Delapan puluh satu tahun Indonesia merdeka bukan sekadar angka dalam kalender sejarah, melainkan ruang muhasabah kebangsaan: sejauh mana kemerdekaan menghadirkan kedaulatan, keadilan, dan kemakmuran? Kemerdekaan dimulai ketika warga mengisi kebebasan dengan ilmu, moralitas, kerja, solidaritas, dan pengabdian.
Tema “Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur” menegaskan perempuan sebagai pendidik, penggerak keluarga, pelayan masyarakat, sekaligus pembentuk peradaban. Subtema “Perempuan Berkemajuan, Menguatkan Kedaulatan, Menegakkan Keadilan, dan Mewujudkan Kemakmuran Bangsa” memperluas makna kemerdekaan dari pencapaian politik menuju tanggung jawab membangun kehidupan bangsa.
Kemerdekaan bukan kebebasan tanpa arah, melainkan kebebasan yang dipertanggungjawabkan kepada Allah, manusia, bangsa, dan alam. Kemerdekaan politik harus bertransformasi menjadi kemerdekaan berpikir; kemerdekaan berpikir melahirkan kemerdekaan berkarya bermuara pada pengabdian serta kemanfaatan.
Kerangka ini menemukan landasan kuat dalam QS Ali ‘Imran [3]:104: “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung.” Ayat ini mengandung konstruksi transformasi sosial: adanya kelompok terorganisasi, orientasi kepada al-khair, penegakan al-ma‘ruf, pencegahan al-munkar, dan tujuan al-falah. Dalam konteks kebangsaan, al-khair berarti kemanfaatan, al-ma‘ruf memperkuat kehidupan bersama, sedangkan al-munkar merendahkan martabat manusia.
Spirit tersebut menemukan praksis dalam ‘Aisyiyah. Berdiri 19 Mei 1917, jauh sebelum Republik Indonesia, ‘Aisyiyah telah lebih dari 109 tahun menerjemahkan nilai keislaman menjadi gerakan pendidikan, kesehatan, sosial, ekonomi, lingkungan, keluarga, kemanusiaan, dan kebangsaan.
Di Sulawesi Selatan, gerakan itu bertumpu pada 24 PDA, 235 PCA, dan 913 PRA. Kontribusinya meliputi 16 Kelompok Bermain, 355 TK ‘Aisyiyah Bustanul Athfal, 6 SD/MI, 7 SMP/MTs., 5 SMA/MA, 1 Pondok Pesantren Puteri Ummul Mukminin ‘Aisyiyah Wilayah Sulawesi Selatan (PPPUM), 1 ‘Aisyiyah Bording School (ABS), dan 1 Institut ‘Aisyiyah Sulawesi Selatan (INASS); 7 Klinik ‘Aisyiyah, 1 Rumah Sakit ‘Aisyiyah, dan 1 Rumah Gizi; 13 Panti Asuhan, dan 2 Rumah Sakinah; 8 Sekolah Wirausaha ‘Aisyiyah, 2 Kelompok Tani ‘Aisyiyah; serta 4 Lumbung Hidup ‘Aisyiyah.
Gerakan tersebut diperkuat 5 rumah tahfiz, 3 Masjid ‘Aisyiyah, 5 Posbakum, 5 BIKKSA (Bina Keluarga Sakinah ‘Aisyiyah), 3 Daycare Lansia ‘Aisyiyah, dan 9 Qaryah Tayyibah serta Jurnal Pengabdian ‘Aisyiyah Sulawesi Selatan Ammase.
Dakwah berkemajuan bukan sekadar berbicara tentang kebaikan, melainkan melembagakannya agar hadir dalam kehidupan. Menyeru kepada kebajikan diwujudkan melalui pendidikan dan pembinaan manusia; menegakkan ma‘ruf melalui keluarga, kesehatan, ekonomi, lingkungan, dan keadilan; mencegah munkar melalui ikhtiar menghadapi kebodohan, kemiskinan, ketidakadilan, kekerasan, diskriminasi, dan kerusakan lingkungan.
Dalam konteks itu, Pondok Pesantren Puteri Ummul Mukminin (PPPUM) ‘Aisyiyah Wilayah Sulawesi Selatan menjadi laboratorium kaderisasi peradaban. Orang tua santriwati tidak sekadar menitipkan anak untuk memperoleh ijazah, tetapi mengamanahkan pembentukan manusia yang menghubungkan ilmu, iman, akhlak, kompetensi, dan pengabdian. Bagi santriwati kelas XII, kelulusan bukan akhir, melainkan pintu menuju ruang pengabdian luas.
Pertanyaannya bukan hanya “akan menjadi apa?”, melainkan “akan memberi manfaat apa bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan?”
Hal ini penting bagi Generasi Z dan Generasi Alpha yang hidup dalam arus teknologi, banjir informasi, perubahan komunikasi, dan kompetisi global. Tantangannya tidak hanya cerdas menggunakan teknologi, tetapi tidak kehilangan arah ketika teknologi berkembang lebih cepat daripada kebijaksanaan manusia.
Tajdid berarti pembaruan pemikiran dan praksis agar nilai Islam mampu menjawab persoalan zaman. Tujuh karakter Perempuan Berkemajuan—iman dan takwa, taat beribadah, akhlak karimah, berpikir tajdid, bersikap wasatiyah, amaliah sholihah, dan sikap inklusif—menjadi arsitektur generasi masa depan. Iman tanpa ilmu kehilangan daya transformasi; ilmu tanpa akhlak kehilangan arah; kecerdasan tanpa kepedulian melahirkan individualisme; teknologi tanpa tanggung jawab dapat memperbesar kemungkaran digital. Generasi Emas membutuhkan integrasi ilmu, iman, dan akhlak karimah.
PPPUM perlu terus mempertemukan tafaqquh fi al-din dengan literasi sains dan teknologi, berpikir kritis dengan akhlak, kepemimpinan dengan kerendahan hati, serta kompetensi dengan pengabdian. Dengan demikian, santriwati tidak hanya siap bekerja, tetapi menjadi kader Persyarikatan, kader umat, dan kader bangsa yang mampu menghadirkan solusi.
Cita-cita Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur berkelindan dengan visi baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur. Negeri yang baik lahir dari manusia baik, keluarga kuat, pendidikan mencerahkan, tata kehidupan adil, ekonomi berkeadaban, lingkungan terjaga, dan masyarakat yang saling meneguhkan dalam kebaikan.
Memaknai kemerdekaan berarti mengubah pertanyaan “apa yang telah diberikan negara kepada kita?” menjadi “apa yang telah kita lakukan untuk menjaga dan memajukan negeri ini?” Kemerdekaan menjadi energi untuk merdeka berpikir, belajar, berkarya, berinovasi, dan mengabdi—bukan bebas dari tanggung jawab, tetapi bebas mengambil tanggung jawab besar.
Jika keluarga melahirkan manusia berakhlak, maka sekolah melahirkan manusia berilmu, pesantren melahirkan kader berkemajuan, amal usaha menghadirkan kemanfaatan, dan warga negara menjadi bagian dari solusi, kemerdekaan berubah menjadi proyek peradaban. Inilah refleksi QS Ali ‘Imran [3]:104: bukan hanya mengetahui kebaikan, tetapi mengorganisasi kebaikan; bukan hanya mengecam keburukan, tetapi menghadirkan solusi; bukan hanya berbicara tentang perubahan, tetapi menjadi pelaku perubahan. Baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur bukan sekadar impian spiritual, melainkan cita-cita peradaban yang diperjuangkan melalui amal nyata.
Dirgahayu ke-81 Republik Indonesia.
Mari mengawal kemerdekaan dengan ilmu, iman, akhlak, tajdid, wasatiyah, amal sholih, dan sikap inklusif; menjadikan perempuan berkemajuan dan Generasi Z serta Generasi Alpha sebagai subjek pembangunan peradaban Indonesia.
Indonesia berdaulat karena rakyatnya berilmu.
Indonesia adil karena warganya berakhlak.
Indonesia makmur karena kemajuannya menghadirkan kemanfaatan.
Dari ‘Aisyiyah untuk Indonesia: berkemajuan, mencerahkan, dan berkeadaban.
Dr. Mahmudah, M.Hum. Ketua Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah Sulawesi Selatan
Dosen Fakultas Bahasa dan Sastra, Universitas Negeri Makassar


























