Bincang bincang Wakil Ketua II BAZNAS Kota Makassar, Dr. Abdul Azis Ilyas, S.Ag, MH (kemeja putih) bersama Staf Ahli Menteri Bidang Ekonomi Maritim, Kemenko Bidang Pangan (Dr. Ir. Sugeng Santoso, M.T). (foto:nyong)
Makassar, Kabar PROFESIANA,co,id:
Wakil Ketua II Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kota Makassar, Dr. Abdul Azis Ilyas, S.Ag, MH mengikuti kegiatan National Studium Generale & Innovation Expo di Kampus Politeknik Negeri Ujungpandang, Rabu, 28 Oktober 2026.
Tiga pemateri, masing masing Staf Ahli Menteri Bidang Ekonomi Maritim, Kemenko Bidang Pangan (Dr. Ir. Sugeng Santoso, M.T), PLH Direktur Hirilisasi dan Kemitraan Kemendiktisaintek (Dr. Adhi Indra Hermanu, M.T, M.M), serta Dewan Pembina Lembaga Sinergi Desa Indonesia (Dr.Jan Samuel Maringka, SH, MH) menyampaikan gagasan gagasan cemerlang.
Dr.Ir.Sugeng Santoso,M.T, misalnya, mengupas tuntas model dan system inovasi bidang pangan, dan solusi alternatif peran perguruan tinggi vokasi dalam transformasi ekonomi dan tata kelola mewujudkan Indonesia emas 2045. Sementara Dr. Adhi Indra Hermanu, M.T, M.M membedah akselerasi hilirisasi riset untuk inovasi komersial dan inovasi sosial, dalam membangun perguruan tinggi inovasi berdampak.
Begitu pula Dr.Jan Samuel Maringka,SH,MH menyangkut penguatan Asta Cita. Ia juga membedah butir perbutir Asta Cita Presiden dan Wakil Presiden tersebut. Butir ke delapan dari Asta Cita misalnya memperkuat penyelarasan kehidupan yang harmonis dengan lingkungan, alam, dan budaya, serta peningkatan toleransi antarumat beragama untuk mencapai masyarakat yang adil dan makmur.
Usai stadium general yang dipandu, Assoc.Prof.Ir.Simaryanti,ST, M.Eng,Ph.D,IPU,ASEAN Eng,APEC Eng tersebut, Wakil Ketua II BAZNAS Kota Makassar, Dr. Abdul Azis Ilyas, S.Ag, MH dikonfirmasi mengemukakan, hajatan akademis National Studium Generale & Innovation Expo 2026 di awal tahun akademik tidak semata seremoni dan menghadirkan pemateri hebat berlevel nasional, melainkan sekaligus momentum penanaman pola pikir, dan pola sikap ribuan mahasiswa baru.
Abdul Azis Ilyas mengaku, dalam pandangan BAZNAS Makassar, seorang mahasiswa tidak semata cerdas secara teknis (hard skills), tetapi sejatinya memiliki kepekaan sosial yang tajam (soft skills dan empati).
Untuk itu, Studium Generale seperti yang dilakukan kampus Politeknik Ujungpandang, adalah panggung di mana visi tentang teknologi berkeadilan harus terus digelorakan. Bagaimana ilmu teknik sipil, akuntansi, atau teknik elektro yang dipelajari mahasiswa dapat menjadi jawaban atas persoalan riil di masyarakat—seperti kemiskinan ekstrem.
Abdul Azis Ilyas berharap, setidaknya pendidikan vokasi seperti di Politeknhik Ujungpandang, juga menyisipkan keahlian teknis dan produk inovatif keumatan. Di mana, mahasiswa didorong untuk tidak semata berinovasi di menara gading, melainkan menciptakan teknologi berupa zakat-friendly (ramah bagi muzakki–pemberi zakat–berkat kemudahan layanan digital yang tersedia kapan saja dan di mana saja).
Dan, ‘pro-poor’ yang berpihak kepada kaum dhuafa, yaitu konsep kebijakan, strategi, atau pertumbuhnan ekonomi yang dirancang khusus untuk meningkatkan kesejahteraan dan mempercapat penurunan angka kemiskinan bagi kelompok masyarakat berpenghasilan rendah.
Saat mendampingi Staf Ahli Menteri Bidang Ekonomi Maritim, Kemenko Bidang Pangan, Dr. Ir. Sugeng Santoso,M.T, meninjau Innovation Expo, Wakil Ketua Bidang Pendistribusian dan Pendayagunaan ini mengemukakan, di sinilah benang merah antara dunia kampus dan BAZNAS mulai tersambung.
“Sebagai lembaga yang fokus pada pengentasan kemiskinan dan pemberdayaan ekonomi umat, BAZNAS Kota Makassar melihat potensi besar pada diri mahasiswa vokasi politeknik. Karya-karya inovatif yang dipamerkan dalam ajang Innovation Expo 2026—mulai dari teknologi tepat guna, digitalisasi UMKM, hingga solusi energi ramah lingkungan—dinilai sangat aplikatif untuk disinergikan dengan program-program pemberdayaan BAZNAS,” urainya.
Menurutnya, mahasiswa politeknik memiliki keunggulan kompetitif dalam hal keterampilan praktis dan inovasi teknologi. Jika inovasi ini dipadukan dengan dana zakat, infak, dan sedekah (ZIS), tentunya bisa melahirkan program-program pemberdayaan ekonomi mustahik yang jauh lebih efektif, mandiri, dan berkelanjutan.
“Dengan melihat karya karya mahasiswa Politeknik Ujungpndang di Expo ini, maka bagi BAZNAS Makassar, inovasi-inovasi ini bukan sekadar proyek akademis untuk memenuhi nilai kelulusan, tetapi sekaligus prototype solusi nyata bagi berbagai persoalan sosial di masyarakat kelas bawah, atau kaum dhuafa,” tutupnya. (din pattisahsiwa/tim media banzas makassar)















