ENREKANG, SULAWESI SELATAN (Kabar PROFESIANA.co.id) – Biasanya peserta seminar diminta menyimpan ponsel. Di Aula Kampus Universitas Muhammadiyah Enrekang, Kamis (8/10/2026), peserta justru diminta memegangnya. “HP di tangan, bukan di saku,” begitu aturannya.
Aturan itu menandai kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Program Studi Magister Pedagogi Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Palopo bertajuk “Untuk Generasi Z: Cerdas Berteknologi, Berkarakter melalui Bahasa, Sastra, dan Budaya”.
Kegiatan ini dibimbing Harmita Sari, M.Pd., Ph.D., bersama dua mahasiswa Magister Pedagogi, Miptahul Jannah dan Riskawati.
Latar belakangnya jelas. Data APJII 2025 mencatat 87,80 persen Gen Z sudah terhubung ke internet. Namun, terhubung belum tentu cakap.
“Pandai memakai teknologi belum tentu cerdas berteknologi. Cerdas berarti tahu kapan berhenti, apa yang perlu dicek, dan bagaimana kata-kata kita berdampak pada orang lain,” ujar Harmita.
Selama tiga jam, peserta membedah 22 studi kasus yang dekat dengan keseharian mereka: hoaks gempa di grup WhatsApp keluarga, suara ibu hasil kloning AI, undangan pernikahan berformat .APK yang menguras rekening, hingga esai buatan AI yang mengutip buku yang tidak pernah ada. Mereka juga belajar mengirim pesan yang santun kepada dosen, menulis pantun digital, dan bermain Benar atau Hoaks?.
Kearifan lokal menjadi kompas etika digital. Nilai sipakatau, sipakalebbi, dan siri’ na pacce dibahas bersama kekayaan budaya Toraja, Luwu, dan Enrekang, dari tongkonan dan I La Galigo hingga dangke dan kopi Kalosi, sebagai bahan konten yang bernilai.
“Bahasa daerah bukan tanda kampungan, tetapi tanda punya akar,” kata Miptahul Jannah.
Di akhir acara, peserta menyusun proyek konten 60 detik bertema “Satu Konten, Satu Nilai” lalu membacakan ikrar bersama: “Cerdas jarinya, halus bahasanya, kuat akarnya.”
“Teknologi mengubah cara kita bicara, tetapi karakter menentukan apa yang kita katakan,” tutur Riskawati. (Rls/Why/Ans)


























