MAJENE, SULAWESI BARAT (Kabar PROFESIANA.co.id) – Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Universitas Sulawesi Barat (Unsulbar) melaksanakan kegiatan Pengabdian Kemitraan (PK) dengan pendanaan DIPA Universitas Sulawesi Barat Tahun Anggaran 2026 melalui program inovatif SMARTCARE (Smart Career Education): Edukasi Karier Berbasis Flashcard ID di UPTD SLB Negeri Lutang.
Kegiatan yang dilaksanakan pada Selasa, 4 Agustus 2026 pukul 10.00 WITA ini mengangkat tema “Penguatan Peran Lembaga Pendidikan Inklusi Melalui Program SMARTCARE (Smart Career Education): Edukasi Karier Berbasis Flashcard ID di UPTD SLB Negeri Lutang.”
Program Pengabdian Kemitraan ini merupakan bentuk implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi dalam memberikan kontribusi nyata bagi penguatan layanan pendidikan inklusi. Kegiatan ini bertujuan untuk membantu lembaga pendidikan inklusi dalam mengembangkan layanan edukasi karier bagi peserta didik berkebutuhan khusus melalui media pembelajaran yang inovatif, kontekstual, dan mudah diterapkan.
Tim pengabdi dalam kegiatan ini terdiri atas Dr. Fadhil Muhammad, S.Pd., M.Pd. sebagai ketua tim, serta anggota yaitu Dr. Evy Segarawati Ampry, S.Pd., M.Pd. dan Munawir Anas, S.Pd., M.Pd. Ketiganya merupakan dosen Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Universitas Sulawesi Barat.
Ketua tim pengabdi, Dr. Fadhil Muhammad, S.Pd., M.Pd., menyampaikan bahwa program SMARTCARE hadir sebagai upaya memperkuat peran sekolah inklusi dalam memberikan layanan pendidikan yang tidak hanya berfokus pada aspek akademik, tetapi juga pengembangan potensi, keterampilan hidup, dan kesiapan peserta didik dalam menghadapi masa depan.
“Pendidikan inklusi perlu memberikan ruang bagi setiap peserta didik untuk mengenali kemampuan dirinya, mengembangkan potensi, dan memperoleh kesempatan yang sama dalam merencanakan masa depan. Melalui SMARTCARE, sekolah memiliki media pendukung untuk memberikan edukasi karier secara lebih menarik dan sesuai kebutuhan peserta didik,” ungkapnya.
Sementara itu, Dr. Evy Segarawati Ampry, S.Pd., M.Pd. menjelaskan bahwa penggunaan media Flashcard ID menjadi salah satu inovasi pembelajaran yang dapat membantu peserta didik berkebutuhan khusus dalam mengenali identitas diri, minat, bakat, serta berbagai pilihan aktivitas dan keterampilan yang dapat dikembangkan.
Menurutnya, media visual yang sederhana namun interaktif dapat menjadi alternatif strategi pembelajaran yang efektif karena mampu memberikan pengalaman belajar yang lebih konkret, menarik, dan mudah dipahami oleh peserta didik.
Selanjutnya, Munawir Anas, S.Pd., M.Pd. menegaskan bahwa keberhasilan pendidikan inklusi membutuhkan kolaborasi yang kuat antara perguruan tinggi, sekolah, guru, dan masyarakat. Melalui program SMARTCARE, diharapkan guru di UPTD SLB Negeri Lutang memperoleh penguatan dalam memberikan layanan pendampingan karier yang lebih terarah, berkelanjutan, dan sesuai dengan karakteristik peserta didik.
“Pengembangan pendidikan inklusi tidak hanya menjadi tanggung jawab sekolah, tetapi membutuhkan sinergi berbagai pihak agar setiap peserta didik mendapatkan layanan yang mendukung kemandirian dan kebermaknaan dalam kehidupannya,” ujarnya.
Program SMARTCARE dikembangkan melalui pendekatan edukasi karier berbasis Flashcard ID, yang dirancang untuk membantu peserta didik mengenali berbagai profesi, keterampilan, aktivitas produktif, serta membangun pemahaman awal mengenai potensi diri dan pilihan masa depan.
Melalui kegiatan Pengabdian Kemitraan ini, tim pengabdi berharap UPTD SLB Negeri Lutang dapat semakin optimal dalam mengembangkan layanan pendidikan inklusi, khususnya pada aspek pengembangan potensi peserta didik dan kesiapan karier sejak dini.
Kegiatan yang didanai melalui DIPA Universitas Sulawesi Barat Tahun Anggaran 2026 ini menjadi wujud komitmen FKIP Universitas Sulawesi Barat dalam menghadirkan inovasi pendidikan yang berdampak bagi masyarakat serta memperkuat kemitraan antara perguruan tinggi dan satuan pendidikan.
Dengan terlaksananya program SMARTCARE, diharapkan pendidikan inklusi semakin mampu menghadirkan layanan yang adaptif, berkeadilan, dan berorientasi pada kemandirian peserta didik berkebutuhan khusus. (Esa/Why/Ans)


























