian IndoLEM, IndoBERT, dan IndoNLU menunjukkan pentingnya sumber daya bahasa Indonesia untuk berbagai tugas pemrosesan dan pemahaman bahasa. Penelitian LORAXBENCH dan IndoSafety yang lebih mutakhir juga menunjukkan pentingnya keragaman ragam bahasa, kualitas data, verifikasi manusia, serta konteks sosial-budaya Indonesia. Dengan demikian, kualitas bahasa bukan hanya persoalan pembelajaran di kelas, tetapi berkaitan dengan kualitas ekosistem pengetahuan digital.

Kesadaran ini terutama perlu dimiliki Generasi Z dan Generasi Alpha. Mereka tidak cukup menjadi pengguna Akal Tiruan; mereka perlu tumbuh sebagai pencipta data, pengetahuan, dan teknologi. Setiap artikel, unggahan, karya ilmiah, transkripsi, video, dan dokumen digital yang mereka hasilkan dapat memperkaya lingkungan bahasa Indonesia. Oleh karena itu, menulis dengan tata bahasa baku bukan berarti kehilangan kreativitas. Justru diperlukan kemampuan memilih ragam bahasa sesuai konteks: kreatif dalam ruang ekspresi, tetapi tepat dalam pendidikan, ilmu pengetahuan, pemerintahan, teknologi, dan ruang publik.

Baca Juga :  Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur: Perempuan Berkemajuan Mengawal Kemerdekaan melalui Amal Nyata ‘Aisyiyah

Di sinilah kompetensi dan performansi bertemu. Kompetensi berarti memahami ejaan, kata, kalimat, makna, wacana, dan konteks. Performansi berarti menerapkannya secara nyata. Masyarakat yang mampu melakukan keduanya sedang membangun korpus pengetahuan bangsa sekaligus memperkuat kedudukan bahasa Indonesia sebagai bahasa ilmu, teknologi, pengetahuan, dan Akal Tiruan.

Kesadaran berbahasa tersebut memiliki dimensi kebangsaan dan keumatan. Darul Ahdi wasy-Syahadah menuntut bangsa untuk tidak berhenti pada kesepakatan, tetapi menghadirkannya melalui karya nyata. Penguatan bahasa Indonesia di era Akal Tiruan dapat menjadi salah satu bentuk kesaksian tersebut: mencerdaskan manusia, memperkuat kedaulatan pengetahuan, mengembangkan teknologi, dan menghadirkan kemaslahatan.

Maka, marilah kita mengubah kebiasaan. Jangan sekadar bertanya, “Apakah kalimat saya benar?” Tanyakan pula, “Apakah kalimat saya jelas, logis, bermanfaat, dan dapat dipertanggungjawabkan?” Sebab, setiap kalimat yang kita tulis hari ini ikut membentuk lingkungan pengetahuan yang akan diwariskan kepada Akal Tiruan.

Dari bahasa yang tertib lahir pikiran yang tertata. Dari pikiran yang tertata lahir pengetahuan yang bermutu. Dari pengetahuan yang bermutu lahir Akal Tiruan yang berkemajuan, dan dari manusia yang berilmu, beradab, serta bertanggung jawab, kita dapat menghadirkan Darul Ahdi wasy-Syahadah menuju baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur.

Inilah saatnya bahasa Indonesia tidak hanya digunakan oleh bangsa Indonesia, tetapi dibangun sebagai salah satu fondasi masa depan Akal Tiruan Indonesia. (*)

Berita Terkait

Sumpah Pemuda ke-98: Membumikan Cinta Bahasa Indonesia, Meneguhkan Kedaulatan Bangsa
Bahasa Indonesia Kebanggaan Kita, Kekuatan Bangsa
Bahasa Indonesia Bermartabat, Kepemimpinan Global di Era Akal Tiruan
98 Tahun Sumpah Pemuda: Dari Ketahanan Bahasa menuju Kedaulatan Akal Tiruan
Saatnya Indonesia Menguasai Data Bahasa: Jalan Strategis Menuju Kedaulatan Pengetahuan dan Kepemimpinan Global
Menata Istilah, Membangun Pengetahuan, Menguasai Masa Depan (Strategi Politik Bahasa Indonesia Menuju Kedaulatan Pengetahuan di Era Akal Tiruan)
KBBI Berdaulat: Mesin Pengetahuan untuk Akal Tiruan Indonesia
JANGAN BIARKAN INDONESIA DIPAHAMI MESIN DENGAN BAHASA ORANG LAIN (Membangun Kedaulatan Bahasa Indonesia di Era Akal Tiruan)

Berita Terkait

Kamis, 29 Oktober 2026 - 09:13 WIB

Sumpah Pemuda ke-98: Membumikan Cinta Bahasa Indonesia, Meneguhkan Kedaulatan Bangsa

Jumat, 23 Oktober 2026 - 09:39 WIB

Bahasa Indonesia Kebanggaan Kita, Kekuatan Bangsa

Kamis, 15 Oktober 2026 - 08:42 WIB

Bahasa Indonesia Bermartabat, Kepemimpinan Global di Era Akal Tiruan

Kamis, 8 Oktober 2026 - 12:36 WIB

98 Tahun Sumpah Pemuda: Dari Ketahanan Bahasa menuju Kedaulatan Akal Tiruan

Rabu, 30 September 2026 - 18:45 WIB

Saatnya Indonesia Menguasai Data Bahasa: Jalan Strategis Menuju Kedaulatan Pengetahuan dan Kepemimpinan Global

Berita Terbaru