TORAJA UTARA, SULAWESI SELATAN (KabarPROFESIANA.co.id) – Hari pertama studi lapangan Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Daerah FBS Universitas Negeri Makassar di Toraja Utara dibuka dengan pengalaman antropologis yang mendalam. Sejumlah 62 mahasiswa PBSD UNM disambut hangat keluarga pelaksana upacara Rambu Solo’ di Kelurahan Pangala, Kecamatan Rindingallo, Selasa 29/4/2026.
Kehadiran rombongan yang didampingi langsung oleh dosen bidang folklor dan sastra lisan pertunjukan, Dr. Andi Agussalim AJ, S.Pd., M.Hum., bukan sekadar kunjungan observasi. Mahasiswa secara otomatis dilibatkan dalam rangkaian ritual kedukaan tertinggi masyarakat Aluk Todolo tersebut. Keterlibatan ini menjadi pintu masuk untuk memahami teks budaya yang hidup—bukan hanya dari buku, tetapi dari denyut napas komunitasnya.
Kegiatan eksplorasi ini merupakan wujud nyata dukungan Ketua Program Studi PBSD FBS UNM, Dr. Syamsudduha, M.Hum., yang bermitra dengan Balai Pelestarian Kebudayaan Provinsi Sulawesi Selatan. Selain Rambu Solo’, agenda empat hari ini mencakup penjelajahan situs-situs budaya Toraja dengan pendampingan teknis dari Pamong Budaya BPK Sulsel, Arisal dan Simon.
Melalui pengamatan terlibat, wawancara dengan tetua adat dan keluarga pelaksana, serta dokumentasi audio-visual, mahasiswa mencatat struktur, simbol, dan teks lisan dalam ritual Rambu Solo’.
Mereka merekam _badong_—nyanyian ratapan massal—yang sarat metafora duka, kosmologi, dan filosofi _misa’ kada dipotuo, pantan kada dipomate. Data ini menjadi material primer yang urgen bagi mata kuliah Folklor untuk mengkaji sastra lisan sebagai sistem budaya. Bagi mata kuliah Teori dan Apresiasi Puisi, struktur _ma’badong, _ ‘nyanyian penghormatan kepada orang yang meninggal’, dan narasi mitologis yang menyertai ritual membuka ruang analisis estetika puitika tradisi: bagaimana duka diritualkan menjadi bunyi, repetisi, dan citraan yang menggetarkan.
“Mahasiswa tidak hanya mencatat, tetapi merasakan bagaimana sebuah komunitas memaknai kematian sebagai peristiwa sosial dan spiritual. Inilah esensi folklor: pengetahuan yang hidup di tengah pemiliknya,” ujar Dr. Andi Agussalim AJ di sela pendampingan.
Kegiatan ini menegaskan bahwa kampus memiliki tanggung jawab akademik sekaligus kultural. Pelestarian kebudayaan Sulawesi Selatan tidak cukup dengan dokumentasi, tetapi harus melalui perjumpaan generasi muda dengan ma’gauk atau ma’tomate, dan nilai-nilai di balik ukiran _passura’_ atau peti _erong_.
Sinergi antara PBSD FBS UNM dan BPK Sulsel diharapkan menjadi model kolaborasi pentahelix—akademisi, pemerintah, komunitas, media, dan dunia usaha—dalam merawat warisan. Sebab ketika nyanyian ritual ma’badong Toraja, dan sastra lisan lainnya terus dituturkan, dianalisis, dan diapresiasi, maka Sulawesi Selatan tidak pernah kehilangan napas leluhurnya.
Kegiatan studi lapangan akan berlanjut hingga 1 Mei 2026 dengan mengunjungi Tongkonan, situs kubur batu, kubur liang, dan pusat kerajinan di Toraja Utara. (Den/Ans/Why)


























