SIDRAP/BARRU, SULAWESI SELATAN (Kabar PROFESIANA.co.id) — Upaya menggali nilai-nilai lokal (ritual agraris dan ekologis) dalam mendukung ketahanan pangan dilakukan melalui kajian tradisi lisan Meong Palo Karellae di Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap) dan Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan. Kegiatan tersebut dilaksanakan oleh tim yang terdiri atas M. Ridwan, Yeni Yulianti, Besse Darmawati, Rahmawati, Adri, dan Usman, pada 7–20 Agustus 2026 dari Organisasi Riset Arekologi Bahasa dan Sastra, Badan Riset dan Inovasi Nasional.
Kajian ini menempatkan Meong Palo Karellae sebagai salah satu warisan tradisi lisan yang memiliki keterkaitan dengan kehidupan masyarakat, khususnya dalam memandang pangan, pertanian, lingkungan, dan keberlangsungan kehidupan.
Pelaksanaan kegiatan di dua kabupaten tersebut dilakukan untuk menggali informasi mengenai keberadaan tradisi lisan Meong Palo Karellae serta nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.
Tim juga mengkaji relevansi nilai tersebut dengan persoalan ketahanan pangan yang dihadapi masyarakat saat ini.
Ketahanan pangan tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan makanan, tetapi juga menyangkut kemampuan masyarakat dalam menjaga sumber pangan dan keberlanjutannya.
Dalam konteks tersebut, pengetahuan lokal yang diwariskan secara turun-temurun melalui tradisi lisan dinilai penting untuk dikaji sebagai bagian dari kekayaan pengetahuan masyarakat.
Meong Palo Karellae menjadi salah satu tradisi lisan yang menarik perhatian karena di dalamnya terdapat gambaran mengenai kehidupan masyarakat dan relasinya dengan pangan serta lingkungan.
Nilai-nilai yang terkandung dalam cerita tersebut menjadi bahan penting untuk melihat bagaimana masyarakat pada masa lalu memahami dan menyikapi persoalan kehidupan yang berkaitan dengan sumber pangan.
M. Ridwan bersama Yeni Yulianti, Besse Darmawati, Rahmawati, Adri, dan Usman melakukan pengumpulan data di Kabupaten Sidrap dan Kabupaten Barru selama periode kegiatan. Penggalian data tersebut diarahkan untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam mengenai tradisi lisan Meong Palo Karellae dari masyarakat sebagai pemilik dan pewaris tradisi.
Kegiatan ini juga menjadi bagian dari upaya menghubungkan kebudayaan dengan persoalan aktual masyarakat. Tradisi lisan tidak hanya dipandang sebagai cerita yang diwariskan dari generasi ke generasi, tetapi juga sebagai sumber pengetahuan yang dapat memberikan gambaran mengenai nilai, norma, dan cara pandang masyarakat terhadap lingkungan dan kehidupan.
Dengan mengangkat Meong Palo Karellae dalam perspektif ketahanan pangan, kajian tersebut diharapkan dapat memperlihatkan bahwa upaya menjaga pangan juga memiliki dimensi budaya. Pengetahuan lokal yang tersimpan dalam tradisi masyarakat dapat menjadi salah satu sumber pembelajaran dalam menghadapi tantangan ketahanan pangan pada masa kini.
Pelaksanaan kegiatan di Sidrap dan Barru berlangsung hingga 20 Agustus 2026. Hasil pengumpulan data selanjutnya diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai nilai-nilai ketahanan pangan yang terkandung dalam tradisi lisan Meong Palo Karellae sekaligus mendorong perhatian terhadap pelestarian tradisi lisan sebagai bagian dari warisan budaya masyarakat Sulawesi Selatan. (Rls/Why/Ans)


























