Barru, Sulawesi Selatan (KabarPROFESIANA.co.id)– Pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi melalui Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) dilakukan secara kolektif oleh dosen dari Jurusan Administrasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum, serta Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Negeri Makassar di Poklahsar Kinan Merah Putih, Desa Lawallu, Kecamatan Soppeng Riaja, Kabupaten Barru, 8 Agustus 2026.
Sebanyak sembilan tim dengan fokus keilmuan dan program yang berbeda bergerak secara serentak pada satu lokus dan mitra yang sama. Kegiatan kolektif ini diarahkan untuk menciptakan efektivitas dan efisiensi pelaksanaan pengabdian, sekaligus membangun keterhubungan antarprogram dalam merespons kebutuhan masyarakat.
Seluruh kegiatan memiliki tujuan penguatan yang sama, yaitu meningkatkan kapasitas masyarakat dalam mengelola dan mengembangkan usaha agar mampu bertahan, beradaptasi, dan berkembang di tengah dinamika lingkungan bisnis.
Dalam sesi pembukaan, Kepala Desa Lawallu, Raswady, S.IPem., menyampaikan kondisi dan kebutuhan masyarakat terkait perubahan aktivitas ekonomi dari pemanfaatan sumber daya laut menuju budidaya tambak. Penurunan produksi dan risiko kegagalan panen menjadi tantangan yang mendorong perlunya alternatif pengembangan usaha serta peningkatan nilai tambah hasil perikanan. Kondisi tersebut menjadi salah satu konteks penting bagi pelaksanaan pengabdian.
Sembilan tim hadir dengan fokus masing-masing, meliputi transformasi pengelolaan usaha dan penguatan psikologis pelaku usaha (Tim Dr. Syarifuddin, S.Sos., M.AP), pengembangan dan diversifikasi produk berbasis potensi lokal (Tim Dr. Aris Baharuddin, M.AB; dan Tim Dr. Rezal Hadi Basalamah, S.E., M.A.P), digital marketing (Dr. Asmar, S.Pd., M.Pd), branding (Tim Dr. Maya Kasmita, S.STP., M.AP), literasi dan manajemen keuangan Tim Dr. Asmar, S.Pd., M.Pd.; dan Tim Leonardo Davidsi Sipayung, S.E., MBA), pengembangan karakter womenpreneur berbasis nilai kewirausahaan lokal Bugis-Makassar (Dr. Drs. Andi Muhammad Rivai, M.Si), serta kepemimpinan dan keberlanjutan kelembagaan usaha (Dr. Rudi Salam, S.Pd., M.Pd).
Untuk mengoptimalkan pelaksanaan bersama, berbagai fokus tersebut dirangkum dalam tiga pondasi penguatan, yaitu penguatan kapasitas kewirausahaan dan pengembangan produk berbasis potensi lokal; pemanfaatan teknologi untuk mendukung digitalisasi bisnis; serta penguatan literasi dan pengelolaan keuangan usaha.
Ketiga pondasi disampaikan oleh Dr. Aris Baharuddin, S.Pd., M.A.B., Andhi Febisatria, S.E., M.Sc., dan Eureka Tryzarazwanty R. Laega, S.E., M.SM.
Setelah sesi bersama, masing-masing tim melanjutkan pendampingan sesuai fokus dan kebutuhan mitra. Dengan demikian, kegiatan tidak berhenti pada penyampaian materi, tetapi berlanjut pada proses pendampingan yang lebih aplikatif dan spesifik.
Proses kegiatan berlangsung interaktif, kondusif, dan saling mendukung. Model ini memungkinkan berbagai fokus dan keahlian yang dibawa oleh sembilan tim membangun ekosistem penguatan yang saling melengkapi. Pengembangan produk dapat diperkuat melalui branding dan pemasaran, digitalisasi ditopang oleh peningkatan kapasitas pelaku usaha, sementara keberlanjutan usaha diperkuat melalui literasi dan pengelolaan keuangan, karakter kewirausahaan, serta kepemimpinan.
Sinergi lintas bidang tersebut menunjukkan bahwa pengabdian kepada masyarakat dapat dilakukan tidak secara parsial, tetapi melalui kolaborasi keilmuan yang terintegrasi dengan kebutuhan nyata masyarakat. Bagi perguruan tinggi, pendekatan ini menjadi ruang untuk menghadirkan pengetahuan dan keahlian secara lebih efektif; sementara bagi mitra, kehadiran berbagai tim memberikan penguatan usaha dari berbagai aspek yang saling terhubung. (Rls/Why/Ans)


























